KKN di Desa Penari: Nur Menemukan Jimat Kawaturih (18)

NUR pergi, sekarang, ia tahu harus ke mana, menemui Ayu. Nur baru saja bertemu dengan Ayu setelah keluar dari rumah Pak Prabu, Nur tidak mengerti apa yang barusaja dia lakukan.

“Lapo koen?” (ngapain kamu). Ayu mencoba menahan malu, setiap kali melihat Nur, mata Ayu seperti meratap atas apa yang sudah ia perbuat, dan itu fatal.

Read More

“Gak popo Nur, tak cepetno, ben proker’e arek -arek cepet mari, mari iku ayo balik, pokok’e fokus KKN kabeh yo” (gak papa Nur, aku percepat urusanya, biar anak-anak semuanya bisa fokus garap proker mereka, kita juga harus kembali, intinya fokus dulu sama KKN ya).

“Aku pengen ngomong yu, soal” (aku mau ngomong yu, soal) kata Nur yang terhenti melihat Anton mendekat, nafasnya terengah-engah.

“Nur, warga sing mbantu, kerasukan kabeh, rusak proker kene iki” (Nur, warga yang bantu proker kita kerasukan, rusak semua proker kita). Ayu, Nur dan Anton pergi ke lokasi, waktu itu ramai.

Ketika Nur tiba, seorang pria yang dipegangi oleh warga, tampak melotot melihat Nur, ia menunjuk Nur seakan biang masalah di desa. Ia menyentak dengan suara berat.

“Tamu diajeni tambah ngelamak koen, mrene koen.” (Tamu sudah dihormati tambah ngelunjak, ke sini kamu)

Nur kaget, ia dilindungi warga lain. Tidak hanya pria itu, ada satu lagi, yang juga ditahan. Sayangnya, pria yang satu lagi, melotot pada pria pertama seakan ia marah pada warga desa itu.

“Aku wes janji jogo cah iki, awakmu ra oleh gawe perkara ambek arek iki.” (saya sudah berjanji sama seseorang untuk jaga anak ini, kamu tidak boleh membuat masalah sama dia).

Warga yang resah akhirnya membawa Nur ke rumah mereka, berikut Ayu dan Anton, diikuti yang lain, kecuali, Widya. Saat Wahyu dikonfirmasi, di mana Widya, Wahyu mengatakan Widya sama warga lain melanjutkan prokernya.

Tidak ada yang tahu mereka ada di salah satu rumah warga. Ketika langit mulai petang, Nur hilang dari kamar, warga yang tahu, panik. Terakhir kali, Nur pingsan.

Nur terbangun dalam keadaan menggunakan mukenah salat. Ada Widya di sampingnya. Wajah Widya tampak tegang, Widya tidak bisa menyembunyikan bahwa ia baru saja mengalami kejadian janggal.

“Ket kapan isok ndelok Nur?” (sejak kapan kamu bisa lihat begituan). Nur yang mendengar itu kaget, sejak kapan Widya tahu dan bertanya soal itu.

Mereka terjebak dalam suasana canggung. Nur jadi berpikir, bahwa kunci semuanya, mungkin ada pada Widya. Sejak awal, Widya yang paling aneh di tempat ini.

“Aku gak isok ngomong Wid, penjelasane ruwet, tapi, aku wes keroso ngene iki ket mondok,” kata Nur, “Gaib iku nyata Wid.”

(aku gak bisa jelaskan secara spesifik, tapi, aku sudah merasa begini sejak mondok, yang jelas, ghaib itu nyata Wid).

“Awakmu onok sing jogo ya?” (kamu ada yang jaga ya?) tanya Widya, yang membuat Nur semakin kaget, bingung harus menjelaskanya.

Ia harus mengingat bahwa sebelum keluar dari pesantren, banyak temannya yang bilang, setiap malam, Nur terbangun dan melafaldzkan doa yang bahkan, sangat susah dihafal oleh santri pondok saat itu.

Teman-temannya sampai memanggil guru mereka, agar Nur dirukyah, namun, guru Nur menolak, beralasan bahwa, selama tidak menganggu keimanan Nur, dibiarkan saja, daripada menjadi boomerang untuk Nur.

Guru Nur sudah berulang kali menjelaskan bahwa, ia harus tetap mengimankan kepercayaanya, tidak perlu mempedulikan jin model apa yang mengikutinya selama ini.

Si guru memanggil jin itu dengan nama “Mbah Dok” karena berwujud wanita tua. Tanpa Nur sadari, itu adalah kali pertama ia bisa bicara lagi sama Widya setelah lama.

Ia seolah saling menjauhi satu sama lain. Nur menceritakan semuanya, pengalaman di pondok hingga ia keluar dari sana, kecuali, insiden ganjil di tempat ini, Nur masih menyimpanya sendiri.

Nur percaya, Widya punya apa yang ia cari selama ini, meski itu hanya asumsi, namun, ia yakin, Widya memilikinya. Hingga, kesempatan itu muncul, Nur, melihat kamar, tanpa ada satu orangpun, karena Ayu dan Widya mengerjakan proker mereka, Nur membuka almari, mengeluarkan isi tas Widya.

Ia membongkar semuanya, mencari hingga ke celah terkecil di tas yang Widya bawa. Semua persedian yang ia bawa tak luput dari pencarianya, sampai, Nur akhirnya menemukanya.

Sebuah logam melingkar, dengan bentuk ukiran dari kemuning, bentuknya indah layaknya sebuah perhiasan, tidak hanya itu, di tengahnya, ada batu mulia berwarna hijau.

Dengan wajah bingung, Nur bergumam sendiran “Kawaturih” itu, bagaimana bisa ada pada Widya. Melihat itu, Nur sudah hilang kesabaran, ia membongkar isi tas Ayu, mengambil selendang hijaunya, 2 benda itu, Nur simpan pada sebuah kotak kayu yang ia temukan di pawon (dapur) tempat biasa menyimpan bumbu masakan.

Tidak hanya itu, Nur menutupinya dengan kain putih, yang di dalamnya, ada kitab agamanya. Nur menyembunyikan tepat di bawah meja kamar, tertutup taplak meja.

Lalu, Nur pergi mencari Ayu, setelah menemukan Ayu di tempat proker, Nur menarik Ayu, membawanya menjauh sebelum menampar wajahnya sampai Ayu, tidak bisa bicara apa-apa.

Leave a Reply

Your email address will not be published.