KKN di Desa Penari: Sosok Cantik Jelita di Dalam Bilik Mandi (8)

BERSELIMUT handuk, Nur mencoba membuka pintu bilik. Pintu seperti di tahan oleh orang yang ada di luar. “Wid, bukak!! Wid bukak” teriak Nur, sembari menggedor pintu anyam bambu itu.

Tetap tidak ada jawaban apapun dari Widya, sampai, Nur menyadari, di belakangnya, ada sosok hitam itu, besar sekali, sampai menyentuh langit bilik. Nur memejamkan mata rapat-rapat.

Read More

Yang pertama ia lakukan adalah istighfar kencang-kencang, sembari tangannya mencari batu di tanah bilik, ketika tanganya berhasil meraih sebuah batu, Nur melemparkan kuat-kuat batu itu, sembari mengucap, doa yang di ajarkan gurunya bila bertemu lelembut, sampai, sosok itu lenyap.

Butuh waktu untuk Nur menenangkan diri. Ia tahu, ia sudah diincar, namun kenapa ia diincar. Nur tidak melakukan apapun yang membuatnya diincar, bahkan bila karena secara tidak sengaja melihat makhluk itu, seharunya bukan hanya Nur yang sial, tapi makhluk itu juga sial.

Tiba-tiba pintu terbuka. Widya melihat Nur dengan ekspresi ganjil.
“Lapo Wid?” (kenapa Wid?). “He?” “Gak popo” ucap Widya saat itu. “Wes, ndang adus, ben aku sak iki seng jogo, cepetan yo, wes peteng” (ayo mandi, biar aku yang jaga, cepat ya, sudah mau malam).

Awalnya Widya tampak ragu, ia seperti mau mengurungkan niatnya, tidak hanya itu, Widya seperti mau mengatakan sesuatu tapi mengurungkan dan menutup pintu bilik.

Ketika Nur berjaga di luar, sayup, mendengar suara orang berkidung. Penasaran, Nur mulai mencari sumber suara, dan berakhir pada gemah dari dalam bilik. Takut, hal buruk terjadi, Nur mencoba memanggil Widya, menyuruhnya agar segera menyelesaikanya.

Widya tidak menjawab teriakanya, suara kidung itu, terdengar semakin jelas. Dari samping bilik, ada semak belukar, Nur mencoba melempar batu dari sana. Ia terperanjat saat tahu, di belakang bilik ada sesaji, lengkap dengan bau kemenyan dibakar.

Nur mencoba mengabaikannya, tetap berusaha memanggil sahabatnya, sampai, dari salah satu celah, ia melihat yang di dalam bilik, bukan Widya. Sebuah sosok cantik jelita, siapa lagi bila bukan, si penari yang Nur lihat di malam kedatanganya di desa ini.

Wanita cantik itu, membasuh badannya dengan anggun, sembari berkidung dengan suara yang membuat Nur tidak tahu harus berujar apa. “Di mana Widya,” pikir Nur, ia tidak menemukan sahabatnya, tidak di manapun ia mencoba melihat.

Sampai, sosok itu tersenyum seolah tahu, Nur melihatnya. Ia bergerak menuju pintu, membukanya, dan saat itulah, Nur melihat Widya, keluar dengan wajah kebingungan.

Selama perjalanan pulang, Widya mencoba mengajak bicara Nur, namun, Nur tidak merespons ucapan Widya, ia memikirkan apa yang baru saja ia lihat bukan hal kebetulan semata. seperti sebuah pesan, pesan apa?

Widya dalam bahaya, atau, dirinya yang sedang dalam bahaya. Malam setelah salat Isya, Nur berpamitan kepada Ayu dan Widya, ia ingin menemui Pak Prabu, untuk pengajuan proposal prokernya bersama Anton. Ayu sempat bertanya pada Nur, apakah Anton menemani, namun Nur mengatakan, ia bisa sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published.