KKN di Desa Penari: Mimpi Bertemu Ular Bersisik Hijau Jamrud (10)

BERHARAP mendapatkan ketenangan dalam tidurnya, Nur malah mendapat mimpi, tak terlupakan, sepeti sebuah pesan untuknya. Di mimpi itu, Nur melihat sebuah tempat, banyak pepohonan yang tumbuh.

Salah satu yang tidak akan pernah Nur lupakan adalah pohon Jati kroyo atau lebih dikenal dengan nama jati belanda, yang tumbuh di sepanjang mata memandang.

Read More

Bukan hanya itu, ada rimbun tumbuh tanaman beluntas. Aroma dedaunan beluntas yang wangu, membuat Nur mengingat kembali saat masih tinggal di pesantren. Nur sadar, saat ini, berdiri di tengah hutan belantara, sendirian, dengan kegelapan malam yang menyiutkan nyalinya.

Nur, mulai berjalan, menyusuri tanah lapang. Sejauh mata memandang, Nur hanya melihat pepohonan yang besar diselimuti kabut keputihan. Tepat ketika Nur tengah berjalan, ia mendengar riuh sorai dari kejauhan.

Dari suara itu, terdengar ramai orang, entah ada apa, sehingga keramaian itu, membuat Nur penasaran, ia pun mendekati semakin mendekati sumber suara. Nur merasa janggal.

Entah apakah dari balik pepohonan atau semak belukar, ada yang tengah mengasinya. Nur hanya mengucap kalimat yang bisa menguatkan batinya, bahwa ia, di sini, bukan berniat menganggu.

“Mbah, ngapunten, cucune numpang lewat, mboten gada niat nganggu. ngapunten nggih mbah” (mbah, mohon maaf, cucumu hanya ingin lewat, tidak ada keinginan mengganggu, mohon maaf ya mbah).

Kalimat itu, terus Nur, ucapkan. dan, sampailah, ia, di keramaian itu. Banyak sekali orang, mulai dari yang tua, hingga yang muda, dari anak-anak sampai remaja.

Mereka semua berkumpul menjadi satu, di depan sebuah sanggar besar. Ada alunan musik gamelan, yang mengalun merdu, tepat, di tengah sanggar, ada sosok penari yang sangat cantik.

Nur tidak pernah tahu, ada tempat seperti ini di desa ini. Sebelumnya, ia memang tidak mengikuti Pak Prabu saat mengajak semua rombongan temanya berkeliling kampung, maka, saat itu, Nur hanya berpikir, di tempat inilah, warga kampung mengadakan hajatan.

Nur masih belum menyadari, kenapa dan bagaimana ia bisa sampai di sana, yang ia tahu, ia tersesat. Ketika Nur asyik menikmati pertunjukkan itu, tiba-tiba, terdengar sayup seseorang berteriak.

Anehnya, hanya Nur yang merasa mendengarnya, teriakanya pilu, meminta tolong. Nur meninggalkan keramaian itu. Matanya awas mencari sumber suara yang meminta tolong itu.

Nahas, ketika Nur tengah berjalan, ia terpelosok jatuh dari sebuah bukit yang tidak terlalu tinggi, mencoba bangkit, Nur melihat kakinya mati rasa. Saat itulah, Nur melihatnya.

Seekor ular menatapnya, ia mendesis, membuat Nur hanya bisa terpaku melihatnya. Sisiknya hijau jamrud, meski ukuranya tidak terlalu besar, ular itu cukup membuat Nur ketakutan.

Dengan tenaga yang tersisa, Nur merangkak menjauhinya. Masalahnya, adalah, setelah itu, muncul orang yang Nur kenal, sosok yang berjalan mendekati Nur, Widya,

Widya memeluk ular itu, seperti peliharaanya, membiarkan ular itu, melilit lenganya, seakan-akan ular itu adalah temannya. Melihat itu, Nur tidak tahu harus bicara apa.

Nur tersentak dari tidurnya setelah mendengar suara bising dari luar rumah. Meski masih dalam keadaan shock, Nur segera berlari menuju suara bising itu. Rupanya, di luar rumah, ramai orang tengah berkumpul.

Leave a Reply

Your email address will not be published.