KKN di Desa Penari: Firasat Buruk Adanya Suara Gamelan (4)

SIAPA yang menari di malam buta seperti itu. Nur terdiam dalam kengerian yang ia rasakan sendirian. Ketika motor berhenti dan sampai di desa, Nur tidak mengatakan apapun. Ia melihat Pak Prabu menyambut mereka. Setelah Pak Prabu mempersilahan mereka ke tempat peristirahatan, Widya tiba-tiba mengatakanya.

“Pak, kok deso’ne pelosok men yo” (Pak, kok desanya jauh sekali ya)
“Pelosok, yo opo to mbak, wong tekan dalam gede mek 30 menit loh” (pelosok darimana sih mbak, orang dari jalan raya hanya 30 menit)

Read More

Nur hanya melihat saja, ia tidak mau mengatakan apapun, termasuk wajah Ayu yang memerah, entah karena malu atau apa. Mungkin, Ayu merasa Widya sudah melakukan hal yang tidak sopan, sebagai tamu. Widya memang seharusnya tidak mengatakan itu.

Di tengah perdebatan antara Widya dan Ayu, tiba-tiba dari balik pohon jauh, sosok hitam dengan mata merah tengah mengintai mereka. Sialnya, hanya Nur yang melihat. Perdebatan selesai, Nur meninggalkan sosok itu, yang masih mengintip dari balik pohon.

Ia masuk ke sebuah rumah milik salah satu warga yang tidak berkeberatan untuk mereka tinggali selama menjalankan tugas KKN mereka. Di sana rupanya perdebatan Widya dan Ayu berlanjut.

“Koen iku kok ngeyel seh, wes dikandani, gak sampe setengah jam iku mau” (kamu kok keras kepala, sudah dikasih tau, tadi gak sampai setengah jam).

Nur masih melihat, alih-alih menengahi, Nur lebih kepikiran dengan hal lain. Salah satunya, genderuwo itu, untuk apa ia mengintainya. Tetiba, Widya mengatakan sesuatu yang membuat Nur tidak bisa mengabaikanya.

“Awakmu mau krungu ta gak, onok suoro gamelan nang tengah alas?” (kamu tadi dengar atau tidak, ada suara gamelan di tengah hutan tadi).

Tapi ucapan Widya ditanggapi Ayu dengan nada mengejek. “Halah, palingan yo onok acara nang deso tetangga, opo maneh” (halah, mungkint itu tadi kebetulan ada yang mengadakan acara di desa tetangga).

Nur yang mendengar itu bereaksi pada Ayu. “Yu, gak onok loh deso maneh nang kene. Jare wong biyen, nek krungu suoro gamelan, iku pertanda elek” (kata orang dulu, bila mendengar suara gamelan, itu artinya sebuah pertanda buruk).

Malam itu, berakhir, meski perdebatan terus berlanjut di batin mereka masing-masing. Pertanda apa yang sudah menunggu. “Yu, aku kepingin ngomong, wong loro ae, isok kan” (Yu, aku ingin ngomong, sebentar, bisa kan?). “Ngomong opo Nur?” (ngomong apa Nur) tanya Ayu.

Leave a Reply

Your email address will not be published.