KKN di Desa Penari: Anton Membuka ‘Rahasia’ Bima di Kamar (12)

SIANG itu, Nur dan Anton, tengah mengerjakan proker (program kerja) mereka bersama warga desa. Tanpa sengaja melihat Widya dan Wahyu, serta Pak Prabu dan Ayu tengah mengendarai motor.

Mereka pergi meninggalkan desa, entah ke mana. “Nur, kancamu iku loh kok aneh seh.” (Nur, temanmu itu kok aneh sih) tiba-tiba, Anton mengatakan itu.

Read More

“Aneh? sopo?” (aneh, siapa). “Sopo maneh, kancamu, Bima” (siapa lagi, temanmu, si Bima). “Aneh yo opo?” (aneh bagaimana).

“Aku gelek ndelok cah kui ngomong dewe, ngguya-ngguyu dewe nang kamar, trus, sepurane yo Nur, aku tau ndelok areke ‘onani.”

(aku sering melihat anak itu bicara sendiri, tersenyam-senyum di kamar, bahkan, aku pernah melihatnya, mohon maaf ya Nur, anak itu onani dalam kamar).

Nur yang mendengar itu tidak bereaksi apapun, hanya berucap: “Halah, gak mungkinlah.” Seakan apa yang dikatakan Anton hanya gurauan. “Temen? sumpah!!” (serius? beneran!!).

“Ambek, ojok ngomong sopo-sopo yo, temen yo, tak kandani?” (sama, tapi janji jangan bilang siapa-siapa ya).

“Kancamu kui, gelek gowo muleh sesajen, trus, dideleh nang ngisor bayange,” (temanmu itu, sering membawa pulang sesajen, trus dia menaruh benda itu di bawah ranjang).

Nur masih mencoba menahan diri, ia masih tidak bereaksi mendengar Bima di tuduh seperti itu oleh Anton. Seketika emosi Nur tak terbendung saat Anton mengatakan itu.

“Trus, nang ndukur sesajen iku, onok fotone kancamu, Widya, opo, Bima kate melet Widya yo.” (trus, di atas sesajen itu, aku menemukan foto temanmu, Widya, apa, Bima mau pelet si Widya ya).

“Awakmu, dijogo yo lambene, ojok maen fitnah.” (kamu itu, tolong di jaga mulutnya, jangan maen fitnah seperti ini). “Nek, awakmu gak percoyo, ayok tak jak nang kamare, ben awakmu ndelok, nek aku gak mbujuk”

(kamu kalau gak percaya ayo sini ikut, tak tunjukkan kalau aku-tidak pernah berbohong). Mendengar Anton menantang seperti itu, saat itu juga, Nur mengikuti Anton yang tengah berjalan menuju tempat mereka menginap.

Nur tidak bisa berbicara apa-apa saat melihat itu di depan mata kepalanya sendiri, seperti Nur ingin menghantam kepala Bima saat itu juga. Ia tidak pernah tahu, Bima segila itu.

Teman sepondok pesantrenya jadi seperti itu. “Aku wani ngajak awakmu awan ngene soale aku nek ngene iki, Bima nang kebon kaspe ambek Ayu, nggarap prokere, gak masalah opo-opo, tapi, asline aku wedi yu, ben bengi, aku krungu suoro arek wedok nang kene.”

(alasan kenapa aku berani ngajak kamu kesini karena aku tahu, si Bima dan Ayu pasti sekarang garap prokernya di kebun ubi, bukan masalah apa-apa sih, tapi sebenarnya aku takut, setiap malam, aku dengar suara perempuan di sini).

Ucapan Anton yang terakhir, membuat Ayu tidak dapat bicara lagi, saat ia, termenung sendiri, entah kenapa, insting Nur, mengatakan ada yang disembunyikan oleh temannya.

“Sopo sing nang kamar ambek Bima?” (siapa yang ada dikamar sama Bima?). “Yo iku masalahne” (itu masalahnya). “Ben tak enteni cah iku metu, gak onok sing metu teko kamare.” (setiap tak tungguin, tidak ada yang keluar dari kamarnya).

Nur tiba-tiba mendekati almari, ia merasa mendengar sesuatu di sana. Tepat ketika, almari itu terbuka, Nur dan Anton tersentak kaget saat melihat, ada ular di dalamnya.

Ular itu berwarna hijau, kemudian lenyap setelah melewati jendela posyandu. Anton dan Nur hanya saling menatap satu sama lain, tidak ada hal lagi yang harus mereka bicarakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.