KKN di Desa Penari: Hadiah Warga yang Bikin Wahyu Muntah (16)

NUR, Ayu dan Bima pergi. Wajah Bima tegang, seakan dikejar sesuatu, hingga akhirnya ia keluar dari tempat itu. Langit sudah gelap gulita, dan Nur, merasa ada yang mengikuti mereka semua.

Setelah sampai di rumah, Nur meminta Bima dan Ayu berkumpul di belakang rumah, sementara Anton menyesap rokok di teras. Wahyu dan Widya, belum pulang. Mereka tidak tahu masalah ini karena Nur merasa hal ini memang tidak seharusnya diketahui semua orang.

Read More

“Sak iki ceritakno kok iso’ne kanca KKN dewe loh di garap ngene,” kata Nur. (sekarang ceritakan, saya mau dengar, kok bisa ya, teman KKN dihajar seperti ini).

Ayu masih diam, ia memikirkan ucapan Nur yang tadi. Bima mulai berbicara. “Khilaf aku Nur,” kata Bima. Seakan apa yang di ucapkan dari mulutnya terdengar sepele.

“Gak isok nek ngunu, bakal tak gawe rame masalah iki ambek keluargamu, lanang iku kudu wani tanggung jawab ambek perbuatane” (tidak bisa seperti itu, akan kubuat ramai nanti sama keluargamu. Laki-laki harus berani bertanggung jawab atas perbuatanya).

Ayu yang sedari tadi diam, kemudian bicara. “Nur, tolong, ojok digawe rame disek. Yo opo engkok reaksine warga, Pak Prabu, utowo arek-arek,” ucap Ayu. (Nur, tolong, jangan di buat ramai dulu, gimana coba reaksi semua orang).

“Aku bakal tanggung jawab Nur, muleh tekan kene, Ayu bakal tak rabi Nur.” (aku berani tanggung jawab. Ayu akan saya nikahi habis pulang dari sini).

“Goblok ya wong loro iki, dipikir masalah iki mek masalah mu tok tah, gak mikir aku, gak mikir Widya, gak mikir liane, gak mikir jeneng kampusmu, gak mikir keluargamu, gak mikir agamamu, nek ngomong mu mek ngunu, penak yo, kari rabi tok, gak iling opo iku karma yo.”

(goblok ya kalian, di kira ini masalah sepele, gak mikir aku, gak mikir Widya, gak mikir yang lain, gak mikir nama kampusmu, gak mikir keluargamu, kalau memang cuma masalah pernikahan ya enak ya, tapi kalian lupa dengan yang namanya karma).

Ayu yang mendengar itu perlahan sesenggukan. Nur tahu, ia menangis. Bima, ia seperti menyembunyikan sesuatu. Ada yang belum ia jelaskan sama sekali. Anton tiba-tiba muncul sembari mengatakan,”Cah loro iku wes teko, mboh tekan ndi, mosok moleh sampe bengi ngene.”

(itu loh, dua temanmu sudah datang, entah dari mana, masa pulang sampai larut begini). “Widya karo Wahyu ton?” (Widya sama wahyu ya ton). Anton mengangguk. “iyo”.

Nur melihat Widya, wajahnya tampak letih, seperti baru saja mengalami kejadian tidak mengenakan. Semua orang sudah menunggu kedatangan dua anak ini, yang berjanji akan membelikan keperluan titipan mereka.

Namun, dari belakang, Wahyu tampak sangat bersemangat seakan ia membawa sesuatu. Entah karena suasana hati semua orang buruk di ruangan itu, Bima mencoba mencairkan suasana. “Loh, kok kaku ngene seh.” (kok jadi canggung gini sih)

Bima mendekati Widya. “Awakmu pasti pegel kan, istirahat sek Wid.” (kamu pasti kecapekan kan, yao istirahat dulu Wid) kata Bima. Nur dan Ayu memandang sengit perlakuan Bima, sehingga Widya merasa ada yang salah dengan mereka semua.

Wahyu yang sedari tadi menggendong isi tasnya, langsung mengambil alih perhatian mereka. Dengan nafas menggebu-nggebu, ia bercerita pengalamanya yang baru saja ditolong warga desa tetangga karena motornya mogok.

Anehnya, semua orang memandang Wahyu dengan sinis. Bima yang pertama menanggapi ucapan Wahyu. “Deso tetangga opo? Gak onok maneh deso nang kene?” (desa tetangga apa, gak ada lagi desa disini) kata Bima mengingatkan.

“Halah, ngapusi, eroh teko ndi awakmu?!” (halah, bohong kamu, tahu darimana?) sanggah Wahyu saat itu. “Aku wes sering nang kota, mbantu warga deso dodolan hasil alam, dadi gor titik aku paham wilayah iki.”

(aku sudah sering ke kota, bantu warga jual bahan alam di sini, jadi ya tau sedikitnya daerah ini).

“Ngapusi koen.” (bohong kamu). Nur yang sedari tadi mendengar, membantu Bima, “Bener Mas Wahyu, gak onok deso maneh nang kene,” (bener mas Wahyu, gak ada lagi desa di sini).

Alih-alih setelah mendengar itu, Wahyu semakin tidak terima, ia kemudian memanggil Widya, “Wid, duduhno opo sing di kek’i ambek warga sing nang tasmu” (Wid tunjukan oleh-oleh yang di kasih tadi sama warga di dalam tasmu).

Dengan enggan Widya membuka isi tasnya. Wahyu yang sudah tidak sabar segera merebutnya, meraihnya dengan tanganya. Ekspresinya berubah manakala ia mengeluarkan barang itu.

Widya yang melihat benda itu sama kagetnya dengan Wahyu. Namun Nur yang melihatnya tampak bingung, pun dengan semua orang saat itu. Benda seperti apa yang dibungkus dengan pelepah daun pisang seperti itu.

Nur sempat melihat Wahyu dan Widya bertukar pandang. Ia tahu ada yang salah saat Wahyu membukanya, kaget, yang ada di dalamnya rupanya adalah kepala monyet terpenggal dengan darah yang masih segar.

Seketika, reaksi semua orang membalikkan wajahnya, termasuk Nur yang segera mengambil kain untuk menutupinya, baunya amis dan membuat seisi ruangan mual.

Wahyu tampak shock, Widya apalagi. Ayu segera membopongnya masuk kamar, sementara Bima dan Anton, segera membereskan semua itu. Wahyu muntah sejadi-jadinya, semalaman. Semua orang termenung dengan berbagai kejadian ganjil, termasuk Nur, di mana Widya mencuri pandang.

Leave a Reply

Your email address will not be published.