Pada Akhirnya yang Terbentuk adalah Insting atau Naluri Berita

KALAU kamu mau berlatih, mengikuti dengan baik latihan di kelas, mengerjakan tugas di rumah dan melaksanakan latihan di luar kelas, kamu secara tidak sadar melatih kemampuan naluri panca inderamu.

Dengan fokus dan detail, kamu akan dapat membedakan mana informasi yang menarik, dan mana yang bukan.

Ada orang yang bisa memandang, tapi tidak melihat (look but do not see). Ada pula yang mendengar tapi tidak menyimak (hear but do not listen). Detail yang tidak tampak inilah yang membedakan informasi menarik dan bukan.

Nothing can become something, selalu ada cerita di balik informasi yang muncul ke permukaan.

Gunakan akal sehatmu untuk mendapatkan hal itu. Deems Taylor (1885-1966) bercerita, saat pertama kali jadi kritikus musik untuk World, koran di New York. Taylor datang ke pertunjukkan opera.

Ternyata, primadonanya menenggak racun di kamar hotel sehingga pertunjukkan batal. Ia pulang lalu tidur.

Tengah malam ia dibangunkan oleh editornya yang marah besar karena koran lain memuat berita bunuh diri sang primadona di halaman muka.

Taylor menganggap ia harus meliput opera. Nah, karena operanya batal, ia berpikir pekerjaannya sudah selesai, dan pulang.

Kalau Taylor menggunakan akal sehatnya, dan membuka pikiran serta rasa ingin tahunya, tentu ia tidak begitu saja pulang. Ia bisa langsung ke tempat kejadian untuk memastikan benar tidaknya kematian si primadona.

Rasa ingin tahu, ya, rasa ingin tahu, adalah senjata bagi jurnali yang harus selalu diasah.

Kalau Einstein tidak keheranan dengan buah apel yang jatuh ke tanah, maka tidak akan ada rumus gravitasi. Kalau orang tidak ingin tahu rasanya terbang seperti burung, maka Wright bersaudara tidak mungkin menciptakan pesawat terbang.

Keingintahuan melahirkan kreativitas. Kreativitas menghasilkan imajinasi, ketekunan dan semangat. Jurnalis, atau, kalau kamu memelajari apa saja, tirulah cara kerja ini, agar selalu mengambil inisiatif sendiri, untuk menjadi kreatif.

Tidak perlu menunggu penugasan, tapi kembangkan gagasan-gagasanmu sendiri.

Mark Potter, wartawan televisi ABC, menghadapi jalan buntu ketika hendak mewawancarai pengungsi Haiti di Miami.

Mereka tidak mau bicara karena kebanyakan adalah pendatang ilegal, dan mereka mengira Potter adalah pejabat imigrasi yang akan memulangkan mereka.

Potter tidak putus asa dan mencari akal untuk menembus kebuntuan itu. Akhirnya, ia berhasil menghubungi pekerja sosial yang sudah mendapatkan kepercayaan dari masyarakat Haiti ini.

Pekerja sosial itu memperkenalkan Potter dengan seorang Haiti, namun ia tidak mendapatkan informasi yang diinginkan. Tapi, dari orang Haiti ini, Potter dikenalkan pada saudaranya dan dari saudaranya itu, Potter bisa mewancarai banyak pengungsi lain. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *