Inilah Tiga Tipe Dasar Observasi dalam Jurnalistik

DALAM jurnalistik, setidaknya ada tiga tipe dasar observasi, yakni observasi partisipan, observasi nonpartisipan dan observasi diam-diam. Dalam observasi partisipan, kamu terlibat langsung dengan peristiwanya.

Kalau ingin mengetahui adanya pungutan liar dalam sistem angkutan umum, kamu bisa melamar menjadi kernet truk. Misalnya, untuk jurusan Surabaya-Jakarta. Dalam perjalanan, kamu dapat mengamati, apa yang terjadi.

Kamu catat, berapa kali bertemu dengan pos penjagaan polisi, dan berapa kali kamu disuruh sopir memberikan uang.

Saat berhenti malam hari di warung-warung langganan sopir, kamu dapat menyaksikan kehidupan malam di warung-warung persinggahan itu.

Dengan observasi partisipan ini, apa yang dilihat, tidak dapat dibantah lagi, karena kamu adalah saksi utamanya. Kamu amat sangat dekat dengan objek yang kamu amati. Dengan dengan kenyataan. News is real. Tahu persis detailnya.

Dalam observasi, identitas bisa disembunyikan, tapi boleh juga diketahui orang lain. George Plimpton (1927-2003), pengarang ‘Paper Lion : Confessions of a Last String Quarterback’, pernah menyamar sebagai atlet American Football di tim Detroits Lions.

Benar, para pemain di tim merasa heran. Kenapa orang yang tidak berbakat bisa masuk tim. Walhasil, kedoknya terbongkar. Namun, terbongkarnya kedok Plimpton tidak menjadi masalah. Malah, Plimpton leluasa bergerak di antara para pemain dan mengajukan berbagai pertanyaan.

Untuk observasi nonpartisipan, lebih mudah. Ini pula yang paling banyak dilakukan. Kita tidak perlu aktif, pasif saja, karena tidak terkait langsung dengan peristiwanya.

Observasi nonpartisipan misalnya, melaporkan kebakaran. Demikian pula, menyaksikan bedah otak, meliput sepak bola, atau hadir di ruang darurat rumah sakit pada malam tutup tahun menunggu korban kecelakaan lalu lintas.

Pada dua kategori observasi di atas, orang bisa mengetahui kehadiran kamu walaupun tidak selalu identitasnya. Nah, dalam observasi diam-diam, kamu beroperasi bagaikan seekor tikus (mouse in the corner concept).

Kalau terlalu bingung, anggaplah dirimu seperti ‘Hollow Man’. Kamu bisa hadir di sebuah warung kopi atau bar dan menguping topik pembicaraan para pengunjungnya.

Observasi diam-diam ini terutama berguna untuk mewarnai latar belakang sebuah cerita yang ingin kamu buat. Misalnya, tingkah laku penonton pertandingan sepak bola. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *