Cara Gufron Kembangkan Sentra Lele di Desa Cengkir

DESA Cengkir semula bukan sentra lele. Namun, sejak Ghufron sukses membudidayakan lele, warga desa itu mengikuti jejaknya. Ghufron merupakan perintis budidaya ikan anggota famili Clariidae itu di Desa Cengkir.

“Saya ingin memberi manfaat bagi desa saya,” kata Ghufron yang juga ketua Yayasan Bina Mulia yayasan yang bergerak di bidang pendidikan dan pembinaan anak yatim di Bojonegoro.

Sukses Ghufron beternak lele di halaman membuka wawasan warga desa. Budidaya lele itu ternyata tidak memakan tempat luas dan menguntungkan. Itulah sebabnya banyak warga yang mengikuti jejak Ghufron.

Kini di desa itu, ada 20 peternak lele. Ada yang menebar 2.000 hingga 5.000 bibit di kolam terpal. Bahkan, seorang binaannya menebar 12.000 bibit.

Beberapa anak muda yang sebelumnya menganggur dan sering nongkrong tertarik beternak ikan. Haryoko di Desa Cengkir, misalnya, membesarkan 5.000 ekor bibit lele.

Dalam dua bulan, Haryoko bisa memanen 500 kg yang terjual Rp 14.000 per kg, Haryoko menerima Rp 7 juta. Ketika itulah dia mampu membayar pinjaman bibit Rp 750.000 ke UD Mina Sejahtera yang didirikan Ghufron.

Laba bersih Haryoko Rp 3 juta per 2 bulan. “Hasil panen lelenya dapat menambah uang dapur,” kata Haryoko berseri-seri.

Setiap ada peternak binaan yang siap panen, Ghufron mengantarkan penampung ke peternak itu. Ghufron membeli ikan peternak binaan ketika volume panen tak mencukupi permintaan.

Dia lantas menjual eceran ikan itu dengan harga Rp 20.000 per kg. Harga itu lebih murah ketimbang harga lele di pasaran yang mencapai Rp 22.000 sampai Rp 27.000 per kg. (*)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *