KKN di Desa Penari: Mbah Buyut Mengenalkan Desa Brosoto (11)

NUR melihat, Wahyu, Ayu, ibu pemilik rumah, Widya. Entah apa yang mereka lakukan, Nur belum mengerti sama sekali. Yang ia dengar hanya ucapan ibu pemilik rumah.

“Wes, wes, ayo nduk, mlebu nduk, wis bengi” (sudah, sudah, ayo masuk, sudah malam). Namun, ketika mata Nur dan Widya bertemu, ada tatapan kebingungan di sana.

Read More

Wahyu kembali ke posyandu tempat ia menginap, sementara si ibu pemilik rumah, menggandeng Widya masuk rumah. Hanya tinggal Ayu dan Nur yang ada di luar rumah. “Onok opo toh yu, kok rame men.”

(ada apa sih yu, kok berisik sekali?). “Wahyu, jarene ndelok Widya nari nang kene. Mboh lapo, aku yo kaget pas ndelok, gak onok Widya nang kamar.”

(Wahyu, bilang, melihat Widya sedang menari disini, entahlah kok bisa, aku juga kaget waktu melihat Widya tidak ada didalam kamar).

Nur yang mendengar itu, hanya diam, sembari memikirkan mimpinya. Widya, hanya itu yang terbesit dalam pikirannya Nur. Ia tahu, ada yang janggal dari dirinya, Widya dan tempat ini.

Keesokan hari, sesuai janji yang Nur buat, ia bertemu dengan Mbah Buyut dengan Pak Prabu, kali ini, Nur diizinkan masuk ke rumahnya. Yang Mbah Buyut pertama ucapkan adalah “Nduk, mambengi ngimpi opo?” (nak, semalam kamu mimpi apa).

Nur menceritakan semuanya, termasuk insiden saat ia melihat Widya yang dipergoki Wahyu tengah menari di malam buta. Mbah Buyut hanya mengangguk, tidak berbicara apapun, ia hanya berujar, bahwa, yang ingin di ketahui Nur, adalah sosok hitam yang mengikutinya.

Malam itu, Pak Prabu, Mbah Buyut, dan Nur pergi ke sebuah batu, tempat pertama kali Nur melihat sosok hitam itu. Di sana, Pak Prabu, menggorok seekor ayam, di mana darahnya ditiriskan di sebuah wadah, sebelum menyiramkanya di batu itu.

“Nduk, awakmu percoyo, nek gok alas iki, onok deso maneh, sing jenenge Deso Brosoto” (nak, kamu percaya, di hutan ini, ada desa lain yang namanya desa halus).

Nur mengangguk, ia percaya. Mbah Buyut tersenyum, “Sing bakal mok delok iki, siji tekan atusan ewu wargane deso iku.” (yang akan kamu lihat sebentar lagi, itu satu dari ratusan ribu penghuni dari desa itu).

Nur terdiam mendengarnya, dan benar saja, ia bisa melihat makhluk hitam itu, tengah menjilati batu yang baru diguyur darah ayam kampung. Makhluk itu, hanya menjilati darah itu.

Kemudian, Pak Prabu berkata:”Awakmu sadar utowo gak, asline, awakmu gowo barang alus sing dianggap tamu nang deso iki, coro aluse ngunu yo nduk.” (kamu sadar atau tidak, sebenarnya, membawa tamu ke desa ini, cara gampangnya gitu).

“Tamu sing mok gowo, iku ngunu seneng ngejak geger ambeh warga deso iki.” (tamu yang kamu bawa itu, suka sekali membuat masalah di desa ini).

“Masalahe, sing mok gowo iku wes dikunci nang njero sukmomu, nek di jopok, awakmu isok mati.” (masalahnya, barang itu sudah terikat di sukma kamu, bila diambil, kamu bisa mati).

“Aku wes ngerembukno karo Mbah Buyut, nek barangmu gak usah dijopok, tapi, diculno, selama awakmu masih onok nang kene, barangmu kepisah ambek awakmu.”

(aku sudah berunding sama Mbah Buyut, bila apa yang ada dalam diri kamu, gak usah diambil, tapi dilepaskan saja, selama kamu masih di sini, dia tidak akan pergi jauh).

“Barang nopo to mbah?” (barang seperti apa?). Mbah Buyut mendekati Nur, sebelum, menarik ubun-ubunya, kemudian melemparkanya ke batu itu. Setelah itu, Nur, tidak bisa melihat makhluk hitam itu lagi.

“Wes mari nduk, sak iki, awakmu isok fokus garap tugasmu, gak bakal onok sing nganggu maneh” (sudah selesai nak, sekarang, kamu bisa fokus garap tugasmu, gak akan ada yang ganggu kamu lagi).

Leave a Reply

Your email address will not be published.