Cara Membuat Tulisan Feature dengan Gaya Bercerita

REPORTASE dalam bentuk cerita (berita) halus, seperti feature, merupakan tulisan yang dirancang kreatif, subjektif, untuk menyampaikan informasi dan hiburan kepada pembaca.

Penekanan pada kata-kata kreatif, subjektif, informatif dan hiburan, untuk membedakan dengan cerita yang disampaikan secara langsung pada straight news.

Read More

Feature bukan fiksi. Ia menggali suatu peristiwa atau situasi dan menatanya dalam susunan cerita yang menarik dan logis. Feature akan membuat pembacanya tertawa atau terharu, geram atau menarik napas panjang.

Kalau kamu menulis feature, sebaiknya dengan gaya bercerita. Hanya saja, kamu harus punya kemampuan bahasa yang mendukungk, pengetahuan bercerita (narrative know how), pengembangan karakter dan sebagainya. Pembaca menjadi melihat, menikmati perasaan seolah sebagai saksi mata dari kejadian.

Elizabeth Leland, wartawan Charlotte Observer, menulis feature yang begitu menyentuh tentang seorang kulit hitam cacat mental. Sejak kecil, orang ini dirawat oleh keluarga kulit putih terkemuka di Amerika.

Kisahnya menggambarkan kasih sayang selama 55 tahun yang dilimpahkan seorang kulit putih kepada seorang cacat bernama Joe Hill, yang berkulit hitam.

Tulisan Leland kaya dengan deskripsi, detail dan dialog. Pembaca dapat merasakan pengalaman yang digambarkan oleh Leland.

Tulisan ini meraih penghargaan Society of Professional Journalist (SPJ) Sigma Delta Chi Award dan Thomas Wolf Award dari North Carolina Associated Press News Council. SPJ menilai, cerita Leland ini ditulis dengan empati dan belas kasih tapi tidak cengeng.

Kalau dalam penulisan straight news (berita langsung), lead hanya terdiri atas empat kata (who, what, when, where), disusul dibawahnya menjelaskah why, dan kronologisnya how, maka dalam feature, penulisan dibagi empat bagian, hanya saja urutannya sebagai berikut :

a. Pembukaan yang dirancang untuk menarik perhatian pembaca.
b. Gambaran umum tentang tema cerita. Bagian ini disebut paragraf inti, bisa singkat dan eksplisit, bisa juga terdiri dari beberapa paragraf.

c. Dua atau tiga lebih butir pendukung dari tema cerita. Bagian ini adalah tubuh dari artikel.
d. Penutup yang kuat. Kalau feature ditulis dengan baik, pembaca akan membaca sampai akhir cerita. Lakukanlah ini dengan anekdot yang menarik, dengan sentuhan humor.

Banyak penutup yang dikaitkan dengan pembukaan feature, sehingga pertanyaan yang timbul pada paragraf pembuka terjadwa pada akhir cerita. (*)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *