Penggunaan Mitos Agama Laksamana Cheng Ho Mirip Strategi Geopolitik Agama AS dan Rusia

SAAT ini, tidak ada keraguan bahwa agama adalah salah satu faktor yang semakin berkontribusi pada pembentukan dan pengkondisian hubungan internasional. Peran mereka perlu dipelajari dengan menggunakan alat yang sama dan ketelitian sama, yang biasanya dikhususkan untuk cabang-cabang lain di luar politik.

Geopolitik adalah salah satu alat ini. Jika kita menganggap agama secara eksklusif dari sudut pandang politik, yaitu sebagai alat politik di antara alat politik lainnya, kita dapat secara kasar mengatakan, untuk memahami fenomena internasional di mana agama terlibat atau dilibatkan, maka seseorang harus mempelajari geopolitik, bukan agama.

Ini tentu saja merupakan jalan pintas, karena sifat spesifik dari masing-masing agama menjadikannya menjadi alat politik yang berbeda, tetapi memungkinkan menempatkannya pada urutan prioritas, secara metodologis.

Untuk lebih memahami apa yang kita maksudkan, kita dapat mengambil contoh Timur Tengah: jika seseorang ingin memelajari fenomena yang disebut ‘Negara Islam’, kita harus mempelajari perang proksi antara Iran, Arab Saudi, Turki dan Qatar yang bertujuan mengendalikan Suriah Raya dan peran kekuatan besar tradisional, bukan Alquran.

Dalam konflik ini, kontrol Suriah Raya adalah akhir, dan Alquran adalah salah satu cara yang digunakan untuk mencapai tujuan ini. Pada konteks yang sama kita bisa melihat dengan jelas apa maksud China saat berupaya menulis ulang kitab suci Alquran (dan Bible).

Bukan sekadar upaya untuk menyesuaikan paham agama dengan paham komunis ala China yang “berbau” Taoism, namun terutama untuk mendapatkan pijakan yang lebih kuat dalam mengendalikan kehidupan muslim Uyghur dan kehidupan beragama di daam negeri.

Sementara melalui pendekatan geopolitik, maka tidaklah mengherankan penceritaan mitos Zheng He (Cheng Ho) untuk membantu mengembangkan taktik dan praktik di lapangan dalam kerangka kebijakan politik luar negeri China dan menjembatani budaya di lingkungan yang peka terhadap agama di Indonesia dan Asia Tenggara.

Bukankah kisah pembenaran kooptasi wilayah laut negara tetangga di Laut China Selatan Laut Chia Timur, Laut Kuning dan Laut Natuna Utara melalui klaim 9 Dash line, juga dasar pengembangan Maritim Silk Road China, termasuk mengerdilkan kekuasaan kerajaan Nusantara di masa lalu yang disebutkan di Kitab Kitab kuno seperti Negara Kertagama, mendorong keberhasilan kesepakatan perdagangan ACFTA di negara Asia Tenggara.

(Untuk mengeliminir penolakan pribumi muslim dalam perdagangan dengan mengembangkan isu Indonesia dan China ada hubungan sejak zaman Cheng Ho dibumbui isu muslim padahal budha, China menggunakan diasporanya Pola distribusi barang dari pabrik di china sampai di indonesia semuanya dipegang oleh china, pas di toko retail saja yg dipegang oleh pribumi, ini sangat didukung total oleh pemerintah china, mulai dari produksi sampai distribusi diberikan insentif khusus)

Sebagai tambahan kajian umum ini, maka penggunaan agama dalam kebijakan luar negeri ini sebenarnya bukan hanya dilakukan oleh China. AS dan Rusia pun menggunakannya.

Agama sebagai Alat Geopolitik Rusia
Boris Yeltsin, presiden pertama pasca-Soviet Rusia, bergabung kembali dengan Gereja Ortodoks Rusia dan meminta Rusia untuk mempraktikkan kesabaran dan kerendahan hati serta berusaha keras untuk pemurnian spiritual.

Vladimir Putin kemudian mengintensifkan ikatan antara negara Rusia dan gereja. Putin telah mengkooptasi dan merangkum Gereja Ortodoks Rusia, memberikannya dana sebagai imbalan atas dukungannya.

Putin mengandalkan Gereja Ortodoks Rusia untuk membenarkan kebijakan luar negerinya yang agresif. Putin membela campur tangan dalam perang saudara Suriah dengan menunjukan kehadiran orang-orang Kristen Suriah dan mengklaim Rusia akan memulihkan komunitas Kristen yang terkena dampak pertempuran.

Putin mengandalkan otoritas Gereja Ortodoks Rusia atas Gereja Ortodoks Ukraina sebagai sarana untuk memengaruhi politik negara itu, dan itulah sebabnya perpecahan yang terakhir dari Gereja Rusia begitu signifikan.

Putin juga mencoba untuk “menjadikan dirinya sebagai pelindung iman” untuk mendapatkan dukungan di antara orang-orang Kristen Ortodoks, sebuah upaya yang digemakan oleh Gereja Ortodoks Rusia.

Selain itu, Putin telah membingkai Rusia sebagai pembela nilai-nilai konservatif. Putin telah mempromosikan Rusia sebagai “penyeimbang moral bagi Amerika Serikat” dan “benteng nilai-nilai tradisional.”

Ia membahas pencaplokan Krimea sebagai misi suci, dengan alasan semenanjung itu memiliki “nilai peradaban dan bahkan sakral yang tak terbantahkan” bagi negara itu. Putin mendorong nilai-nilai sosial konservatif di dalam Rusia, seperti tindakan keras terhadap LGBTQ Rusia dan pembatasan aborsi.

Seruan keagamaan ini berfungsi sebagai bentuk upaya kekuatan lunak dalam kebijakan luar negeri Rusia. Di sisi lain Rusia memanfaatkan kekuatan kerasnya dalam hubungan internasional, mengintimidasi dan mengancam tetangga-tetangganya dan ikut campur dalam politik AS.

Membingkai kebijakan ini sebagai bagian dari misi keagamaan adalah upaya untuk memberi mereka legitimasi yang dapat menarik dukungan internasional untuk ambisi internasional Rusia, sementara mendorong nilai-nilai konservatif dalam politik domestik dapat meningkatkan kekaguman terhadap Rusia di kalangan konservatif diseluruh dunia.

Agama sebagai Alat Geopolitik Amerika Serikat (AS)
AS telah menjalankan kebijakan agama sebagai bagian kekuatan lunak Amerika sejak Perang Dingin. Amerika mengibarkan identitas Kristen kepada sekutunya untuk memerangi seruan resmi Uni Soviet.

Presiden Dwight D Eisenhower menggunakan peran pengkhotbah evangelis Billy Graham yang terkenal sebagai “pendeta Amerika,” sebuah peran yang mencakup serangkaian kebangunan rohani di Jerman Barat yang bercampur dengan kesalehan dengan pesan-pesan anti-Komunis.

Amerika juga berusaha untuk mempromosikan monarki Saudi sebagai semacam “kepausan Islam,” dengan berharap umat Islam akan berbondong-bondong ke Saudi yang didukung AS, bukan rezim-rezim yang berpihak pada Soviet.

Kekuatan lunak keagamaan terus memainkan peran dalam kebijakan luar negeri AS ketika Amerika Serikat mendorong “Islam moderat” sebagai lawan Al-Qaeda. AS beralih ke negara-negara seperti Yordania sebagai model untuk “Islam moderat” dan menekankan musuh bersama mereka di Al-Qaeda.

Dalam sebuah pertemuan dengan Raja Yordania Abdullah, Presiden George W Bush berargumen, “perang kita melawan kejahatan, bukan melawan Islam,” dan mencatat “ribuan Muslim yang dengan bangga menyebut diri mereka orang Amerika.” Agama juga penting dalam kebijakan luar negeri Amerika di luar keamanan.

Dimulai pada akhir 1990-an, AS secara resmi mengadvokasi kebebasan beragama internasional (IRF) di seluruh dunia. Selama pemerintahan Obama, upaya Departemen Luar Negeri diperluas untuk mencakup keterlibatan agama yang lebih luas melalui pembentukan Kantor Agama dan Urusan Global (RGA) yang baru.

Bila IRF hanya menekankan politik “naming and shaming” (memuji dan mempermalukan) untuk menekan negara agar mengubah kebijakan mereka dan berusaha menunjukkan daya tarik toleransi beragama melalui upaya pengaruh.

Kantor RGA bergerak lebih jauh , bekerja mengadvokasi sekretaris negara tentang masalah-masalah agama, bekerja dengan komunitas-komunitas keagamaan di berbagai fungsi diplomatik, dan memfasilitasi upaya kantor-kantor Departemen Luar Negeri lainnya untuk memasukkan agama secara positif ke dalam pekerjaan mereka.

Kesimpulan
Di saat kebangkitan semangat keagamaan mulai mengemuka dalam kehidupan suatu negara maka tak pelak peran agama menjadi kajian yang mau tak mau harus dikembangkan sebagai salah satu alat kebijakan dalam dan luar negeri suatu negara.

Bukan untuk menjadikan negara agama, melainkan menggunakan kekuatan agama sebagai nilai tambah kebijakan. Dari sinilah perlunya mempelajari Geopolitik agama. Dengan kata lain, geopolitik agama bukan mempelajari agama secara tradisional tetapi menggunakan kekuatan lunak agama sebagai pembenar kebijakan suatu negara baik di dalam atau di luar negeri.

Isu isu yang dikembangkan pada kebijakan luar negeri suatu negara kepada negara lain tak lepas dari upaya memenangkan sebuah pengaruh baik nasional maupu internasional.

Sumber: di sini

Leave a Reply

Your email address will not be published.