KKN di Desa Penari: Sosok Mata Merah Itu Mengintip Nur (5)

NUR dan Ayu pergi ke pawon (dapur). Wajah Nur, masih tegang, ia masih ingat, matanya tidak mungkin salah, ia melihat makhluk itu. “Yu, aku takon. Awakmu gak ngerasa aneh tah gok deso iki. Awakmu jek iling, kok iso-isone Pak Prabu sampek ngelarang keras, kene KKN nang kene. Opo awakmu gak curiga blas tah.”

(Yu, aku mau tanya, kamu gak ngerasa aneh’kah di desa ini, kamu ingat, kok bisa-bisanya Pak Prabu sampai, melarang keras, kita KKN disini, apa kamu gak curiga).

Read More

“Opo seh maksudmu ngomong ngunu?!” (apa sih maksudmu ngomong kaya gitu), tukas Ayu ketus. “Bekne, Pak Prabu nduwe alasan, lapo ngelarang awak dewe KKN nang kene.” (mungkin, pak Prabu punya alasan, kenapa melarang kita KKN di sini).

“Nek awakmu ngomong ngene, soale perkoro Widya mau, ra masuk akal Nur, awakmu melu observasi nang kene kan ambek aku, opo onok sing aneh? gak kan. Wes talah, mek pirang minggu tok ae loh.”

(kalau kamu ngomong begini karena perkara Widya tadi, gak masuk akal Nur-kamu sendiri ikut aku observasi disini kan, apa ada yang aneh? gak kan, sudahlah, cuma beberapa minggu aja loh).

Ayu meninggalkan Nur sementara Nur tidak mungkin menceritakan apa yang ia lihat, Ayu bahkan tidak percaya dengan hal yang gaib. Nur mengalah lagi. “Nur” Widya memanggil.

Nur menatap wajah Widya yang sayu, tampak ia baru saja menangis. Tidak aneh memang, siapa yang tidak akan menangis bila merasakan hal yang bahkan tidak masuk diakal seperti itu.

“Isok gak, aku jalok tulung” (bisa aku minta tolong) ucap Widya. “Tolong, ojok ceritakno yo, soal aku krungu gamelan mau, gak enak ambek warga kampung, kene kan tamu nang kene”

(tolong jangan ceritakan ya, soal tadi, soal aku dengar gamelan, aku gak enak kalau sampai kedengaran warga desa, kita kan tamu di sini).

Nur hanya mengangguk. Sebelum Widya beranjak dari tempatnya, Nur tiba-tiba mengatakan. “Wid, asline aku mau yo krungu suara iku mau, malah, aku ndelok onok penarine nang pinggir tulangan mau.”

(Wid, sebenarnya, aku juga mendengar suara gamelan itu, malah, aku melihat ada yang menari di sana).

Widya yang mendengar itu dari Ayu, seakan tidak percaya. Keduanya terdiam cukup lama, bingung harus bereaksi seperti apa. “Wes, Nur, jogo awak dewe-dewe yo, insyallah, gak bakal onok kejadian opo-opo nek kene hormat lan junjung unggah-ungguh selama nang kene.”

(sudah Nur, jaga diri baik-baik, ya, insyallah, gak bakal terjadi apa-apa, kalau kita hormat dan menjunjung sopan santun selama tinggal di tempat ini).

Ucapan Widya setidaknya membuat Nur sedikit lebih lega, namun, Nur tidak menceritakan tentang sosok hitam yang mengintai mereka. Malam pertama, Nur, Ayu dan Widya tidur dalam satu kamar yang sama.

Mereka sepakat untuk menggelar tikar. Nur ada di tengah, Ayu dan Widya ada disamping kanan dan kiri Nur. Terdengar binatang malam bersahut-sahutan, berlomba untuk menunjukkan eksistensinya.

Manakala Nur sadar, 2 sahabatnya sudah tertidur lelap, ia terjaga sendirian menatap langit-langit yang berupa genting hitam dengan sarang laba-laba. Rumah desa, tentu saja. pikir Nur, memaklumi, sekat kamar tidak menyentuh langit, jadi Nur, bisa melihat celah di sana.

Ketika memikirkan kejadian hari ini, Nur tiba-tiba tersadar, bahwa, suara riuh binatang malam tidak lagi terdengar, berganti dengan suara sunyi yang memekik membuat telinga Nur menjerit dalam ngeri.

Perasaan tidak enak, tiba-tiba muncul begitu saja. membuat Nur, lebih awas. Ketika pandanganya, mencoba mencari cara untuk mengurangi rasa takutnya, di tengah cahaya lampu petromaks yang memancarkan sinar temberam, di sudut sekat kamar, sosok bermata merah, mengintipnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.