KKN di Desa Penari: Selamat Jalan Ayu dan Bima (21-Tamat)

MENDENGAR itu, membuat Nur tidak kuasa melihat Ayu. Hari semakin petang, ketika matahari sudah benar-benar tenggelam, terdengar orang berteriak heboh. Ia meneriakkan bila Widya sudah ketemu.

Saat itu juga, Mbah Buyut keluar, wajahnya tampak kecewa, sepertinya ia tidak bisa membawa Ayu dan Bima pulang, lebih tepatnya.

Read More

Momen ketika melihat Widya, membuat Nur tidak bisa bicara apa-apa. Ia berjalan dengan gaguk, seperti baru saja menghadapi peristiwa yang sangat berat, bahkan, Widya berjalan dengan mata yang kosong.

Ia melihat Ayu terus menerus, mencoba memahami situasi. “Wid, tekan ndi awakmu” (Wid darimana kamu?) tanya Nur, “Onok opo iki Nur” (ada apa ini Nur) kata Widya, matanya sembab melihat Ayu dan Bima terbujur,

Nur tidak sanggup menceritakanya, Wahyu kemudian berdiri mengatakan semuanya, Widya menjerit sejadi-jadinya, semua diam. Selang beberapa saat, Mbah Buyut keluar, ia memanggil Widya, menyuruhnya masuk.

Entah apa yang mereka bicarakan. Nur masih mencoba membangunkan Ayu, meski hal itu, mustahil bisa dilakukan. Ketika melihat Mbah Buyut keluar, Nur, Wahyu, dan Anton yang baru tiba, ikut masuk ke dapur.

Ia hanya melihat Widya murung, seperti memikirkan sesuatu. Wahyu yang sedari tadi sudah menahan diri, mengatakan bahwa Bima dan Ayu sudah kelewatan sehingga mereka juga kena getahnya.

Malam itu juga, Pak Prabu mengumpulkan semua anak yang tersisa. Ia mengatakan, sudah menghubungi pihak kampus, pun dengan kakak Ayu, yang sedang dalam perjalanan ke sini.

Esok, mungkin mereka tiba. Mbah Buyut, menjaga rumah ini, konon, semua lelembut sudah mengepung rumah ini. Pagi itu, Nur menemui Pak Prabu meminta seharusnya ia menahan diri sebelum informasi keluar, karena sebelumnya, Mbah Buyut mengatakan bisa mengembalikan Ayu dan Bima, hanya tinggal menunggu waktu.

Ucapan Pak Prabu membuat Nur tidak berkutik. “Nek pancen isok, yo gak bakal akeh sing wes dadi korban, awakmu eroh patek ireng iku opo, nyoh kui korban sak durunge, nang ndi sak iki, wes gak onok.”

(kalau memang bisa, ya gak mungkin ada korban, kamu tahu, kenapa ada nisan dengan kain hitam, itu korban sebelum kejadian ini).

“Gak nutup kemungkinan kancamu isok mbalik, tapi kemungkinane cilik, gak usah berharap, Mbah Buyut asline wes mblenger, kudu urusan ambek bangsa iku.”

(gak menutup kemungkinan memang temanmu bisa kembali, tapi, kemungkinanya kecil, Mbah Buyut sudah bosan, berurusan dengan mereka).

Siang hari, rombongan orang dari kampus dengan beberapa wali datang. Terdengar suara membentak dari Mas Ilham terdengar dari luar. Ada tawar menawar di mana Mbah Buyut menjanjikan agar Ayu dan Bima tetap di sini.

Pihak keluarga menolak sampai mengancam, ini akan tersebar akhir dari perjalanan KKN mereka selesai di sini. Bukan hanya Pak Prabu yang terseret, pihak kampus efeknya lebih besar lagi, sampai harus menjanjikan bahwa masih ada jalan lain mengembalikan mereka.

KKN mereka, resmi dicoret, tak ada hasil apapun selama proker mereka. Widya, butuh waktu lama untuk pulih setidaknya itu yang Nur dengar.

Sementara itu, Nur menjelaskan kronologi kejadian pada Abah dan Umi, orang tua Bima, yang tidak henti-hentinya, mengadakan doa bersama di rumahnya.

Pukulan keras setiap Nur melihat air mata Umi menetes. Ada kejadian menarik, di mana Nur diceritakan oleh Umi, semalam sebelum Bima akhirnya meninggal, ia mengetuk pintu kamar.

Di sana ia meminta maaf sama Abah dan Umi, kemudian pamit kembali ke kamar, sembari mengatakan ular-ular, dan diakhiri dengan embusan nafas terakhirnya. Nur juga diberitahu Abah, bahwa, apa yg di katakan Umi tempo hari tidak usah di pikirkan, karena Umi menceritakan tentang mimpinya.

Anaknya Bima masih kejang-kejang dan memang meninggal pada malam kejadian. Semua itu mimpi Umi, mungkin itu cara Bima pamit dan memberitahu masih mau lanjut apa besok saja.

Sekarang yang Nur saksikan saat mendampingi Ayu, ia diajak ke Ng**i, yang katanya bisa menyembuhkan beliau. Mas Ilham menghubungi Nur, meminta tolong agar Nur bersedia mendampngi Ayu selama proses penyembuhan.

Dokter sudah angkat tangan dan mendiagnosa Ayu, lumpuh total yang tidak diketahui penyebabnya. Ia diberitahu oleh temanya, bahwa Nur adalah orang yang tahu semua malam itu.

Ayu dibawa ke Kabupaten Ng**i, di perjalanan, Nur selalu melihat Ayu, matanya ditutup paksa dengan kain, melihatnya kadang membuat Nur merasa Ayu sadar ada dia di sampingnya. Namun tetap saja nihil, sampailah mereka di rumah orang yang menawarkan bantuan itu.

Tiba di sana, Ayu di tidurkan di atas pelepah daun pisang. Kemudian Ayu dimasukkan dalam sebuah keranda, Nur yang melihat itu, mengatakan pada Mas Ilham bahwa itu perbuatan tidak benar.

Mas Ilham menolak, mengatakan mungkin masih bisa. Mas Ilham sangat frustrasi. Butuh waktu lama, sampai orang yang membantu tiba-tiba, bangun dan mengatakan ia tidak sanggup. Ayu, tidak dapat di selamatkan, kecuali, dibawa keluar dari Pulau Jawa.

Namun, hal itu, juga mustahil dilakukan. “Ayu gorong wayahe mati, dadi, keadaane yo bakal koyok ngene sampe wayahe mati” (ayu belum seharusnya meninggal, jadi dia akan terjebak seperti ini sampai waktunya tiba).

“Dibawa saja ke pulau K********N, saya ada saudara di sana” kata Mas Ilham waktu itu. “Masalahe arek iki gak oleh cidek segoro, nek cedek segoro, isok dimatekno.”

(masalahnya, anak ini di larang mendekati laut/samudera, bila tetap nekat dia mati). “Kan isok numpak pesawat” (kan bisa naik pesawat) kata Mas Ilham. “Isok pesawat gak liwat segoro?”

(memang bisa pesawatnya gak usah melewati laut). Setelah dari sana itu, Ayu akhirnya dipulangkan. Ia ada di rumah itu kurang lebih 3 bulan, sampai akhirnya mengembuskan nafas terakhir, setelah orang tua Ayu mengatakan sudah ikhlas, termasuk Mas Ilham.

Keikhlasan orang tua Ayu termasuk mencabut gugatan terhadap pihak kampus, dan tidak mau menyalahkan siapapun. Ayu dikebumikan di makam keluarga, sembari didoakan. Di situ, ibunya mengaku, sering melihat Ayu meneteskan air mata.

Inilah akhir cerita Mbak Nur. Saya menutup cerita ini, dengan pesan dari Mbak Nur dan alasanya kenapa ia mau bercerita. Sejak awal, Mbak Nur tidak begitu tertarik dengan unsur seram dalam ceritanya. Ia ingin menyampaikan pesan yang terkandung di dalamnya, agar siapapun kita, tetap menjaga tata krama.

Ini bukan tentang, hal yang sepele. Siapapun kamu, dimanapun kamu berada, sekali lagi, jaga sikap dan prilaku karena sesungguhnya sebagai tamu, selayaknya tetap bersiteguh pada warisan pendahulu kita yang mengutamakan sopan santun terhadap tuan rumah.

Sumber : SimpleMan (@SimpleM81378523)

Leave a Reply

Your email address will not be published.