Kisah Mengurus Isolasi Covid-19 di Wisma Atlet

RAHYANG Nusantara (@RahyangNsntra) tidak kaget sewaktu dikabari hasil antigen dan PCR positif mengingat aktivitas sehari-hari yang masih suka meeting tatap muka di tempat umum (hotel dan resto). Dia sadar diri, termasuk kelompok rentan terkena Covid-19.

Semula starnya yang berkunjung dari Bandung ke Jakarta untuk meeting lebih dulu kena Covid-19 setelah selama 27-30 Mei 2021, beberapa kali bertemu dan makan bersama.

Read More

Begitu tahu stafnya positif, RAHYANG Nusantara (@RahyangNsntra) langsung tes supaya tahu status masing-masing (2 Juni 2021). Hasil antigen negatif tapi posisi saat itu dirinya sudah demam dan sakit kepala. Sehari sebelumnya sempat kehujanan dan makan es krim.

Esok harinya baru batuk, demam turun karena minum paracetamol. Indera pengecap dan penciuman mulai hilang. Jadi, gejalanya, kurang lebih: demam, batuk berdahak, diare, indera pengecap berkurang, dan indera penciuman hilang.

Demam kurang lebih hilang setelah 4 hari isolasi. Diare ilang setelah 4 hari. Indera pengecap sampai hari ini belum kembali normal. Indera penciuman mulai normal di hari ke-7. Batuk dahak masih ada (tapi sudah jarang batuk).

Nah yg bikin gue concern banget adalah mimisan. Hari ke 1-3 dan 7, dirinya mimisan (hidung keluar darah) setiap hari. Alasannya engga tau, bisa jadi kecapean atau karena perubahan suhu dingin ke panas.

Cuma dikasih obat buat mimisan sekali di awal, selebihnya tidak. Dikasih tip cara menghentikan mimisan. Berhubung ada rencana ke luar kota, dia ke dokter lagi (IGD) dan tes ulang untuk memastikan.

Rahyang Nusantara ke IGD di RS JMC untuk konsultasi sekalian dengan dokter, tes darah, antigen, dan diinfus (4 Juni 2021). Di sini, hasil antigennya positif, tes darah masih aman. Suhu tubuh 38 derajat. Dokter menyarankan PCR untuk memastikan. Hasil PCR positif (H+1).

Begitu tahu hasilnya positif, dia memberitahu Bapak Kos supaya dikasih arahan. Beliau menyarankan karantina di Wisma Atlet. Pak RT datang untuk koordinasi dan beliau membantu koordinasi dengan Satgas Covid19 setempat.

Tak lama, petugas dari Puskesmas Kelurahan mengiri pesan WA untuk tracing. Prosesnya cepat. Dari puskesmas langsung diurusin agar bisa isolasi di Wisma Atlet. Berhubung hari itu (5 Juni 2021), yang kena dari kelurahan banyak, jadi penjemputan dilakukan di puskesmas kecamatan.

Pagi koordinasi, sore sudah kumpul di puskesmas. Lumayan lama menunggu. Rahyang Nusantara dikabari untuk kumpul di puskesmas jam 4 sore, baru dijemput ambulan untuk ke Wisma Atlet itu menjelang Magrib. Satu ambulan isinya berlima plus baran.

Selama di dalam ambulan yang jendelanya tertutup, dia bisa merasakan sekali kalau pengguna jalan lain itu susah mempersilakan ambulan lewat duluan. Berkali-kali berhenti dan sopir berteriak. Tiba di Wisma Atlet, tidak langsung masuk kamar.

Nunggu dulu karena sudah ada rombongan sebelumnya. Ada dua hal yg diperiksa: administrasi dari puskesmas, ditanya nama, alamat, keluhan, dikasih gelang pasien, dan diperiksa dokter (tensi dan saturasi O2). Prosesnya 2 jam.

Petugas memanggil lagi untuk assign lantai. Calon pasien diberi dokumen yang sudah dicek dua hal tadi. Tiba di lantai yang dimaksud, lapor ke perawat. Di sini baru di assign kamar. Obat-obatan yang sebelumnya dikonsumsi dikasih ke perawat.

Perawat akan mengonsultasikan ke dokter apakah perlu dilanjut apa tidak. Satu kamar isi dua atau bertiga, tergantung jumlah kasurnya). Oleh perawat, diminta masuk grup WA lantai agar dapat segala macam informasi: makan dan obat, psikologi, religi, dan lain-lain.

Besoknya (6 Juni 2021), Rahyang Nusantara tes rontgen dada dan 7 Juni 2021 gue tes darah. Berhubung banyak yang dites, yang dikabari hanya mereka yang hasil tesnya tidak bagus. “Alhamdulillah hasil rontgen dan tes darah saya normal,” katanya.

Selama di Wisma Atlet, makan (pagi-siang-malam), obat, dan snack pagi terjamin. Menunya mirip dan selama isolasi, makan tidak pernah habis karena keburu mual. Minuman yang tersedia 600ml dan galon di beberapa titik di tiap lantai. Galon panas/dingin hanya ada di depan ruang perawat.

Rahyang Nusantara termasuk pasien yang banyak tidur di kamar. Ke luar kamar cuma untuk urusan tes dan mengambil kiriman. Pasien boleh pesen makanan dari luar pake aplikasi. Ambil di pos 5 dan 6 (untuk penghuni Tower 5 dan 6). Harus diambil sendiri.

Hari ke-9 (14 Juni 2021) isolasi di Wisma Atlet, dirinya dan beberapa pasien lainnya dites PCR (tidak harus hari ke-9). Hasilnya bisa seharian. Hari ke-10 (15 Juni 2021) dapat informasi hasil PCR sudah negatif dan bisa pulang.

Dapet informasi siang setelah Magrib sudah pulang. Yang lama nunggu surat keterangan selesai isolasi mandiri (SKSI). Setelah dipersilakan pulang, menuju pos 5/6 donk. Kata perawat prosesnya sama seperti mau ambil kiriman makanan.

Pas ke sana, kalau yang pulang itu di pos 7. Terus harus lapor penjaga pos sana (dari TNI), memastikan gelang pasien dilepas. Habis itu lapor lagi di Pos 8. Harus turun untuk isi buku. Isinya nama, alamat, tanggal masuk, pulang dengan apa, tanggal tes PCR terakhir.

Setelah itu, baru bisa pulang. Rahyang Nusantara tidak tahu di daerah lain tapi di Jakarta, dimudahkan dengan adanya Wisma Atlet sebagai fasilitas isolasi. Apalagi buat dirinya yang kost, lebih terjamin. Tapi jangan salah sangka, bukan berarti boleh kena Covid.

Sebisa mungkin tidak kena, karena:
1. Tenaga kesehatan (perawat, dokter, dan lain) di Wisma Atlet itu tidak banyak.
2. Satu lantai itu cuma satu perawat untuk 40-50an pasien di lantai itu.
3. Belum, kadang satu perawat megang lebih dari satu lantai.
4. Efek long covid meski dinyatakan sembuh.
5. Bisa balik lagi 100% ke sedia kala.
6. Lebih cepat capek ketika bekerja.

Yang paling tidak enak : merepotkan orang lain. Puskesmas karena harus tracing dan urus admin, Bapak Kost harus disinfeksi kost-an, Pak RT dan Satgas koordinasi dengn puskesmas, driver taksi/ojol nganta, belum lagi tim di kantor harus adjust pekerjaan, dan membuat keluarga/teman kepikiran.

Jadi, untuk yang membaca kisah ini, harus perketat protokol kesehatan (5M):
1. Memakai masker
2. Mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir
3. Menjaga jarak
4. Menjauhi kerumunan
5. Membatasi mobilisasi dan interaksi

Pemerintah dan yang berwenang harus perbanyak testing, tracing, dan treatment.
Berita akhir-akhir ini mengkhawatirkan. Pasien yang masuk ke Wisma Atlet semakin banyak. Ini baru Jakarta, bagaimana di daerah lain? Jangan sampai kena #covid. (*)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *