Narasi sebagai Salah Satu Gaya Bercerita dalam Jurnalistik

SUATU perkembangan terbaru dalam penulisan feature, adalah penemuan kembali dari gaya bercerita (narasi) sebagai struktur cerita yang efektif. Narasi pernah dianggap kuno oleh jurnalis sejak ada telegraf yang memaksa jurnalis menulis berita dengan gaya piramida terbalik.

Narasi merupakan gaya penulisan mengenai pengalaman reflektif seseorang, dari suatu situasi atau masalah yang lebih luas. Narasi menggambarkan pesona universal dari bercerita supaya pembaca tetap terlibat (membaca).

Untuk bercerita itu, kamu perlu melibatkan dua dasar penulisan. Pertama, penulisan deskriptif, terutama melalui detail-detail yang konkret. Di sini digambarkan karakter, suasana, atau peristiwa (ingat pelajaran dan latihan observasi).

Kedua, penulisan narasi yang menceritakan suatu cerita melalui tindakan, kata-kata, dan perasaan tokohnya. Dalam pengertian bercerita, narasi itu merekonstruksi (menceritakan kembali) suatu peristiwa dan menempatkan pembaca dalam suasana kejadian sehingga pembaca seperti merasakan sendiri apa yang terjadi.

Carole Rich, penulis buku ‘Writing and Reporting News’ menegaskan, penulisan narasi bukanlah fiksi. Kamu harus tetap berpegang teguh pada fakta walaupun ceritanya seperti sebuah novel.

Kamu perlu menanyakan pertanyaan-pertanyaan seperti : Apa yang terpikir oleh kamu saat itu? Apa yang kamu pakai? Apa yang kamu lakukan? Apa harus mendapatkan detail tentang warna, suara, penglihatan, bau, ukuran, bentuk, waktu, dan tempat?

Kalau kamu menyaksikan sebuah peristiwa, kamu akan melihat, mendengar, mencium dan merasakan, mungkin malah mencicipi, pengalaman dari subjek kamu. Karena kamu merekonstruksi peristiwa, kamu perlu mengajukan pertanyaan yang akan merangsang semua bayangan atau gambaran itu.

Coba simak tulisan Donald C Drake, editor narasi dari Philadelphia Inquirer mengenai perempuan yang menderita kanker stadium akhir. Si perempuan meminta kepada keluarganya untuk melepaskan ventilator yang membuatnya bertahan hidup.

Keluarga dari perempuan yang tengah menghadapi kematian itu, sudah berkumpul di ruang rapat unit gawat darurat rumah sakit. Sebentar lagi, para dokter dan perawat akan datang untuk mendiskusikan keadaan perempuan itu, dan kemudian keluarganya harus menentukan apa yang akan dilakukan.

Ada tujuh orang semuanya, putri perempuan itu, lalu putranya, menantu perempuan, dan dua kakak laki-lakinya beserta istri mereka. Mereka duduk di meja rapat yang panjang di ruang rapat yang steril dengan sebuah papan tulis dan sebuah mikroskop. Di dinding terdapat kotak-kotak terang dengan X-ray yang menggambarkan paru-paru perempuan itu.

Kanker yang sedang menggerogoti Sarah Rosen, 63, dari Glenn Street Blok 1100, telah menjalar dari ginjal ke paru-paru, dan obat kanker yang teruji sudah tidak bisa menyembuhkannya lagi.

Drake melanjutkan untuk melengkapi suasana, kemudian bergeser ke eksposisi.

Rosen dan keluarganya terjerat dalam suatu mimpi buruk yang paling mengerikan dalam dunia pengobatan modern. Sejak teknologi pengobatan menjadi lebih efektif dalam menopang kehidupan, semakin banyak keluarga yang dipaksa harus menyaksikan orang yang mereka cintai menghabiskan hari-hari terakhirnya dihubungkan dengan mesin yang memperlambat proses kematian.

Drake kemudian mengikuti pola eksposisi (suasana ke seluruh cerita), di sisi lain membangun antisipasi pembaca untuk sebuah suasana penutup.

Malam itu, dengan sepasang suami istri berdiri di sisi tempat tidur, seorang dokter mengatakan kepada Rosen, si perempuan yang kini sudah mengerti bahwa dia akan mati bila mesin dicopot. Apakah dia mengerti dan maukah dia dilepaskan? Perempuan itu mengangguk.

Menantu laki-lakinya datang mendekat dan menanyakan apakah dia siap untuk mati. Sekali lagi, dia mengangguk. “Melepaskan tabung itu sama dengan mati,” kata putrinya. Ibunya mengerti.

Pasangan suami istri itu keluar ruangan untuk sesaat. Perempuan itu disiapkan dan kemudian kedua orang itu kembali untuk bersama dengannya, walaupun dia kini tertidur karena morfin.

Empat puluh lima menit kemudian, perempuan itu meninggal.

Feature (baca: ficer) adalah salah satu jenis tulisan jurnalistik berisi perpaduan berita dan opini, mengandung human interest, dan bergaya penulisan sastra (jurnalisme sastrawi). Feature disebut juga karangan khas, feature article, dan feature story.

Dalam jurnalistik, feature merupakan salah satu bentuk tulisan nonfiksi, dengan karakter human interest yang kuat. Feature adalah sebuah tulisan jurnalistik tapi tidak selalu harus mengikuti rumus klasik 5W + 1 H.

Feature adalah jenis tulisan yang lebih bersifat menghibur. Isinya bisa sesuatu yang remeh dan luput dari liputan namun tidak terlalu terikat dengan tenggat waktu. Bisa ditulis kapan saja dan di-publish kapan saja. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *