Belajar Trik Wawancara dari Jurnalis Eagle Tribune

DIA adalah jurnalis Laurence (Mass) Eagle Tribune. Walsh berbulan-bulan berusaha untuk bisa mewancarai seorang narapidana bernama William R Horton Jr, yang dihukum karena pembunuhan.

Akhirnya, pengacara Horton memberinya izin dan Walsh pergi ke penjara, bertemu dengan Horton. Disinilah, wartawati itu mendapat pelajaran yang pahit.

Horton sedang menjalani dua hukuman seumur hidup, ditambah 85 tahun di penjara Massachusetts karena membunuh seorang karyawan pompa bensin. Ia juga melakukan kejahatan lain ketika sedang cuti di luar penjara.

Pada waktu itu, Horton memasuki sebuah rumah di Maryland, berulang-ulang menusuk pemilik rumah dan memperkosa tunangannya dua kali.

Walsh datang ke penjara dan mewawancarai Horton melalui sebuah jendela yang memisahkan mereka. Pertanyaan pertama yang dilontarkan wartawati ini adalah sebuah serangan. “Buset, bagaimana kamu bisa keluar cuti?”

Serangan itu membuat Horton ingin membatalkan wawancara. (Di kemudian hari, Walsh mengakui, ‘serangan’ itu merupakan tindakan yang paling bodoh yang pernah ia lakukan).

Walsh berusaha menyelamatkan wawancara itu. Ia mengalihkan kepada hal yang ingin didiskusikannya. “Saya bertanya padanya, apa yang Anda ingin katakan kepada saya?”, dan Horton kemudian menyahut,”Saya bukan monster. Kalian (pers) telah mengecap saya sebagai monster.”

Wawancara itu akhirnya berlanjut sampai dua jam. Pada akhirnya, Walsh memang kembali pada pertanyaan-pertanyaan yang keras, yang ingin diajukannya kepada Horton.

Tulisan Walsh mengenai program cuti dari penjara di Massachusetts ini memenangkan hadiah Pulitzer 1988, hadiah tertinggi di bidang karya jurnalistik tingkat dunia, selevel dengan Nobel.

Dalam wawancara dengan Horton, Walsh mendapat pelajaran yang berharga dalam teknik wawancara : Simpanlah pertanyaan-pertanyaan keras untuk yang terakhir. “Saya telah belajar untuk benar-benar pelan dan sabar,” katanya.

Walsh melanjutkan, “Saya cenderung membiarkan orang untuk bicara lebih lama. Anda mungkin tidak akan menggunakan semua informasi yang Anda dapat, tapi Anda bisa melukai perasaan mereka bila Anda terburu-buru.”

Walsh menegaskan, kunci menuju wawancara yang baik adalah mendengarkan dengan baik. “Kalau Anda tulus dalam wawancara, dan sumber berita tahu Anda punya rasa empati, mereka akan bicara. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *