Mengenal Teknik Observasi dalam Jurnalistik

OBSERVASI bukan hanya digunakan dalam ilmu pengetahuan seperti psikologi, kedokteran atau lainnya. Jurnalistik juga mengenal teknik ini sebagai salah satu cara untuk mengumpulkan data, informasi dan tanda-tanda (ciri) yang dapat dibuat sebagai catatan penting.

Dalam jurnalistik, observasi menempati posisi penting. Teknik ini menghendaki kita untuk mengamati sesuatu (keadaan, peristiwa, objek tertentu) secara seksama, dengan mengoptimalkan seluruh panca indera yang kita miliki.

Sebuah kebakaran bangunan misalnya, kita dapat mengamati suasana kebakaran, bagaimana orang-orang berusaha memadamkan, bagaimana reaksi orang yang punya bangunan itu, merasakan panasnya api, membaui asap yang menyesakkan, mendengarkan teriakan orang-orang yang minta tolong atau sedang bekerja sama memadamkan api itu.

Jadi, observasi tidak sekadar mengandalkan mata saja untuk melihat. Kita sangat dimungkinkan ber-empati dengan kejadian atau objek yang kita lihat itu. Berempati berarti menempatkan diri kita bila kita dalam posisi dia, jika nasib kita seperti mereka itu.

Rekan dari Kompas pernah menjadi kernet truk karena ingin mengetahui dan menyaksikan sendiri praktik pungli di jembatan timbang. Saya pernah menyamar menjadi suporter bonek untuk melihat bagaimana perilaku bonek sepanjang perjalanan dari Jakarta-Surabaya dengan bus, beberapa waktu lalu.

Yang terakhir, teman dari TVOne ikut kapal Marmara saat menuju Israel dan merasakan sendiri bagaimana ketika terjadi konflik di atas kapal itu dengan tentara Israel.

Hasil observasi langsung akan memberikan kekuatan ketika kamu menuliskan apa yang sudah kamu lihat itu, peristiwa yang kamu saksikan itu. BUKAN mengenai apa yang kamu PIKIRKAN terhadap peristiwa atau objek yang kamu lihat itu.

Observasi dalam jurnalistik terbagi menjadi tiga teknik. Pertama, teknik observasi langsung (partisipasi), kedua, teknik observasi tidak langsung, dan ketiga, observasi diam-diam.

Observasi langsung berarti kita menjadi saksi langsung. Ini sangat menguntungkan, karena kamu dapat melihat, merasakan, mendengarkan, mencicipi dan mungkin membaui, peristiwa itu. Kamu menyerap langsung, sehingga, apa yang kamu dapat, informasi yang kamu peroleh, tidak mungkin terbantahkan.

Jurnalistik sangat menganjurkan observasi langsung karena ini adalah teknik paling powerful guna mendapatkan gambaran untuk mengenai objek atau peristiwa yang terjadi. Observasi langsung akan membantu tulisan kamu menjadi lebih hidup, penuh emosi, dan membuat siapa yang membacanya seolah hadir dalam peristiwa itu juga.

Sementara dalam observasi tidak langsung, kita sendiri tidak terlalu aktif, sifatnya pasif. Misalnya, menonton sepak bola, nonton konser musik, menyaksikan kampanye, melihat kebakaran seperti contoh di atas, dll. Kita tidak dapat terlibat menyatu dengan objek atau peristiwa itu.

Sedangkan dalam observasi diam-diam, kita melakukan pengamatan seksama, dengan tanpa memberikan identitas kita. Kita luruh, menyatu dengan objek yang diamati.

Seorang mahasiswa dari universitas swasta, yang saya tahu, ada yang pernah menyamar menjadi pekerja seks komersial (PSK) di Dolly, karena ingin mengetahu bagaimana kehidupan PSK yang sesungguhnya di lokalisasi paling besar di Asia Tenggara itu. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *