Tidak Ada Salahnya Mengadopsi Cara Kerja Jurnalis

SAYA mau tekankan, kita belajar jurnalistik bukan berarti kemudian hari kamu menjadi jurnalis (wartawan). Kita memelajari jurnalistik di ekstra ini, dengan harapan, kita menjadi kritis, peduli, tentu saja menulis dengan logika yang lebih baik dan runtut.

Seperti profesi lain, kamu harus tahu, jurnalis punya prosedur dan cara, termasuk landasan etika. Yang perlu kamu tahu, wartawan, entah bekerja di surat kabar, majalah, radio, televisi, maupun di internet, beroperasi 365 hari dan 24 jam sehari.

Read More

Seseorang tidak berhenti menjadi wartawan setelah pukul 5 sore seperti layaknya orang kerja kantoran.

Jurnalisme bukan sekadar pekerjaan, tapi sebuah jalan hidup, di mana orang dituntut untuk mencari gagasan baru.

It is not just a job, it’s a way of life and you are always on the look out for a new idea. Jadi, tak ada salahnya ini diadopsi.

Sedikitnya, ada tiga tanggung jawab yang diemban. Pertama, tanggung jawab berdasarkan penugasan (assigned responsibilities).

Di sini, ada atasan yang memberi tugas, perusahaan media yang mempekerjakannya.

Kedua, tanggung jawab berdasarkan kontrak, yakni kepada audiensnya, pembacanya. Dan, ketiga, tanggung jawab yang timbul dari diri sendiri.

Mereka membangun dalam jiwa mereka, untuk berbuat kebaikan demi layanan kepada orang lain (audiens).

Perumpamaan orang Samaria yang baik hati, tepat menggambarkan jiwa layanan wartawan. Tanpa memandang suku dan agama serta tanpa mengharapkan balas jasa, orang Samaria itu menyelamatkan orang Yahudi yang malang dan membebaskan dia dari penderitaan.

Orang Samaria itu bertindak bukan atas dasar profesi tapi atas dasar panggilan hati nuraninya terhadap sebuah peristiwa kemalangan yang ditemuinya.

Wartawan punya tujuan mulia. Paus Johanes Paulus II mengatakan,”Dengan pengaruh yang luas dan langsung terhadap opini masyarakat, jurnalisme tidak bisa dipandu hanya oleh kekuatan ekonomi, keuntungan dan kepentingan khusus.

Jurnalisme haruslah diresapi sebagai tugas suci, dijalankan dengan kesadaran bahwa sarana komunikasi yang sangat kuat telah dipercayakan kepada Anda demi kebaikan orang banyak.

Demi kebaikan dan tidak menyakiti pihak lain (primum non nocere), jurnalis punya standar etika. Kredibilitas menjadi pegangan apa yang diucapkan, dilakukan, dan ditulis. Jurnalis dituntut teliti, sebuah nilai dasar yang harus diterapkan tanpa syarat.

Akurat berarti kita mendapatkan informasi yang pasti, yang tidak bisa dibantah. Jurnalis harus sadar bahwa menduga, mengira, dan ceroboh dapat membawa bencana.

Pentingnya akurasi tak dapat diperdebatkan, sebab berita yang tidak akurat dapat mengakibatkan tuntutan hukum, dan media yang tidak akurat akan kehilangan kredibilitas, yang akhirnya kehilangan prestise.

Jurnalis bekerja dalam tekanan waktu. Mereka harus akurat tapi dibatasi oleh deadline. Namun prinsipnya tetap ‘Get It First, But First Get It Right’. Jadilah yang pertama untuk mendapatkan berita, tap yang utama berita itu harus benar.

Akurasi dalam reportase bagi jurnalis juga berarti tidak menambahkan sesuatu yang tidak ada, tidak menipu pembaca, sebisa mungkin transparan dengan metode dan motifnya, percaya pada keaslian reportase sendiri dan rendah hati. (*)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *