KKN di Desa Penari: Nur Merasakan Angin Dingin di Pemakaman (6)

NUR tercekat, ia beringsut mundur, menutup wajahnya dengan selimut yang ia bawa. Pancaran wajahnya terbayang di dalam kepala Nur, mengingatnya, benar-benar membuat jantung di dadanya, berdegup kencang.

Nur masih ingat, tanduk kerbau di kepalanya, pancaran amarahnya seolah membuat Nur, semakin tersudut dalam ketakutan. Tanpa sadar, Nur mulai membaca Ayat Kursi.

Read More

Satu dari banyak ayat yang diajarkan gurunya, untuk menolak rasa takut, untuk menunjukkan manusia memiliki kekuatan untuk melawan. Setiap ia menyelesaikan satu panjatan doa, diikuti oleh suara papan kayu yang digebrak dengan serampangan.

Kerasnya suara itu, menghantam. Nur mulai menangis, menangis sendirian. Ia tahu, makhluk itu masih di sana, tidak terima dengan apa yang ia lakukan, salahkah bila ia meminta bantuan pada Tuhan. Salahkah.

Tepat ketika isi hati Nur menyeruak, perlahan, suara itu menghilang, hilang, hilang, berganti hening. Nur terbangun ketika Subuh memanggil, ia masih belum mengerti, apakah itu mimpi, atau benar-benar terjadi, yang ia tahu, ia harus menjalankan tugasnya.

Sebagai seorang muslimah yang taat, ia, tidak boleh meninggalkan salat. Nur meyakinkan dirinya, tidak akan bercerita, bahkan, kepada 2 sahabatnya, atas apa yang baru saja menimpanya.

Pagi hari itu, Pak Prabu mengumpulkan semua anak, akan memperkenalkan keseluruhan desa, dan mana saja yang bisa di jadikan proker untuk mereka kerjakan sesuai kesepakatan tiap anak.

Pak Prabu menjelaskan sembari berjalan, sementara anak-anak mengikuti. Tidak ada yang menarik dari penjelasan Pak Prabu tentang desa itu, bahkan Pak Prabu terkesan menyembunyikan sejarah desa itu.

Hal itu membuat Nur semakin curiga, selain hal-hal umum, hanya Wahyu, katingnya yang selalu menimpali ucapak pak Prabu dengan candaan, membuat tawanya pecah.

Semua terasa alami, seperti KKN yang Nur bayangkan, sampai, mereka berhenti di sebuah tempat yang membuat Nur tidak nyaman. Sebuah pemakaman, di sampingnya, banyak pohon beringin besar.

Selain itu, pemandangan pemakaman itu, juga terkesan sangat aneh. Setiap patek (batu nisan) ditutupi dengan kain hitam, membuat Nur, atau semua orang, merasa penasaran, apa alasanya?

Nur merasakan angin dingin, seperti mengelilinginya, ia tahu, ada yang tidak beres dengan tempat ini. Seakan-akan, tempat ini, sudah menolaknya. Ada satu hal yang membuat Nur semakin curiga kepada Pak Prabu.

Tiba-tiba, ia terpicu oleh kalimat Wahyu, kemudian beliau melontarkan ucapan bernada mengancam, seakan-akan, Pak Prabu menjaga sesuatu yang sakral namun mengancam.

Apa yang Pak Prabu sebenarnya sembunyikan? Untungnya, Bima langsung menengahi insiden itu, membuat Pak Prabu kembali menjadi Pak Prabu yang sebelumnya. Namun, Nur, seakan tahu, ia tidak sanggup lagi mengikuti kegiatan keliling desa ini.

Ia izin pamit untuk kembali ke penginapan. Untungnya, Pak Prabu mengizinkanya. Bima, menawarkan diri untuk mengantar Nur, dan Pak Prabu sekali lagi, mengizinkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.