KKN di Desa Penari: Cium Aroma Amis di Bilik Mandi (7)

SEMUA anak melanjutkan tur mereka bersama Pak Prabu, sementara Nur dan Bima, berjalan kembali ke area rumah tempat mereka menginap. “Onok opo Nur? Setan maneh?” (ada apa Nur? ada hantu lagi?).

Dari semua anak, memang tidak ada yang lebih mengenal Nur daripada si Bima, temannya bahkan saat mondok dulu. Nur hanya tersenyum kecut, menjawabnya seadanya, bila mungkin kesehatanya sudah menurun, namun Bima tahu, Nur berbohong.

Read More

“Nang kuburan mau, rame ya” (di pemakaman tadi, rame ya). Ucapan Bima tidak digubris sama sekali oleh Nur, sehingga Bima akhirnya menyerah. Di tengah perjalanan pulang itu, tiba-tiba Bima menanyakan sesuatu yang membuat Nur menaruh curiga kepada Bima.

“Nur, aku takok. Widya wes duwe pacar rung. (Nur, Widya itu sudah punya pacar apa belum sih?)
“Piye?” (gimana?) tanya Nur lagi.
“Kancamu” (temanmu) Widya loh, wes onok pacar opo durung?” (Widya loh, sudah punya pacar apa belum)
“Takono dewe ae yo” (tanyakan sendiri saja ya)

Nur tahu, Bima suka kepada Widya hari itu. Nur yang menghabiskan sebagian siangnya di dalam kamar, terbangun ketika Ayu memanggilnya. Semua anak sudah berkumplul.

Ayu menunjukkan proposal proker mana saja yang sudah disetujui Pak Prabu, di mana Ayu, membagi menjadi 3 kelompok, terlepas dari 1 proker kelompok Widya dengan Wahyu, Nur dengan Anton, sementara Bima dengan Ayu.

Semua anak sepakat, tidak ada yang komentar banyak, mengingat, Ayu yang paling berjasa sehingga bisa mendapatkan tempat KKN tanpa campur tangan pihak kampus. Lusa, adalah awal dari persiapan proker mereka.

Sore datang, ketika Nur baru saja selesai merapikan barangnya untuk persiapan proker kelompok, Widya masuk ke kamar.

“Nur, ados yok” (Nur, mandi yuk)
“Nang ndi?” (di mana?) tanya Nur,
“Nang bilik sebelah kali, cidek Sinden kui loh, eroh kan awakmu, kolam cilik”
(di bilik sebelahnya sungai, ada sebuah bilik kecil, tahu kan, yang bangunanya kaya kolam itu loh)

Nur tidak menjawab. namun setelah memikirkan, bahwa ia belum membasuh badannya sejak pertama kali datang, ia setuju. dengan syarat, Nur mau menjadi yang pertama mandi.

Saat melewati Sinden (kolam), Nur sudah merasakan perasaan tidak nyaman. Sinden itu terdiri dari anak tangga yang tersusun dari batu bata merah. Tampaknya bangunanya sudah sangat tua.

Ada air jernih di dalamnya namun, Nur tidak pernah melihat ada yang menggunakan air itu. Selain itu, fokus Nur tentu pada bentuk menyerupai candi kecil di belakangnya, dan di pelataran candi, ada sesajen, hal yang sudah lumrah di tempat ini.

Hanya saja, Nur tidak melihat adanya gangguan saat ia mengamati Sinden itu. Sampailah mereka di bilik, yang di belakangnya ada pohon besar. Pohonnya rindang dengan rimbun semak di samping bilik.

Widya memberitahu Nur, bila di dalamnya ada kendi besar yang sudah diisi oleh warga dari sungai, dan memang untuk mandi anak-anak KKN. Baru masuk, Nur langsung mencium aroma amis seperti aroma daging busuk.

Nur mencoba mengerti, mengingat biliknya sendiri tidak terlihat seperti kamar mandi yang bersih; Lantainya dari tanah, sedangkan kiri-kanan dipenuhi lumut, jadi Nur mencoba memaklumi.

Ia segera membasuh badan dengan air di dalam kendi. Ada perasaan aneh ketika air membilas badanya, seperti ada benda kecil, yang mengganjal saat bersentuhan dengan kulit Nur.

Ketika, di perhatikan dengan seksama, apa yang ada di dalam kendi, air itu dipenuhi rambut. Nur kaget, istighfar terus menerus, sembari beringsut mundur. Ia mencoba memanggil Widya. namun aneh, tidak ada jawaban apapun dari Widya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.