Mutu Tulisan Tergantung dari Mutu Sumber Beritanya

SUMBER berita penting untuk mengembangkan cerita atau memberikan makna dan kedalaman suatu peristiwa atau keadaan. Mutu tulisan tergantung dari mutu sumbernya. Semua sumber, baik itu orang, catatan, dokumen, referensi, buku, kliping dan sebagainya, yang digunakan haruslah disebutkan asalnya, atau identitasnya. Kalau tidak, itu berarti itu suatu tindakan plagiat.

Jurnalis yang ingin menulis cerita harus melalui jalan panjang dan terjal sejak bergerak dari suatu gagasan orisinal sebuah cerita atau penugasan hingga pada produku tulisan akhir.

Kamu bukan Dora, The Explorer, jadi tidak ada peta yang eksplisit untuk membantu kamu sepanjang jalan. Butuh strategi kreatif karena ada banyak rambu penunjuk yang harus dicek.

Menyinggung kembali tulisan awal, rambu yang harus dicek itu adalah :

  • observasi langsung dan tidak langsung dari situasi.
  • proses wawancara.
  • pencarian atau penelitian bahan-bahan melalui dokumen publik.
  • partisipasi dalam peristiwa.

Keempat hal di atas merupakan sumber berita, yang menjadi detak jantung dari jurnalisme. Kalau kamu mengadopsi cara jurnalis bekerja, berarti kamu harus mengembangkan sumber. Kamu harus tahu banyak.

Artinya apa? Artinya, kamu harus tahu ke mana mencari informasinya, siapa yang harus ditanya. Nah, ini perlu diingat, untuk pengembangan sumber ini, kontak menjadi sangat penting.

Saya selalu menekankan, bagaimanapun kamu diberi talenta mengingat yang sangat baik, sebaiknya kamu selalu mencatat. Nah, catat kontakmu itu : nama, profesi, alamat, nomor telepon dan keterangan lain dari sumber berita.

Mengenai sumber berita, ada yang membahayakan atau menimbulkan kerugian bagi kamu, terutama sumber yang tidak mau disebutkan namanya. Sumber anonim ini disebut juga sumber buta (blind source).

Banyak jurnalis Amerika dipenjara atau didenda sejak 1958 karena menolak menyebutkan nama sumber berita yang dilindunginya di sidang pengadilan.

Jurnalis pertama yang dipenjara 10 hari adalah Marie Torrie, kolumnis radio-TV untuk New York Herald Tribune. Ia menolak menyebutkan sumber berita, seorang eksekutif di CBS, yang mengatakan bahwa bintang film dan penyanyi Judy Garland disingkirkan dari program CBS karena kegemukan.

Ada juga sumber rahasia yang terkenal, yakni Deep Throat. Nama ini diberikan jurnalis Washington Post, Robert Woodward dan Carl Bernstein, kepada sumber anonim yang membantu membongkar kasus Watergate, yang melengserkan Presiden Nixon.

Kasus ini kemudian kerap dikutip oleh jurnalis jika mereka berargumentasi untuk hak melindungi sumber rahasia tertentu.

Meski begitu, penggunaan sumber anonim sangat riskan, karenanya Joe Lelyveld, editor pelaksana New York Times, memberi syarat.

Sebelum memakai sumber anonim, Lelyveld mengingatkan jurnalis dan editornya bertanya pada diri sendiri :

  • Sejauh mana sumber anonim itu memiliki pengetahuan langsung tentang peristiwa itu?
  • Motif apa, jika ada, yang mungkin dimiliki sumber yang bisa menyesatkan kita, berbohong, atau menyembunyikan fakta penting, yang mungkin bisa mengubah kesan kita tentang informasi itu?

Deborah Howell editor surat kabar Newhouse di Washington, menambahkan dua pegangan lain : jangan pernah menggunakan sumber anonim untuk menyampaikan suatu opini tentang orang lain dan jangan pernah memakai sumber anonim sebagai kutipan pertama dalam sebuah cerita.

Sedangkan Associated Press Managing Editors Freedom of Information committee menetapkan :
*Dalam setiap tulisan investigasi atau yang sensitif, usahakan sedapat mungkin agar sumber itu ‘on the record’. Sumber harus jelas.

  • Bila sumber tetap menolak, tanyakan apakah ia setuju tetap dirahasiakan kecuali bila menghadapi tuntutan hukum.
  • Bila kedua usaha itu gagal, maka jurnalis membicarakannyadengan editor atau yang memberi penugasan dan pengacara. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *