Asal Mula Seni Rupa Bertema Pieta

MICHELANGELO bukan yang pertama dan bukan satu-satunya perupa yang membuat seni rupa bertema Pieta atau (belas kasih), sebuah tema seni rupa Kristiani yang menampilkan Bunda Maria berduka memangku jenazah Yesus.

Adegan ini mengambil waktu di antara penurunan Yesus dari salib sampai sebelum pemakaman-Nya. Kadang disertakan pula Yohanes, Maria Magdalena, Yusuf Arimatea, dan lainnya.

Munculnya Pieta dijiwai oleh refleksi iman di akhir Abad Pertengahan yang didominasi oleh refleksi atas penderitaan dan kesedihan. Wabah dan peperangan membuat adegan Pieta (seseorang yang berduka kehilangan orang yang dicintainya), menjadi sangat relevan.

Adegan Pieta direfleksikan dalam tulisan Santo Bonaventura (Meditations di abad 13), Santa Brigitta (Revelations di abad 14), serta kotbah-kotbah dan puisi para mistikus.

Sebelum menjadi seni rupa bernama Pieta, tema ini lebih sering disebut lamentation (ratapan duka). Bentuk mula-mula Pieta melibatkan tokoh-tokoh lain.

Bentuk-bentuk ini adalah gabungan antara ratapan dukacita Maria dengan dua adegan: adegan pemakaman Yesus (Duccio/kiri), atau adegan penurunan Yesus dari salib (Giotto/kanan). Keduanya dari awal abad 14.

Pieta dalam bentuk patung tunggal yang hanya memuat figur Maria-Yesus (Bunda-Putra) dalam kesunyian yang intim sekaligus emosional, muncul di Jerman sekitar abad 13 dan 14.

Secara umum, ada tiga tipe Pieta yang dapat dibedakan satu sama lainnya. Pertama, model awal yang berkembang di Jerman, yakni Kristus dalam posisi duduk, sementara kepala dan lututnya tertekuk kaku.

Ada tekanan pada bekas penderitaan Kristus pada model ini. Contohnya, Pieta kecil di Landesmuseum, Bonn (sekitar tahun 1320).

Kedua, lebih dipilih di Italia, yakni Kristus dalam posisi horisontal dalam pangkuan Bunda Maria. Tipe ini menekankan ratapan duka Maria dan adegan pemakaman Kristus. Seringkali disertai pula oleh tokoh-tokoh lain. Contohnya, Pieta dari Perugino (1483-1493).

Ketiga, yang cukup digemari di Prancis, yakni Kristus dalam posisi miring. Kepala dan kaki tidak tertekuk; menggambarkan adegan ketika Kristus diturunkan dari salib. Contohnya, Pieta Villeneuveles-Avignon (sekitar 1460). Maria tampak memandang Kristus dalam posisi berdoa.

Apa yang istimewa dari Pieta Michelangelo pada tahun 1498? Dia menggabungkan tema Pieta Italia (horisontal) dengan kesunyian-intimitas model Jerman dan tubuh terkulai dalam komposisi piramidal, yang menggambarkan transformasi dari derita menuju ketenangan dan kepasrahan heroik.

Ini Pieta terakhir dari Michelangelo (1550). Baru tahu kalau Michelangelo tidak hanya membuat satu Pieta? Masih ada dua yang lain lagi lho. Kalau masih hidup, barangkali sekarang beliau akan berpesan padamu, “Kurangi rebahan dan twitteran. Buatlah Pieta kalau lagi selo (longgar).”

Pada periode selanjutnya, model-model Pieta menjadi lebih fleksibel, meski tetap berakar pada tiga model di atas. Beberapa perupa ternama yang membuat Pieta antara lain Peter Paul Rubens dan Vincent Van Gogh.

Banyak pula Pieta dalam gaya seni kontemporer. Atau Pieta dengan kearifan lokal? Ini wayang karya Mas Indra, seorang perajin wayang yang sering membuat wayang-wayang bertema Katolik; tinggal di dekat Gereja Ganjuran.

Posisinya, mirip Pieta Michelangelo (Italia-Jerman), namun wajahnya lebih dekat-intim. Ada pula arya Romo Bayu Edvra. Busana kearifan lokal juga. Sepertinya ini posisi baru: ambruknya berhadap-hadapan, dengan posisi keduanya berlutut. Kayaknya menekankan dukacita seorang Ibu.

Dalam refleksi tentang Pieta dan ratapan dukacita, dukacita Maria dimahkotai oleh dukacita ibu-ibu yang anak-anak bayinya dibantai Herodes pada peristiwa kelahiran Yesus (Mat 2:16-18).

Keduanya punya kemiripan: ratapan ibu atas kematian anak-anak yang tidak berdosa! Namun, Pieta tidak hanya soal pengalaman manusiawi (dukacita, kehilangan, ratapan).

Pieta merangkum pula pengalaman rohani (kepasrahan, penyerahan, ketaatan, persembahan). Dalam Pieta Michelangelo, pengalaman itu digambarkan memuncak; bertransformasi dari bawah ke atas.

Wajah Maria dalam Pieta Michelangelo juga tampak begitu muda. Barangkali, ini mau menggambarkan bahwa ketaatan Maria atas kematian puteranya sama seperti ketaatan di masa mudanya, ketika ia berkata, “Aku ini hamba Tuhan. Jadilah padaku menurut perkataan-Mu”. (Luk 1:38)

Sebenarnya, Maria muncul juga dalam adegan “Pieta” yang lain. “Pieta” St. Yusuf menggambarkan Maria dan Yesus menemani St. Yusuf pada saat-saat kematiannya. Lagi-lagi, gambaran seseorang yang kehilangan dan berduka.

Patung langka ini salah satunya ada di Gereja Ambarawa. Maria, bagi Gereja, adalah figur Ibu yang menjadi teladan ketaatan iman. Ia tetap taat pada kehendak Allah, bahkan ketika kehendak Allah itu merenggut orang yang sangat dicintainya.

Pengalaman Pieta adalah pengalaman dukacita kita. Ketaatan Maria adalah teladan iman kita.

Sumber: di sini

Leave a Reply

Your email address will not be published.