KKN di Desa Penari: Nur Melihat Seorang Wanita Menari (2)

HUJAN tiba-tiba turun, tanpa terasa, 4 jam lebih perjalanan ini ditempuh. Mobil berhenti di sebuah tempat rest area yang sepi, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan, Nur, melihat hutan gelap, yang memanggil-manggil namanya. “Hutan. desa ini ada di dalam hutan” kata mas Ilham.

Nur tidak berkomentar, ia hanya berdiri di samping mobil yang berhenti di tepi jalan hutan ini. Sebuah hutan yang sudah di kenal oleh semua orang Jawa Timur. Hutan D********, tidak beberapa lama, nyala lampu dan suara motor terdengar. Mas Ilham melambaikan tangannya.

Read More

“Iku wong deso’ne, mlebune kudu numpak motor, gak isok numpak mobil soale” (itu orang desanya, masuknya harus naik motor, mobil tidak bisa masuk soalnya). Nur dan Ayu, mengangguk, pertanda ia mengerti.

Tanpa berpikir panjang, Nur sudah duduk di jok belakang. Mereka berangkat, memasuki jalan setapak, dengan tanah tidak rata, membuat Nur harus memegang kuat jaket bapak yang memboncengnya.

Tanah masih lembab, di tambah embun fajar sudah terlihat di sana-sini, malu-malu memenuhi pepohonan rimbun. Nur, melihat sesosok, wanita. ia sedang menari di atas batu kilatan matanya tajam, dengan paras elok nan cantik.

Si wanita tersenyum menyambut tamu yang sudah ia tunggu. Melihatnya dari balik jalan lain, Nur mendapati, si wanita sudah hilang, tanpa jejak. Ia tahu, dirinya sudah disambut, ah entah apa itu.

Memasuki desa, Mas Ilham berpeluk kangen dengan seorang pria yang mungkin seumuran dengan ayahnya di rumah. Pria itu ramah, dan murah senyum, menyambut tanganya, Nur mendengar si pria memperkenalkan diri.

“Kulo, Prabu” (saya Prabu). “Sepurane Ham, aku eroh, kene wes kenal suwe, tapi deso iki gak tau loh gawe kegiatan KKN” (saya minta maaf ham, aku tahu, kita sudah kenal lama, tapi desa ini tidak pernah dipakai kegiatan KKN).

“Tolonglah, Mas,” kata mas Ilham, “Bantu, adikku.” Suasana saat itu tegang. “Gak isok Ham,” kata Pak Prabu menekan Mas Ilham dengan ekspresi tak terduga. “Ngeten loh pak, ngapunten, kulo nyuwun tolong, kulo bakal jogo sikap ten mriki, mboten neko-neko, tolong pak” (begini loh pak, maaf, saya minta tolong, saya akan menjaga sikan di sini. Saya tidak akan aneh-aneh. tolong Pak) ucap Ayu.

Matanya berlinangan air mata, ia tidak pernah melihat Ayu sengotot ini, mimik wajah pak Prabu yang sebelumnya mengeras, kini melunak. “Piro sing KKN dek?” (berapa yang KKN nanti dek?). Dengan bersemangat Ayu menjawab. “6 Pak.” Hari itu berakhir, dengan persetujuan Pak Prabu dan tentu saja, masyarakat sekitar.

Sebelum meninggalkan tempat itu, Ayu dan Nur berkeliling memeriksa desa sebentar. Di sana ia sudah tahu proker apa saja yang akan menjadi wacana mereka. Salah satunya, kamar mandi dengan air sumur. Ia tahu, masyarakat mendapatka akses air hanya dari sungai. Jadi, terpikir mungkin sumur lebih efisien,

Di tengah mereka merundingkan berbagai proker kelak, Nur terdiam melihat sebuah batu yang di tutup oleh kain merah. Di bawahnya, ada sesajian lengkap dengan bau kemenyan.

Di atasnya, berdiri sosok hitam, dengan mata picing, menyala merah. Meski hari siang bolong, Nur bisa melihat, kulitnya yang di tutup oleh bulu, serta tanduk kerbau. Itulah genderuwo.

Mata mereka saling melihat satu sama lain sebelum Nur mengajak Ayu pulang. “Lapo to Nur, kok gopoh men” (kenapa sih Nur, kok kamu buru buru pergi). “Kasihan Mas Ilham, wes ngenteni,” ucap Nur.

“Yo wes, ayok,” Ayu menimpali. Mereka segera naik motor, keluar dari desa. “Nur, jak’en Bima, yo, ambek Widya, engkok ambek kenalanku, kating” (Nur, ajak si Bima, sama Widya, sama kenalanku kating), ucap Ayu di dalam mobil.

“Bima, lapo ngejak cah kui” (ngapain sih ngajak Bima). “Ben rame, kan wes kenal suwe” (biar rame, kan sudah kenal lama) sahut Ayu. “Kok gak awakmu sing ngejak to” (kenapa bukan kamu saja yang ngajak) timpal Nur.

“Kan awakmu biyen sak pondok’an, wes luwih suwe kenal” (kan kalian pernah satu pondok, jadi sudah kenal lebih lama). “Pokok’e jak en arek iku yo” (pokoknya ajak anak itu ya). “Yo wes, iyo,” Nur mengalah.

“Tak telpone Widya, ben cepet digawekno proposal’e, mumpung pihak kampus gurung ngerilis daftar KKN’e. Gawat kalau pihak kampus wes ngerilis yo, mumpung wes oleh enggon KKN dewe.”

(biar Widya tak telpon, biar cepat dibuatkan proposalnya, mumpung kampus belum buat daftar KKN nya. Bisa gawat kalau sampai kampus udah buat daftarnya, mumpung kita sudah punya tempat KKN).

Leave a Reply

Your email address will not be published.