Cara Desainer Muda Unesa Memperkenalkan Keindahan Warna Busana Wedding

KEBERAGAMAN suku dan adat istiadat membuat Indonesia kaya akan cerita rakyat. Kisah dari masa ke masa ini terus dilestarikan bahkan mengilhami anak-anak muda dalam berkarya.

Seperti para desainer muda D3 Tata Busana, Jurusan Pendidikan Kesejahteraan Keluarga, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Mereka merancang busana wedding berkonsep modest fashion.

Read More

Idenya dari cerita rakyat. Karya mereka ini dipamerkan dalam grand show yang digelar secara virtual. “Ada dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua. Total 33 pasang busana,” ungkap Ketua Pelaksana Oktafinna, Minggu (14/2/2021).

Tema besar grand show adalah Alcarita, yakni penggabungan dari kata ‘al’ dan ‘carita’. Kata Al berasal dari bahasa Arab, biasanya untuk awalan sementara Carita, dalam bahasa Sansekerta, berarti cerita atau kisah.

Menurut Oktafina, para desainer terbagi dalam lima kelompok, yakni Alcarita of Swarnadwipa, Alcarita of Borneo, Alcarita of Celebes, Alcarita of Flobawara dan Alcarita of Pamalu.

Masing-masing kelompok membawa nuansa warna sendiri. Ada gold, putih, biru, quetzal green, dan cokelat. Mereka menerjemahkan cerita rakyat dalam siluet busana, stilasi ragam hias, dan manipulating fabric, yang memberi kesan anggun dan modern.

Menghadirkan lokalitas dan cerita rakyat dalam sebuah rancangan busana rupanya memberikan tantangan tersendiri bagi para desainer. Misalnya, Umy Hanik yang merancang ball gown, yang terinspirasi dari cerita rakyat Tampe Ruma Sani.

Di akhir cerita, Tampe Ruma Sani menjadi putri kerajaan. “Untuk warna yang saya gunakan yaitu warna quetzal green dan dipadukan dengan warna nude,” terangnya.

Umy Hanik mengambil ragam hias rebung atau kakando yang memiliki makna kesabaran dan keuletan dalam menghadapi tantangan. Dirinya menerapkan manipulating fabric tucking, tasse, dan sedikit tambahan payet.

Keunikannya terletak pada bagian rok. Biasa disebut rok belimbing atau paneled circle skirt. Untuk membuat roknya, sangat menantang. Gaunnya punya delapan pias yang diberi lapisan agar terlihat tegak.

Melalui gelaran ini, Umy Hanik berharap, bisa menginpirasi masyarakat untuk tetap berkarya. “Kreativitas tidak pernah dibatasi fasilitas. Semoga, aksi virtual ini, menginspirasi banyak orang, berinovasi di tengah pandemi,” pungkasnya. (ayu)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *