Intiland Bangun Kawasan Industri di Batang

PT Intiland Development Tbk melakukan persiapan ekspansi membangun kawasan indusri di Batang, Jawa Tengah sebagai salah satu upaya mendongkrak kinerja di tengah pandemi Covid-19. Proyek ini akan meluncur Semester II 2020.

“Intiland memiliki landbank sekitar 2.000 hektare di kawasan itu,” ujar Archied Noto Pradono, Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi Intiland saat paparan publik usai rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) secara virtual, Rabu (15/7/2020).

Ekspansi ini kemungkinan berbarengan dengan realisasi pembangunan infrastruktur di Batang oleh Pemprov Jateng. Saat ini, Intiland dalam tahap menawarkan ke investor.

Selama ini, Intiland bertumpu pada empat divisi bisnis, yakni high rise building, low rise building, recuuring income, dan kawasan industri.

Untuk kawasan industri, Intiland sudah memiliki 500 hektare lahan di Ngoro Industrial Park, Mojokerto di Jawa Timur. Dari total luas lahan itu, lahan yang telah dikembangkan mencapai 400 hektare.

Selain kawasan industri Batang, Archied menjelaskan, pada Semester II 2020, Intiland akan mengembangkan proyek eksisting di Jakarta dan Surabaya.

Di antaranya Talaga Bestari dan Serenia Hills di Jakarta, serta proyek perumahan Graha Natura di Surabaya. “Kami cenderung pilih opsi konservatif di situasi sekarang,” jelas Archied.

Manajemen Intiland mengakui, industri properti menjadi salah satu sektor paling terdampak pandemi Covid-19. Banyak konsumen dan investor cenderung bersikap menunggu.

Meski daya beli pasar tetap ada, konsumen memilih menunda pembelian atau investasi. Penjualan properti masih didominasi pasar end user, terutama di segmen menegah ke bawah.

Archied memproyeksikan, industri properti masih menghadapi tantangan cukup berat dalam enam bulan ke depan. Kondisi darurat akibat pandemik penyebaran Covid-19 secara langsung menciptakan dampak negatif.

Beruntung, di tengah pandemi, Intiland masih berhasil mempertahankan kinerja usaha. Sampai akhir Kuartal I 2020, membukukan pendapatan usaha Rp 830,6 miliar atau turun 6,4 persen dibandingkan Kurtal I 2019 senilai Rp 887,6 miliar.

Pendapatan pengembangan (development income) tercatat memberikan kontribusi terbesar, yakni Rp 546,8 miliar atau 82,3 persen dari keseluruhan.

Perolehan berasal dari segmen pengembangan mixed-use dan high rise senilai Rp 455,1 miliar dan kawasan perumahan Rp 91,7 miliar, lalu penjualan lahan seluas 3,2 hektare di Surabaya senilai Rp 58,3 miliar.

RUPST akhirnya sepakat tidak membagikan dividen atas laba yang diperoleh tahun 2019. Seluruh laba bersih Rp 251,4 miliar sebagai laba ditahan Rp 249,4 miliar dan sisanya Rp 2 miliar sebagai cadangan wajib.

Untuk perubahan susunan direksi dan dewan komisaris, Wakil Presiden Direktur Perseroan Sinarto Dharmawan menduduki posisi baru sebagai Komisaris Utama. Keanggotaan Dewan Komisaris bertambah dengan penunjukan Friso Palilingan selaku Komisaris Independen.  Friso Palilingan sebelumnya anggota Komite Audit Perseroan sejak 2013. (bunegoro)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *