KKN di Desa Penari: Pak Prabu Bongkar Rahasia Tapak Tilas (20)

PAK Prabu meminta penjelasan lebih detail. Setelah itu, Nur menunjukkan barang yang seharusnya ia berikan kepada Pak Prabu saat mendapatkanya. Tepat ketika membuka kotak itu, Pak Prabu yang melihatnya, kaget bukan main, sampai ia tiba-tiba berteriak marah “OLEH TEKO NDI IKI?!”

(DAPAT DARIMANA KAMU BENDA INI). Nur yang kaget, kemudian menjelaskan sisa ceritanya, di sana, Pak Prabu terlihat frustasi. Ia kemudian mengatakan kepada Nur. “Nek kancamu gak ketemu, ikhlasno, ben aku sing ngadepi masalah iki.”

Read More

(bila sampai temanmu, tidak ditemukan, ikhlaskan, biar aku yang menghadapi sisanya). Nur bertanya, benda apa itu sebenarnya, Pak Prabu tidak menjawab. Ia harus menunggu datangnya Mbah Buyut yang akan menceritakan semuanya.

Berjam-jam sudah dilewati, belum ada kabar dari warga yang kembali, sampai terdengar suara motor mendekat. Nur dan Pak Prabu berdiri untuk melihat sesiapa yang datang.

Mbah Buyut mendetak dengan tergopoh-gopoh, seakan mencari sesuatu. Mbah Buyut mengambil Kawaturih, kemudian bertanya siapa yang punya, Nur mendekat, menjelaskan semuanya. Ekspresi tenang Mbah Buyut, tidak terlihat sama sekali.

Ia menatap Ayu, menghela nafas berat. Mbah Buyut meminta Prabu membuatkan kopi hitam. Mbah Buyut duduk sembari berpikir, banyak pertanyaan yang ia ajukan mulai, sejak kapan ada benda seperti ini di sini, lalu bagaimana bisa selendang itu dimiliki Ayu, Nur menceritakan semuanya.

Saat menyesap kopi itu, Mbah Buyut berujar: “Kancamu, keblubuk angkarah” (temanmu terjebak dalam pusaran). “Trus, yok nopo mbah?” (lalu bagaimana mbah). “Siji kancamu wes ketemu, tapi sukmane gorong, tenang sek, yo.”

(satu temanmu sudah ketemu lagi, tapi rohnya belum, sabar ya). Tidak beberapa lama, kerumunan warga mendekat, Wahyu masuk wajahnya pucat seorang warga membopong seseorang.

Ketika Nur melihatnya, ia tidak bisa menghentikan jeritannya, manakala melihat Bima kejang-kejang layaknya seorang yang terkena epilepsi. Wahyu, segera memeluknya, menutupi Nur agar tidak melihat Bima yang menjadi seperti itu.

Mbah Buyut mengatakan, bahwa bila sukma dua orang ini sedang terjebak, namun, ada satu orang yang bukan hanya sukmanya yang hilang atau disesatkan, melainkan raganya ikut disesatkan, ia adalah Widya.

Ya, Widya adalah orang yang paling diinginkan oleh, Badarawuhi namun, ia meleset. Mbah Buyut menunjukkan Kawaturih, yang harusnya memiliki pasangan. Benda ini diletakkan di lengan seorang penari, sebagai susuk.

Entah ada kejadian apa, Badarawuhi menginginkan benda ini ada pada Widya, namun, Nur yang menemukanya, kemudian mengambilnya, membuat benda ini kehilangan pemilik.

Itu berarti Nur yang memiliki, tapi, Nur dilindungi, itulah alasan kenapa Nur selalu merasakan bahwa badannya terasa berat di jam-jam tertentu. Mbah Dok yang melindungi Nur berkelahi hampir dengan setengah penghuni hutan ini.

Setelah itu, Pak Prabu meminta agar Ayu dan Bima ditutup oleh kain selendang, diikat dengan tali kain kafan, membiarkanya seolah-olah mereka sudah tidak bernyawa.

Mbah Buyut, pergi ke kamar, ia akan mencari Widya, menjelma sebagai anjing hitam dengan ilmu kebatinanya. Pak Prabu menceritakan, memang ada rahasia yang tidak ia katakan dan alasan kenapa ia menolak keras diadakan kegiatan ini sejak awal.

Tepat di samping lereng, ada Tapak Tilas, tempat penduduk desa ini mengadakan pertunjukkan tari, bukan untuk manusia namun untuk jin hutan.Pak Prabu mengatakan, dulu, setiap diadakan tarian itu, untuk menghindari balak (bencana) bagi desa ini.

Seiring berjalannya waktu, rupanya, mereka yang menari untuk desa ini, akan ditumbalkan. Masalahnya, setiap penari haruslah dari perempuan muda yang masih perawan. “Tapi Ayu, Pak” kata Nur membantah. “Itu masalahnya,” kata Pak Prabu.

“Asumsi saya, Ayu sejak awal hanya sebagai perantara ke Widya lewat Bima, namun, Ayu tidak memenuhi tugasnya, akibatnya, Ayu dibuatkan jalan pintas, ia di beri selendang hijau itu. Tahu dari mana selendang itu.

Selendang para penari. “Pak Prabu kemudian duduk, matanya merah padam, “seharusnya saya menolak habis-habisan bila bukan karena dia adik teman saya. Selendang itu, adalah selendang yang keramat, tidak ada lelaki yang bisa menolak selendang itu saat dipakai oleh perempuan.”

“Nak Ayu tidak salah, nak Bima pun begitu, saya yang salah, seharusnya saya tolak kalian semua. Toh, anak-anak kami tidak ada yang tinggal di sini. Tempat ini, bukan untuk anak setengah matang seperti kalian.”

Leave a Reply

Your email address will not be published.