KKN di Desa Penari: Wikwik Bima dan Ayu Ketahuan (15)

NUR semakin curiga, semakin masuk, sesuatu ada di sana. Ia harus kecewa, ketika di ujung jalan, bukan jalan lain yang ia lihat. Hanya semak belukar dengan pohon besar mengadang Nur.

Di bawahnya ditumbuhi tanaman beluntas yang rimbun, jalan ini, tidak dapat dilewati lagi. Lalu, kenapa tempat ini seolah di keramatkan. Apa yang membuat tempat ini begitu keramat bila hanya sebuah jalan satu arah seperti ini.

Read More

Langit sudah mulai petang, Nur bersiap akan kembali, tetapi langkahnya terhenti saat ia merasa ada embusan angin dari semak beluntas di depamnya. Ia, menyisir semak itu, sampai….Nur melihat sebuah undakan batu yang disusun miring.

Ia tak sadar rupanya ia berdiri di tepi lereng bukit. Meski awalnya ragu, Nur akhirnya melangkah turun, menjajak kaki dari batu ke batu sembari berpegang kuat pada sulur akar di lereng, ia sampai di bawah dengan selamat.

Seperti dugaanya, ada tempat tak terjamah di desa ini, manakala Nur melihat dengan jelas, sanggar atau bangunan yang lebih terlihat seperti balai sebuah desa, namun, kenapa tempat ini tidak terawat.

Nur berkali-kali melihat langit, hari semakin gelap, ia justru mendekat layaknya sebuah tanah lapang dengan bangunan atap yang bergaya balai desa khas atap Jawa.

Nur mengamati tempat itu setengah begidik. Selain kotor dan tak terurus, tidak ada apapun, kecuali, sisi ujung dengan banyak gamelan tua tak tersentuh sama sekali.

Butuh waktu lama untuk Nur mengamati tempat ini sampai ia mengambil kesimpulan, tempat ini sengaja ditinggalkan begitu saja, kenapa? Ia menyentuh alat musik kendang, mengusapnya, dan semakin yakin, tempat ini sudah sangat lama di tinggalkan.

Setiap Nur menyentuh alat-alat itu, ia merasa seseorang seperti memainkanya. Ada sentuhan kidung di telinganya. Nur sendirian, namun, ia merasa, ia berdiri di tengah keramaian.

Kegelapan menyelimuti tempat itu, langit sudah membiru, Nur merasa tugasnya belum selesai sampai, Nur tersentak oleh sebuah suara familiar yang memanggil namanya.

Ketika Nur berbalik menatap sesiapa yang baru saja memanggilnya, Nur mematung melihat Ayu, berdiri dengan muka tercengang, dari belakang, muncul Bima, tidak kalah tercengang. Suasana menjadi sangat canggung.

“Yu, Bim? Kok nang kene?” (yu, bim, kok kalian ada di sini). Ayu dan Bima hanya mematung, tidak menjawab pertanyaan Nur sama sekali. Hal itu, membuat Nur mendekati mereka, melewatinya dan kemudian ia melihat ada sebuah gubuk di belakang bangunan.

Nur berbalik, ia kecewa. “Bim, abah karo umi nek eroh kelakukanmu yo opo yo, sebagai konco, aku gak nyongko loh Bim” (Bim, Abah sama Umi kalau tahu perbuatanmu gimana ya, sebagai temamu lama, aku tidak menyangka hal ini sama sekali).

Bima hanya diam, Ayu, apalagi. “Nur, tolong” ucap Ayu, menyentuh lengan Nur, “Aku gak ngomong mbek koen yu, aku ngomong karo Bima” (aku gak bicara sama kamu yu, aku mau bicara sama Bima).

Tatapan Nur membuat Ayu beringsut mundur, Bima masih diam, sebelum Nur akhirnya menggampar tepat di pipinya Bima. “Wes ping piro?” (sudah berapa kali?) tanya Nur. “Pindo.” (kedua kalinya).

Nur tidak tahu harus berucap apa, “Sek ta lah, opo sing jare Anton nek krungu suara cah wadon gok kamarmu iku koen ambek Ayu!!” (tunggu, ini artinya, apa yang dikatakan Anton soal dia dengar suara perempuan di kamarmu itu kamu sama ayu!!).

Bima menatap wajah Nur dengan kaget, tidak hanya itu, Ayu juga terperangah tidak percaya, kemudian menatap Bima dengan sengit, seakan Nur salah bicara. “Maksude Nur?” (maksudnya Nur?!) tanya Ayu kaget.

“Bim, ojok ngomong awakmu!!” (Bim, diam, jangan bicara kamu). “Wes wes, ayo mbalik, engkok tak ceritakno kabeh, tulung, ojok ngomong sopo sopo dilek yo Nur” (sudah, ayo kembali dulu, nanti tak ceritakan semua, tolong jangan ngomong ke siapa-siapa dulu, ya Nur).

Leave a Reply

Your email address will not be published.