Usir Inggris Soekarno Serukan Ganyang Malaysia

AWAL mula slogan Ganyang Malaysia ketika persekutuan Inggris dan Malaya ingin membentuk Federasi Negara Malaysia, yang melibatkan negara bagian seperti Brunei, Singapura, Serawak dan Sabah (Kalimantan Utara).

Maka, Soekarno pada tahun 1964 meneriakan: “Malaysia adalah bahaya, membahayai, membahayakan Revolusi Indonesia. Karena itu maka kita serempak seia-sekata, Malaysia harus kita ganjang habis-habisan.”

Alasan Inggris membentuk negara Federasi Malaysia lantaran mereka tidak siap untuk kehilangan sumber uang dari Malaya (nama lama dari Malaysia), Singapura, dan Kalimantan Utara (Brunai). Malaya merupakan penghasil timah, karet, dan minyak kelapa sawit.

Sedangkan Brunei merupakan tambang minyak dan Singapura merupakan pelabuhan transit yang bisa dijadikan pusat kendali kekuasaan maupun ekonomi.

Terlebih lagi, golongan pemberontak yang pada awal kemerdekaan Malaya, mengancam kedudukan raja-raja Melayu yang didukung Inggris, telah dilumpuhkan. Mereka tidak suka kaum pribumi yang menghamba pada kerajaan inggris.

Di sisi lain golongan pemberontak di Brunei, Singapura, Serawak, dan Sabah yang saat itu masih diduduki Inggris, terus melakukan perlawanan terhadap pemerintah Inggris.

Inggris tidak sanggup untuk mempertahankan wilayah-wilayah tersebut dalam jangka waktu yang lama setelah Perang Dunia II.

Dalam pandangan Indonesia, pembentukan Federasi Malaysia tak lebih sebagai salah satu bentuk persekongkolan para kolonialis Inggris dan pembentukan negara boneka Malaysia.

Filipina membuat klaim atas Sabah, dengan alasan daerah itu memiliki hubungan sejarah dengan Filipina melalui Kepulauan Sulu.

Merasa masih belum menemukan titik temu, akhirnya diadakan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) di Filipina pada 31 Juli sampai 5 Agustus 1963. PBB memutuskan, perlu adanya hak untuk negara-negara bagian untuk mengatakan kemauannya atau disebut Self Determination.

Belum genap PBB mengumumkan hasil Self Determination yang dijalankannya, Malaysia mengumumkan pada 16 September 1963 akan membentuk Negara Federasi Malaysia.

Akibatnya Indonesia dan Filipina memutuskan hubungan diplomatiknya. Lalu, muncul berbagai pemberontakan, terutama Sarawak hingga Sabah. Hingga akhirnya Brunei menolak bergabung dan Singapura keluar di kemudian hari.

Ketika PBB menerima Malaysia sebagai anggota tidak tetap, Soekarno menarik Indonesia dari PBB pada 20 Januari 1965 dan mencoba membentuk Konferensi Kekuatan Baru (Conference of New Emerging Forces, Conefo) sebagai alternatif.

Menjelang akhir 1965, Jendral Soeharto memegang kekuasaan di Indonesia setelah berlangsungnya kudeta. Oleh karena konflik domestik ini, keinginan Indonesia meneruskan perang dengan Malaysia menjadi berkurang dan peperangan mereda.

Pada 28 Mei 1966, di sebuah konferensi di Bangkok, Kerajaan Malaysia dan pemerintah Indonesia mengumumkan penyelesaian konflik. Kekerasan berakhir bulan Juni, dan perjanjian perdamaian ditanda tangani pada 11 Agustus 1966 dan diresmikan dua hari kemudian.

Sumber: di sini

Leave a Reply

Your email address will not be published.