KKN di Desa Penari: Nekat Menyusuri Tapak Tilas yang Dikeramatkan Warga (14)

SETELAH kejadian itu, Nur merasa bersalah, sehingga ia mencoba menjauhi Widya, di sini, tanpa sengaja, Nur mencuri dengar suara seseorang yang tengah berteriak satu sama lain.

Nur terdiam untuk mendengarkan. Rupanya, suara itu berasal dari Ayu dan Bima. Untuk apa mereka berkelahi. Ada satu kalimat yang paling diingat oleh Nur.

Read More

“Nang endi Kawaturih sing tak kek’no awakmu, aku kan ngongkon awakmu ngekekno nang Widya seh!!! kok arek’e gorong nerimo iku!!”

(di mana mahkota putih yang aku serahkan sama kamu. Aku kan sudah nyuruh kamu memberikanya kepada Widya!! kok dia belum nerima benda itu).

Nur tidak memahami maksud mahkota putih itu, namun, Nur mengerti, ada sesuatu, di antara mereka. Semenjak kejadian itu, Nur merasa, firasatnya semakin buruk, dimulai dengan suara berbisik dari warga.

Banyak warga yang mengeluhkan, proker Ayu dan Bima adalah proker yang paling banyak ditentang. Nur belum paham alasan kenapa ditentang sampai Anton memberitahu.

“Bima, kancamu kui, kate gawe rumah bibit, nang nduwor Tapak Tilas, yo jelas ditentang, wong enggon iku keramat.”

(temanmu si Bima, dia mau buat rumah bibit, di jalan tapak tilas, tentu saja banyak yang gak terima, itu tempat dikeramatkan).

Nur masih belum mengerti maksud Anton. “Tapak Tilas, nggon opo iku, kok sampe di larang, kan bagus proker’e gawe kemajuan desa iki” (Tapak tilas itu tempat apa, kok sampai di larang, kan bagus proker mereka untuk kemajuan desa ini).

Ucap Nur:”Yo aku gak eroh, wong, dilarang kok” (ya aku mana tau, pokoknya dilarang). “Nang endi seh, nggon iku, kok aku gak eroh, awakmu isok ngeterno aku gak?” (di mana sih tempatnya, kok aku gak tau, kamu bisa antarkan aku ke sana) ucap Nur penasaran.

“Lha matamu, gendeng no, wong Pak Prabu ae mewanti ojok sampe mlebu kunu, iku ngunu langsung alas” (lha, matamu, gila aja, pak Prabu sendiri melarang masuk kesana, itu tempat langsung ke hutan belantara).

Namun, Nur masih penasaran, sehingga ia tetap bersikeras mau ke sana. Ia bertanya kepada Anton meski dengan mengatakan bahwa ia bertanya untuk menghindari tempat itu.

Anton, setuju. ia memberitahu ancer-ancer (letak) tempat itu berada, yang ternyata adalah lereng bukit dengan satu jalan setapak ke atas. Di sampingnya, memang adalah perkebunan ubi tempat Bima dan Ayu melaksakan proker.

Sore itu, 2 anak itu tidak ada di sana. entah ke mana. Selesai memberitahu, Anton mengajak Nur pergi ke sana, namun, Nur mengatakan, sore itu ada janji temu dengan Pak Prabu, jadi jalan mereka akan berpisah.

Awalnya Anton curiga, namun akhirnya ia percaya dan pergi. Setelah Anton pergi, Nur menatap tempat itu, lama sekali. Ada gapura kecil, sama seperti yang lain, ada sesajen di sana.

Tidak hanya itu, gapura itu di ikat dengan kain merah dan hitam, yang menandakan bahwa tempat itu sangat dilarang. Insting rasa penasaranya sudah tidak tertahankan lagi, seperti memanggil.

Jalanya menanjak dengan sulur akar dan pohon besar di sana-sini, butuh perjuangan untuk naik. Anehnya, jalan setapak ini seperti sengaja di buat untuk satu orang, sehingga jalurnya mudah untuk ditelusuri.

Jalurnya menyerupai lorong panjang dengan pemandangan alam terbuka. Nur menyusuri tempat itu. Langit sudah berwarna oranye, menandakan hanya tinggal beberapa jam lagi, petang akan datang.

Meski tidak tahu apa yang Nur lakukan, namun perasaanya seolah terus menerus mendesaknya untuk melihat ujung jalan setapak ini, ke mana ia membawanya.

Angin berembus kencang, dan setiap embusanya, membawa Nur semakin jauh masuk ke dalam. Ia tidak akan bisa keluar dari jalan setapak karena rimbunya semak belukar dengan duri tajam yang bisa menyayat kulit dan kakinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.