KKN di Desa Penari: Misteri Selendang Hijau di Dalam Tas Ayu (17)

MALAM setelah Widya dan Ayu melepas penat, Nur terbangun. Ia tiba-tiba teringat dengan ucapan Bima dan Ayu yang tanpa sengaja ia curi dengar. Dengan cekatan dan mengambil risiko, Nur mengambil isi tas Ayu, membawanya menuju ke pawon (dapur) sendirian.

Ia merasa, benda itu di sana. Nur membongkar semua benda-benda itu, namun, tidak ada yang aneh. Ia sudah mengeluarkan isi tasnya. Sebelum, Nur sadar, masih ada risleting tas yang belum dibuka.

Read More

Tepat ketika Nur membukanya, ia bisa mencium aroma wewangian di dalamnya. Sebuah selendang hijau milik penari. Tiba-tiba, tangan Nur seperti gemetar hebat, nafasnya menjadi sangat berat.

Tempat ia berada seakan-akan menjadi sangat dingin dan, tabuhan kendang diikuti alunan gamelan berkumandang. Nur tahu, si penari ada di sini. Apa yang Ayu sebenarnya lakukan. Apa yang Bima sembunyikan?

Tepat saat itu juga, Nur melihat dengan mata kepala sendiri, Widya melangkah masuk ke pawon (dapur). Matanya tajam menatap Nur, kaget setengah mati, Nur bertanya pada Widya. “La po Wid ,awakmu nang kene?” (ngapain kamu Wid, ada di sini).

Namun Widya hanya berujar,”Ojok di terusno” (jangan diteruskan). Widya duduk di depan Nur. Cara Widya berbicara sangat berbeda. Mulai dari suara sampai logat menyampaikan pesanya, itu khas Jawa sekali yang sampai Nur tidak begitu mengerti.

Yang Nur tangkap hanya kalimat “salah” “nyawa” “tumbal”, itu pun tidak jelas. Selain itu, setiap dia melihat Nur, ia seperti memberikan ekspresi sungkan, sepeti anak muda yang memberi hormat kepada orang tua.

Kalimat terakhir yang Widya ucapkan sebelum kembali ke kamarnya adalah:”Kamu bisa pulang dengan selamat, saya yang jamin” tapi dengan logat Jawa. Nur membereskan semuanya. Saat itu juga, ia mengembalikan tas Ayu pada tempatnya.

Sempat ia melihat Widya yang tengah tidur, ia mengurungkan niat untuk membangunkanya. Ia harus bertemu dengan Bima, Nur yang paling sadar, tempat ini sudah menolak mereka semua.

Sejak insiden itu, Ayu menghindari Nur, terlebih Bima. Meski begitu, tidak ada yang nampak bahwa mereka sedang memiliki urusan. Widya, Wahyu dan Anton, di buat tidak sadar, bahwa ada permasalah internal pada kelompok KKN mereka.

Nur bingung, tidak ada yang bisa untuk diajak berbagi, kecuali Mbah Buyut. Sayang, ia tidak tahu di mana beliau tinggal. Nur sudah mencoba mengelilingi desa, tak di temui sosok lelaki tua itu.

Akhirnya, Nur berinisiatif menyelesaikan ini sendiri, ia menemui Bima, sore itu, mengajaknya ke tepi sungai. “Ceritakno sing gak isok mok ceritakne nang ngarep’e Ayu” (ceritakan yang gak bisa kamu ceritakan di depan Ayu).

Bima tampak menimbang apakah dia harus bicara atau tidak sampai akhirnya ia menyerah dan mengatakanya. “Aku khilaf Nur” kata Bima. “Cah iki, pancet ae” (tetap saja tak berubah).

“Gak, gak iku. Aku pancen khilaf wes ngunu ambek Ayu, tapi aku luweh khilaf, wes nyobak-nyobak melet Widya.” (bukan, bukan itu, aku memang khilaf sudah melakukan itu sama Ayu, tapi aku lebih khilaf sudah mencoba membuat Widya suka sama aku).

“Maksude?” tanya Nur penasaran. “Nang nggon sing mok parani, iku onok sing jogo, arek wedok ayu, jeneng’e Dawuh” (di tempat yang kamu datangi ada penjaganya, seorang perempuan cantik, namanya Dawuh).

“Jin,” tanya Ayu, “Gak, menungso” (tidak. manusia). “Mosok onok, iku ngunu jin,” (mana ada, itu jin). Terjadi perdebatan sengit Nur dengan Bima.

Dengan bersikeras Bima mengatakan yang ia temui seorang perempuan warga desa ini. Nur membantah, tidak ada yang tinggal di sana, lagi pula tempat itu dilarang sejak awal.

Bima terus menolak sampai tanpa sengaja, menampar Nur, hingga terseok di tepi sungai. Nur pun menghujani Bima dengan batu, seakan-akan kepala Bima sudah tidak beres.

Sampai akhirnya Bima mengatakan, “Arek iku, wes ngekek’i aku, Kawaturih kanggo Widya, jarene iku jimat ben aku ambek arek’e dipersatuno.”

(perempuan itu, sudah memberiku semacam mahkota putih yang ada di lenganya, yang katanya, itu bisa membuat Widya selalu nempel sama aku).

Nur yang mendengar itu, semakin tersulut, “Goblok yo koen, gorong 4 tahun, wes rusak utekmu, syirik koen Bim.” (bodoh kamu ya, belum 4 tahun sudah rusak isi kepalamu, yang kamu lakukan itu menyekutukan Bim).

“Nang ndi barang iku sak iki?” (di mana sekarang barang itu?) tanya Nur, “Digowo Ayu, nek jarene, wes ilang” (dibawa oleh Ayu, katanya, sudah hilang)

“Aku gak ngurus Bim, balekno barang gak bener iku, awakmu gak paham ambek kelakuanmu, iku ngunu isok gowo balak.”

(aku tidak perduli, gimana caranya, kembalikan barang itu, kamu gak mengerti, perbuatanmu, bisa mendatangkan malapetaka).

Leave a Reply

Your email address will not be published.