KKN di Desa Penari: Gumpalan Rambut di Dalam Teko Minum (13)

SEJAK itu, Nur selalu mengawasi Bima, bahkan ketika akhirnya Pak Prabu tiba-tiba mengatakan, mereka semua akan tinggal satu atap. Meski terpisah sekat, dari situ juga, Nur jadi lebih tahu, Bima seringkali mengawasi Widya tanpa sepengetahuan siapapun.

Yang paling tidak bisa Nur lupakan adalah, saat ia bertanya perilah kenapa ia jarang melihat Bima salat lagi. Bima selalu berdalih, tidak ada alasan kenapa ia harus mengatakan pada orang saat ia beribadah.

Read More

Meski Bima selalu bisa membalik pertanyaan Nur, ia tahu, Bima berbohong. Puncaknya, sore hari, Nur baru saja selesai salat Asar di dalam kamar, tiba-tiba, ia mendengar suara bising dari samping kamar.

Nur beranjak, mencari sumber suara. Ia melihat Bima, sedang menabur sesuatu di tempat di mana Widya biasa duduk. Nur yang selalu membersihkan bunga-bungaan itu. Aneh, namun kelakuan Bima semakin membuat Nur penasaran.

Masalah tidak hanya berhenti di Bima saja, melainkan sahabatnya Widya. Setelah Maghrib, Nur pergi ke dapur untuk minum, saat, ia melihat Widya menatapnya. Wajahnya kaget dan bingung melihat Nur.

“Lapo Wid?” tanya Nur yang juga kaget dan bingung. Mata mereka saling bertemu, hanya untuk saling mengamati satu sama lain.

Ketika Nur mendekati Widya, tiba-tiba Widya berlari ke kamar, lalu kembali menemui Nur, matanya tampak seperti baru saja melihat setan.

“Onok opo toh asline?” (ada apa sih sebenarnya?) tanya Nur dan Nur melihat tangan Widya sampai gemetaran.

Nur tidak tahu, kenapa Widya menjadi seperti ini, sampai pertanyaan Ayu, membuat Nur terhenyak dan menyadari anak-anak semua berkumpul di sana.

“Ramene, onok opo toh” (ramai sekali, ada apa sih) tanya Ayu. “Gak eroh, cah iki, di jak ngomong ket mau, meneng tok” (tidak tahu, anak ini, di ajak ngomong diam saja daritadi).

“Lapo Wid?” (kenapa Wid?) tanya Wahyu yang mendekati. “Tanganmu kok sampe gemetaran ngene, onok opo seh asline?” (tanganmu kok sampai gemetar begini, ada apa?),” kata Anton tidak kalah penasaran.

“Nur, jupukno ngombe kunu loh, kok tambah meneng ae” (Nur ambilkan air minum gitu loh, kok malah diam saja). Kaget mendengar teguran Anton, Nur lalu mengambil teko air, dan memberikanya kepada Widya.

Di sini hal mengerikan itu terjadi. Ketika Widya meneguk air dari teko yang sama dengan teko yang Nur minum tadi, tiba-tiba Widya berhenti meneguknya, membiarkan air itu berhenti di dalam mulutnya.

Widya kemudian memasukkan jemarinya ke mulut, dan dari sana, keluar berhelai-helai rambut hitam panjang. Nur dan yang lainya terperangah manakala Widya menarik sulur rambut itu dengan tanganya.

Tidak ada yang bisa berkomentar, lalu, Widya memeriksa isi teko, di sana, semua orang melihat, di dalamnya, ada segumpal rambut hitam panjang di dalamnya.

Insiden itu membuat Widya memuntahkan isi perutnya. Di tengah ketegangan itu, Anton tiba-tiba berucap: “Wid, awakmu diincer ya, nek jare mbahku, lek onok rambut gak koro metu, iku nek gak di santet yo di incer demit.”

(Wid, ada yang ngincar kamu ya, kalau kata kakekku, bila tiba-tiba keluar rambut entah darimana, biasanya kalau tidak di santet ya di incar setan).

Ucapan Anton, membuat suasana semakin tidak kondusif. Tiba-tiba Nur, teringat dengan sosok penari yang ia lihat. “Wid, opo penari iku jek ngetutno awakmu, soale ket wingi, aku gorong ndelok nang mburimu maneh.”

(Wid, apa penari itu masih mengikuti kamu, soalnya dari kemarin, aku belum melihatnya lagi) ucapan spontan Nur, membuat semua orang mengerutkan dahi, sehingga Nur akhirnya diam.

Leave a Reply

Your email address will not be published.