Dari Robi Navicula hingga Rara Sekar Ini 5 Inspirator Gerakaan #UntukmuBumiku

TINDAKAN keseharian yang bisa diterapkan dan mulai dari diri sendiri, antara lain tidak memakai plastik sekali pakai, mengadaptasi spirit jagawana yang setia dan tangguh menjaga hutan. Berani mengambil sikap dan tindakan sekecil apa pun, demi kepentingan masyarakat dan bumi.

“Kami adalah bagian dari solusi terhadap tantangan perubahan iklim. Kami adalah bagian dari solusi ketimpangan sosial ekonomi yang melebar. Dengarkan kami. Berjalan bersama kami. Duduklah bersama kami. Bertukar pikiran dengan kami, bersama daya kreativitas kami, dengan musik, film, menulis, dengan passion kita sendiri dan memperkaya dengan berjejaring dengan berbagai kalangan.”

Ini penggalan dari Manifesto Orang Muda Indonesia Untuk Perubahan Iklim. Sebanyak 223 orang muda mendeklarasikan manifesto ini pada Youth Virtual Conference #UntukmuBumiku yang digelar 6 Juni 2021.

Kegiatan ini merupakan acara puncak dari diskusi yang dibangun di ruang-ruang virtual selama satu minggu penuh, ruang yang dihidupkan oleh 11 inspirator dan peserta yang punya semangat untuk mengatasi perubahan iklim.

Salah satu inspirator, Rara Sekar, memandang, manifesto ini menjadi fondasi penting untuk bergerak lebih cepat lagi dalam merespons kerusakan lingkungan dan eksploitasi alam yang terus dilanggengkan oleh sistem ekonomi.

“Semoga menjadi penyemangat anak muda untuk bersolidaritas, berkolektif, dan bekerja sama mencapai keadilan iklim,” katanya.

Inspirator lain yang masih sangat belia, Kynan Tegar mengungkapkan, manifesto itu memperlihatkan semangat anak muda tapi lebih jauh lagi, yang diperlukan sebenarnya adalah aksi nyata, aksi yang bisa kelihatan hasilnya. Memang ini sesuatu yang sangat susah.

Harus dimulai dari hal-hal kecil yang bisa kita lakukan di rumah. Seperti yang orang sering bilang, memerlukan systemic change, perubahan dalam skala yang lebih besar, karena masalah perubahan iklim ini lebih besar daripada lainnya.

Mayoritas peserta acara yang digawangi Tempo Media Group dengan dukungan berbagai pihak ini berusia 17–24 tahun, duduk di bangku SMA hingga mahasiswa.

Rata-rata berdomisili di Pulau Jawa, meski sejumlah peserta datang dari Indonesia bagian Timur. Menariknya, acara ini dihadiri oleh 59% peserta perempuan dan 41% peserta laki-laki.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *