Reportase yang Objektif adalah yang Tidak Memihak

INFORMASI, data, atau fakta yang diperoleh dari observasi dan wawancara, dalam jurnalistik, dinamakan berita. Syarat disebut berita kalau ada sesuatu yang baru, sesuatu yang sedang terjadi. Berita = News, New = baru.

Awalnya, orang memperdebatkan apa yang dimaksud dengan fakta. Apakah informasi itu fakta? Kalau fakta, apakah objektif? Lalu seperti apa, fakta yang objektif dan dapat disebut berita atau hal baru?

Seorang pendeta, ahli geologi dan seorang koboi, berdiri bersama-sama untuk kali pertama di Grand Canyon.

“Suatu keajaiban dari Tuhan,” kata si pendeta.
“Suatu keajaiban dari ilmu pengetahuan,” kata sang ahli geologi.
“Suatu tempat yang cocok untuk menggembalakan sapi,” kata si koboi.

Begitulah, dari sebuah objek muncul berbagai pandangan objektif (karena terkait dengan sebuah objek) yang bersifat subjektif (karena diungkapkan oleh seorang subjek). Inilah yang dinamakan objektivitas yang subjektif.

Michael Bugeja, pengajar jurnalistik di Iowa State mengatakan, objektivitas adalah melihat dunia seperti apa adanya, bukan bagaimana yang Anda harapkan semestinya. (objectivity is seeing the world as it is, not how you wish it were). Ingat pelajaran tentang observasi ya.

Karena itu, kalau kita ingin melakukan reportase yang objektif, maka kita tidak memihak saat mengumpulkan dan menyajikan fakta. Kamu tidak terlibat dalam berita (observasi nonpartisipan), sehingga menjadi pengamat yang netral.

Michael J O’Neill, mantan editor New York Daily News, mengalami penerapan definisi objektivitas yang buta atau steril ini. Tahun 1950, ia meliput pemogokan di perusahan pengepakan makanan di Chicago untuk kantor berita United Press International (UPI).

Serikat buruh menuduh perusahaan itu mempekerjakan buruh gelap, yakni buruh yang tidak tergabung dalam serikat kerja. Tapi, pemimpin perusahaan menyangkalnya.

O’Neill kemudian menyelidiki sendiri. Ia memanjat pagar perusahaan sampai jasnya robek tersangkut kawat. Ia melihat buruh gelap tinggal di dalam pabrik itu dan menghitung 125 tempat tidur lipat yang diperuntukkan bagi mereka.

Ketika O’Neill kembali ke kantor, editornya mengatakan bahwa ia tidak bisa menulis apa yang dilihatnya, kecuali ia bisa mengutip keterangan dari pejabat resmi pabrik.

Kasus O’Neill terjadi tahun 1950-an, dan terus mendapat sentuhan perubahan. Karena apa? Unsur adil (fairness) mulai mendapat tempat, supaya unsur netral tak disalahgunakan.

Surat kabar Washington Post punya standar mengenai sikap adil itu, yakni :

  • Berita itu tidak adil bila mengabaikan fakta yang penting. Jadi, adil adalah lengkap.
  • Berita itu tidak adil bila dimasukkan informasi yang tidak relevan. Jadi, adil adalah relevansi.
  • Beritu itu tidak adil bila secara sadar maupun tidak membimbing pembaca ke arah yang salah atau menipu. Jadi, adil adalah jujur.
  • Berita itu tidak adil bila kamu menyembunyikan prasangka atau emosing di balik kata-kata halus yang merendahkan. Jadi, adil menuntut keterusterangan. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *