Ini Rahasia di Balik Penulisan Kakawin Negarakertagama

LONTAR atau kakawin atau bisa dibilang kitab Negarakertagama (ada yang menulis Kretagama) merupakan legenda dan dokumen berharga bagai kalangan sejarawan dan penyuka sejarah. Kakawin Nagarakertagama atau disebut pula kakawin Desawarnana atau kakawin Desawarnana, bisa dikatakan merupakan Kakawin Jawa Kuno yang paling termasyhur.

Kakawin yang ditulis pada tahun 1365 ini adalah yang paling banyak diteliti pula. Pertama kali ditemukan tahun 1894 oleh Dr Jan Laurens Andries Brandes (JLA Brandes), ilmuwan Belanda yang mengiringi ekspedisi KNIL di Lombok.

Salah satu perintis arkeologi Indonesia ini menemukan naskah manuskrip Nagarakertagama pada saat Belanda (KNIL) menyerbu Puri Cakranegara, Lombok pada tahun 1894, sebelum istana raja itu dibakar.

Pria yang lahir di Rotterdam 13 Januari 1857 dan meninggal di Batavia 26 Juni 1905 pada umur 48 tahun itu, ahli filologi (ahli bahasa kuno), epigrafi (ahli tulisan kuno), kolektor barang kuno, dan leksikografi (ahli penyusun kamus bahasa langka).

Pada tahun 1979, untuk pertama kalinya, Negarakretagama bisa dibaca dalam bahasa Indonesia lewat terjemahan Prof Slamet Mulyana. Setidak ada 5 (lima) naskah Negarakertagama yang ditemukan.

Pada 7 Juli 1978 di Kota Antapura, Kabupaten Lombok, Pulau Bali ditemukan 1 (satu) naskah dengan judul Desawarnana, tersimpan di Geria Pidada, Karangasem. Lalu tahun 1874 di Puri Cakranegara, Pulau Lombok ditemukan 1 (satu) naskah dengan judul Nagarakertagama.

Selanjutnya, tidak diketahui angka tahun penemuannya, di Geria Pidada, Klungkung ditemukan turunan lontar Negarakertagama 1 (satu) naskah dan di Geria Carik Sideman ditemukan 2 (dua) naskah turunan Negarakertagama.

Peran Negarakertagama sebagai sumber sejarah kuno Indonesia relatif besar meski ada yang berpendapat Negarakertagama dipengaruhi unsur subjektif dalam rangka menyenangkan penguasa saat itu.

Negarakretagama memiliki nama lain, yakni Desawarnana atau uraian tentang desa-desa, seperti tercantum dalam pupuh 94. Nama ini ada karena Raja Hayam Wuruk sering turun ke bawah untuk menghormati nenek moyangnya dan masyarakatnya.

Negarakertagama merupakan sebuah “karya jurnalistik” terbaik, sementara Mpu Prapanca, boleh jadi disebut “wartawan” tersohor dari Kerajaan Majapahit. Namun, banyak hal yang masih terabaikan hingga kini, misalnya penelitian terhadap candi dan desa yang disebutkan di kitab itu.

Mpu Prapanca sendiri dipandang sebagai pelopor arkeologi Indonesia dan pendahulu historic archaeology karena Prapanca membuat semacam inventarisasi dan deskripsi mengenai berbagai jenis peninggalan purbakala yang ada pada zamannya.

Prapanca telah melakukan field survey (survei lapangan), suatu hal yamg menguntungkan dunia ilmu pengetahuan. Negarakertagama, bukan buku pertama yang ditulisnya.

Sebelumnya, Prapanca telah menulis Parwasagara, Bhismasaranantya, Sugataparwa, dan dua kitab lagi yang belum selesai, yaitu Saba Abda dan Lambang. Sayangnya, semua belum ditemukan atau ada kemungkinan sudah hancur.

Negarakertagama terdiri atas 98 pupuh. Naskahnya dimulai dengan pemujaan terhadap Raja Wilwatikta, yakni Raja Majapahit di zaman Raja Hayam Wuruk yang disebutkan sebagai Siwa-Budha yaitu Rajasanagara.

Tujuh pupuh berikutnya berisi tentang raja dan keluarganya, sembilan pupuh kemudian tentang istana dan kota Majapahit. Dari sinilah, sejarawan dan arkeolog merekonstruksi sejarah Majapahit.

Bagian paling panjang merupakan catatan perjalanan Hayam Wuruk ke Lumajang (23 pupuh) yang dilakukan pada Agustus sampai September 1359. Sepuluh pupuh di antaranya menceritakan silsilah singkat raja-raja Singasari dan Majapahit (Wangsa Girindra).

Maklum Singasari dan Majapahit merupakan dua kerajaan yang tidak dapat dipisahkan. Bagian berikutnya, menceritakan perburuan raja (10 pupuh), kisah Gadjah Mada (23 pupuh), dan upacara sraddha bagi ibunda raja (9 pupuh).

Dan tujuh pupuh terakhir menceritakan diri Prapanca sendiri. Dia adalah mpu atau pujangga yang hidup pada abad 14 zaman Majapahit dan merupakan mpu yang paling ternama saat itu.

Namanya dikenal oleh semua orang di Indonesia setelah menulis Kakawin Nagarakertagama yang termasyhur. Untuk menulis kakawin ini Prapanca tidak mendapatkan semua kebenaran itu dengan gratis.

Dia harus memisahkan diri dari rombongan Hayam Wuruk, dalam perjalanan keliling tahun 1359, untuk melihat kenyataan lain, yang tidak semua penulis masa itu berani melakukan, apalagi menuliskannya.

Dalam analisisnya, Slamet Mulyana mengungkapkan, meski naskah itu merupakan sebuah pujasastra kepada Dyah Hayam Wuruk Sri Rajasanagara, namun paham politik Prapanca sebenarnya tidak sejajar dengan Gajah Mada, yang telah menjadi pedoman semenjak pemerintahan Tribuwana Tunggadewi.

Penciptaan karya sastra ini sebagai tanda bakti kepada Prabu Hayam Wuruk walau dalam menulis kitab Negarakertagama, Prapanca sudah tidak tinggal lagi di lingkungan Keraton Majapahit.

Dia tidak lagi menjabat sebagai Dharmmadyaksa Kasagotan (pembesar urusan agama Buddha) tetapi hidup di Desa Kamalasana di lereng gunung sebagai pertapa. Prapanca meninggalkan Majapahit karena mendapat hinaan setelah kedudukannya tergeser dari kursi Dharmmadyaksa Kasagotan.

Saat itu, Prabu Hayam Wuruk percaya kepada fitnah seorang bangsawan terhadap dirinya. Tapi, Prapanca sama sekali tidak menaruh dendam terhadap sang Prabu bahkan memuja keagungan Prabu Hayam Wuruk.

Konon, ketika Raja Lasem berkuasa di Lombok, naskah Negarakertagama dibawa dari Bali ke Lombok. Dapat disimpulkan, Prapanca setelah meninggalkan Majapahit menetap di Desa Karangasem Bali.

Dari pupuh 17/8 diketahui, Prapanca adalah keturunan seorang Dharmadyaksa (pemimpin kegamaan) pada zaman pemerintahan Prabu Hayam Wuruk. Dia menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Dharmadyaksa dari 1358 sampai 1361 Masehi.

Sejak kecil Prapanca suka menghadap raja dengan maksud agar raja mengizinkannya mengikuti perjalanannya karena ingin merangkai sejarah wilayah negara dalam sebuah kekawin.

Nama Prapanca adalah nama samaran. Prapanca terdiri atas unsur Pra dan Panca, yang artinya pra lima, yaitu Prapanca, Pracacab, Prapongpong, Pracacat dan pracongcong yaitu cacat badaniah pengarangnya.

Jika tertawa terbahak bahak, pipinya sembab, matanya mengeluyu seperti orang ngantuk, cakapnya agak ganjil alias lucu. Nama Prapanca kemungkinan merupakan nama pena dan artinya adalah “bingung”.

Nama aslinya, Rangkwi Padelengan Dang Acarya Nadendra yang menjabat sebagai Dharmadyaksa Kasogatan pada pemerintahan Prabu Hayam Wuruk seperti tercantum dalam Piagam Trawulan dan Piagam Sekar.

Penggunaan Prapanca yang berarti kesedihan karena pada waktu menulis Nagarakertagama, hidupnya diliputi oleh kedukaan kehilangan jabatan Dharmmadyaksa Kasogatan dan pergi meninggalkan Majapahit, hidup di desa dalam kesepian.

Prapanca menulis Kitab Negarakertagama pada Saka 1287 (1365). Dia menguraikan tentang perjalanan keliling Prabu Hayam Wuruk ke Lumajang dan dirinya berada di antara rombongan.

Bagi sejarawan, kakawin ini dapat menjadi rujukan utama mengenai sejarah murni Majapahit. Sebab sang penulisnya sendiri, Mpu Prapanca, adalah saksi hidup yang langsung menyaksikan berbagai peristiwa di zaman kejayaan Majapahit.

Sebagai pertapa, Prapanca tidak lagi memiliki kepentingan kekuasaan atau politik tertentu. Selama menulis, dia menjauhkan diri dari kota dan menetap di lereng gunung di sebuah desa kecil bernama Kamalasana. Dia bisa menulis bebas tanpa ada tekanan, tanpa pamrih dan tedeng aling-aling.

Sumber: di sini

Salinan Kakawin Nagarakertagama (Terjemahan)

Leave a Reply

Your email address will not be published.