Ingat Imlek Ingat Gus Dur

KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur adalah Bapak Tionghoa Indonesia. Boleh jadi, itu berkaitan dengan sejarah perayaan Imlek di Indonesia itu penuh liku? Bagi Koh Liem Tiong Yang, pengurus Kelenteng Boen Bio, Imlek merupakan momen untuk mengingat Gus Dur.

Gong xi fa cai. Kalimat itu bisa kita jumpai di tempat-tempat umum seperti mall saat ini. Tapi tahukan, sejak tahun 1968 hingga 2000 hal itu bisa disebut sebagai kemustahilan?

Pada tahun 1946, Presiden Soekarno menetapkan Imlek sebagai satu di antara belasan hari raya yang disepakati di Indonesia yang multiagama ini. Sejarah berjalan, kemudian Imlek sama sekali dilarang oleh pemerintahan setelahnya.

Pemerintah Orde Baru (Orba) melarang penggunaan simbol dan budaya Tionghoa melalui Inpres No 14 Tahun 1967. Artinya, imlek, cap go meh, liong, barongsai, dan huruf Mandarin dilarang. Makanya, banyak sekali orang Tionghoa punya nama-nama ‘Jawa’.

Misalnya Hartono, Sukamuljo, Hermanto, dan banyak lainnya sementara nama-nama seperti Liem Swie King, Soe Hok Gie, Tan Kim Han, dan lain-lain sudah sangat jarang. Padahal, sebelum 1968, tidak ada peraturan diskriminatif seperti itu.

Orba berdalih pelarangan itu untuk melebur masyarakat Tionghoa dengan masyarakat setempat. Sebelumnya, komunitas Tionghoa disebut eksklusif. Pro dan kontra mewarnai peraturan dari Soeharto itu. ‘Niat baik’ Orba nyatanya membuat warga Tionghoa terdiskriminasi.

Ketika menjadi presiden di tahun 2000, salah satu yang dilakukan oleh Gus Dur adalah mencopot inpres diskriminatif itu. Dia lantas menetapkan imlek sebagai hari libur fakultatif melalui Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2001. Yang merayakan, yang libur.

Awal 2000-an, pasti pernah melihat teman Tionghoa izin sekolah di hari Imlek untuk merayakan hari besar ini. Nah, itu upaya awal pemerintah untuk memberi ruang kepada saudara Tionghoa kita. Sebelum tahun itu warga Tionghoa sembunyi-sembunyi.

Gus Dur kemudian memasukkan Konghucu, agama leluhur Tionghoa yang banyak dianut oleh masyarakat Tionghoa Indonesia, sebagai salah satu agama yang diakui oleh negara. Sebelumnya warga Tionghoa dipaksa memilih lima agama yang ada: Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha.

Bagi Gus Dur, menegakkan konstitusi adalah sebuah kewajiban bagi kepala negara. Nah, konstitusi kita mengatur kebebasan berpendapat berpikir. Lalu mengapa dihambat? Apalagi kelompok Tionghoa turut berjuang mendirikan negara ini.

Menurut satu pendapat yang dikenal sebagai ‘teori Yunan’, jika dirunut sejarah, leluhur kita sebenarnya berasal dari Yunan, sebuah provinsi di dataran China.

Karena jasanya itu, Gus Dur sampai diakui sebaga bapak Tionghoa Indonesia. Di beberapa kelenteng terdapat foto Gus Dur sebagai bentuk terima kasih mereka. Kebijakan Gus Dur mengenai Tionghoa ini kemudian disempurnakan oleh Megawati dengan menjadikan Imlek sebaga hari libur nasional.

Sumber: di sini

Leave a Reply

Your email address will not be published.