KKN di Desa Penari: Saat Observasi Lokasi Perasaan Nur Tidak Enak (1)

NUR merapikan tempat tidurnya, hidup merantau demi menyelesaikan pendidikan di universitas yang sudah menjadi impian sejak kecil, kini tinggal menunggu bulan demi bulan. Hanya tinggal menyelesaikan tugas terakhira, salah satunya, pengabdian pd masyarakat. Orang lebih mengenalnya dengan KKN (Kuliah Kerja Nyata).

Malam ini, Ayu, teman sefakultasnya, baru saja membicarakan rencananya. Dia memiliki tempat yang cocok, dan Nur akan ikut dalam observasi pengenalan desa itu. Di sela Nur mempersiapkan keberangkatanya malam ini, ia teringat harus segera memberitahu temannya yang lain tentang observasi ini.

Read More

KKN program mereka, harus di selesaikan bersama-sama. janji, sebagai sahabat yang harus lulus bersama-sama. “Wid, nang ndi?” (Wid, di mana?) “Nang omah Nur, yo opo, wes oleh nggon KKN’e” (di rumah Nur, gimana, sudah dapat tempat KKN).

“Engkok bengi Wid, aku budal karo Ayu, doaken yo” (nanti malam Wid, aku berangkat sama Ayu, doakan ya). “Nggih. Semoga di-ACC ya.” “Aamiin,” balas Ayu, mematikan telepon balas Nur mematikan telpon.

Detik-demi detik berputar, tanpa terasa malam telah tiba, Nur melihat sebuah mobil kijang mendekat. Dari dalam, keluar sahabatnya Ayu, di belakangnya, ada sosok lelaki. Mungkin itu adalah mas Ilham, kakak Ayu. pikir Nur dalam hati.

“Ayo. Budhal,” kata Ayu, menggandeng Nur agar segera masuk ke dalam mobil. Mas Ilham membawakan barang Nur, kemudian mobil mulai berangkat. “Adoh gak Yu” (jauh tidak yu),” tanya Nur, “Paling 4 sampe 6 jam, tergantung, ngebut ora” (paling 4 sampai 6 jam, tergantung ngebut atau tidak).

“Sing jelas, desa’ne apik, tak jamin, masih alami. Pokok’e cocok gawe proker sing disusun wingi” (yang jelas, desanya bagus, tak jamin, masih alami, pokoknya cocok buat proker yang kita susun kemarin).

Ayu terlihat begitu antusias, sementara Nur, ia merasa tidak nyaman. Banyak hal yang membuat Nur bimbang, salah satunya, tentang lokasi dan sebagainya. Sejujurnya, ini kali pertama Nur, pergi ke arah etan (timur).

Perempuan yang lahir di daerah kulon (barat) sudah seringkali mendengar rumor tentang arah etan, salah satunya, kemistisannya. Mistis, bukan hal yang baru bagi Nur.

Bahkan, ia sudah kenyang dengan berbagai pengalaman akan hal itu saat menempuh pendidikanya sebagai santriwati, dan coba mengabaikan perasaan tidak bisa dilakukan secara kebetulan semata.

Tapi malam ini, belum pernah Nur merasa tidak enak. Benar saja. perasaan tidak enak itu, terus bertambah seiring mobil terus melaju. Salah satu pertanda buruk itu adalah ketika sebelum memasuki kota J, di mana tujuannya kota B, Nur melihat kakek-kakek yang meminta uang di persimpangan.

Kakek itu menatap Nur dengan rasa prihatin. Bukan hanya itu saja, si kakek, mengelengkan kepalanya seolah memberikan tanda pada Nur yang ada di dalam mobil, untuk mengurungkan niatnya. Tapi Nur, tidak bisa mengambil spekulasi apapun. Ada temanya yang lain, yang menunggu kabar baik dari observasi hari ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published.