Cara Menyimpan Aglaonema agar Bonggol Tidak Busuk

BERTANI aglaonema memang menjanjikan untung. Apalagi, jika menanam aglaonema yang didasari hobi. Pasti menyenangkan dan menghasilkan. Meski begitu, laba di depan mata bisa sirna jika kendala yang datang tidak teratasi.

Pekebun aglaonema di Desa Tamantirto, Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Usnul Adhib dan Ali Akbar terheran-heran lantaran sekitar 1.000 pot aglaonema mati pada Januari 2021.

“Banyak bonggol yang busuk. Saya benar-benar kaget, kok bisa bonggol aglaonema saya busuk,” kata Adhib.

Jika bonggol itu hidup, harganya bisa antara Rp 100.000 sampai Rp 500.000 per pot. Dengan kata lain kerugian Adhib dan Ali minimal Rp 100 juta.

Saat itu, mereka tengah menggenjot produksi karena permintaan banyak yang belum terpenuhi. Saking melimpahnya tanaman yang diperbanyak, mereka terpaksa meletakkan bonggol di kamar mandi dan bawah rak tanaman.

Bonggol hasil perbanyakan itu berdesakan. Sebetulnya, rumah tanam milik Adhib dan Agus, relatif besar, yakni 1.500 m2.

Ternyata itu belum bisa menampung tanaman hasil perbanyakan. Tempat penyimpanan bersanitasi kurang baik dan lembap sehingga bonggol banyak yang busuk.

Kini mereka memiliki lahan khusus menyimpan tanaman hasil perbanyakan. Lokasi kebun baru itu mendapatkan sinar matahari yang mencukupi dan bersirkulasi udara baik. Harapannya tanaman hasil perbnayakan tumbuh sehat. (*)

sumber: trubus

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *