KKN di Desa Penari: Bertemu Lelaki Renta yang Dipanggil ‘Mbah Buyut’ (9)

AYU menawarkan diri, Nur menolaknya. Ada hal yang mau di luruskan, bukan prokernya, namun apa yang sebenarnya terjadi di sini. Pak Prabu pasti tahu sesuatu, setidaknya itu asumsi Nur.

Ia merasa harus bertemu beliau malam ini, seakan-akan ada yang membisikinya bahwa, ia harus pergi ke rumah Pak Prabu. Benar saja. Pak Prabu duduk di teras rumah, seakan-akan, beliau sudah menunggunya, dan ada sosok lain yang duduk bersamanya, seorang lelaki renta.

Read More

Ia duduk, sembari mengisap bakau lintingan, dan ketika Nur datang, si lelaki tua, tersenyum seperti mengenali. Nur mendekat, memberi salam, Pak Prabu tersenyum ramah seperti biasanya, lalu mempersilakan Nur duduk.

Mata Nur lebih tertuju pada 3 gelas kopi yang tersaji. “Niki tiyange ten pundi to pak, kopine kelebihan setunggal??” (ini yang punya ke mana ya pak, kopinya kelebihan satu?).

“Iku kopi, gawe awakmu, cah ayu” (itu kopi untuk kamu, mbak yang cantik), ucap lelaki renta itu. ia masih tersenyum, memandang Nur.
“Ngapunten mbah, kulo mboten ngopi” (mohon maaf kek, saya tidak minum kopi).

“Wes ta lah, di ombe sek, gak oleh nolak paringane tuan rumah nang kene yo. Gak apik” (sudahlah, di minum dulu, gak baik nolak pemberian tuan rumah di sini. tidak bagus). “Nggih pak” ucap Nur.

Ketika Nur menyesap kopinya, aneh, kopi itu terasa seperti aroma melati. Rasanya manis, dan ia tidak menemukan ampas, padahal dari luar, kopi itu terlihat seperti kopi hitam yang sekali lihat, bisa dirasakan rasanya akan sepahit apa. Si kakek bertanya.

“Yo opo rasane?” “Enak Mbah.” Si mbah mengangguk puas, kemudian bertanya : “Sak iki ceritakno, onok opo, cah ayu mrene?” (sekarang, kamu boleh cerita, kenapa kamu ke sini anak cantik).

“Kulo bade tandet ten Pak Prabu mbah” (saya mau tanya sama pak Prabu kek). “Takon perkoro” (tanya soal). “Kulo diketoke memedi sing gedhe mbah. Kulo wedi mbah, nganggo salah ten mriki. Ngapunten nek kulo enten salah nang njenengan warga mriki.”

(saya di ikuti oleh sosok besar kek, saya takut. apa saya sudah melakukan kesalahan, sehingga saya dikejar, apa ada yang saya perbuat dan membuat tidak nyaman warga sini, saya minta maaf sebesar-besarnya).

Saat itulah, pak Prabu bicara. “Ndok, guduk salahmu kok, sing ngetutke awakmu, iku ngunu, gak nyaman, mbek sing mok gowo.” (Nak, ini bukan salahmu, alasan kenapa kamu diikuti, karena kamu bawa sesuatu dari luar).

“Maksude yok nopo pak, kulo mboten ngetos.” (maksudnya bagaimana pak, saya tidak mengerti).
Si kakek, kemudian melanjutkan. “Awakmu ndok, iku ngunu, onok sing njogo, yo sopo? Mbah-mbah, nah, iku sing gak di terimo nang kene. ngerti ndok.”

(kamu itu nak, ada yang menjaga, siapa ya? nenek-nenek, nah, itu yang tidak diterima disini. paham nak). “Kulo, njogo? ngapunten, kulo mboten paham” (saya, menjaga, mohon maaf, saya belum mengerti).

“Wes, ngene ae, mene bengi, mampir rene maneh yo, tak duduno sesuatu.” (sudah begini saja, besok malam, kamu kesini, saya tunjukkan sesuatu sama kamu).

Meski tidak mengerti maksud ucapan Pak Prabu dan lelaki renta itu, Nur akhirnya kembali ke penginapaa. dengan membawa nama lelaki renta itu, yang menyebut dirinya dengan nama “Mbah Buyut”.

Yang pertama Nur lihat saat ia menginjak penginapan adalah, Widya. Ia seperti sudah menunggunya, dan benar saja, Widya mengajukan pertanyaan aneh, seperti darimana, kenapa tidak minta ditemenin.

Nur tidak ingin menceritakanya, ia takut bila Widya dan yang lain terlibat. Nur langsung pergi ke kamar, beristirahat, meski pikiranya masih menerawang jauh, ia tidak tahu harus melakukan apa selain menyimpannya sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published.