KKN di Desa Penari Versi Lain: Berdebat Suara Gamelan di Hutan (4)

TEMPAT menginap untuk laki-laki adalah rumah gubuk yang dulunya seringkali dipakai untuk posyandu, tapi sudah diubah sedemikian rupa. Meski beralaskan tanah, tapi di dalamnya sudah ada bayang (ranjang tidur) beralasakan tikar.

Sedangkan untuk perempuan, menginap di salah satu-rumah warga. Di dalam kamar, Widya bertanya, maksud ucapanya kepada Pak Prabu, karena sepanjang perjalanan, bila dirasakan oleh Widya sendiri, itu lebih dari satu jam.

Read More

Ayu membantah bahwa lama perjalanan tidak sampai selama itu. Anehnya, Nur memilih tidak ikut berdebat. Nur, lebih memilih untuk diam.

“Ngene, awakmu krungu ora, nang dalan alas mau, onok suara gamelan? (Kamu dengar apa tidak , di jalan tadi, ada suara orang memainkan gamelan?)

“Yo, paling onok hajatan lah, opo maneh” (ya kemungkinan ada warga yang menggelar hajatan, selain itu apalagi). Berbeda dengan Ayu, Nur, menatap Widya dengan ngeri. Sembari berbicara lirih, Nur yang seharusnya paling ceria di antara mereka berkata.

“Mbak, ra onok deso maneh nang kene. Gak mungkin nek onok hajatan. Nek jare wong biyen, krungu gamelan nang nggon kene, iku pertanda elek.”

(Mbak, tidak mungkin ada desa lain disini, tidak mungkin ada acara di dekat sini, kalau kata orang zzaman dulu, kalau dengar suara gamelan, itu pertanda buruk).

Mendengar itu, Ayu tersulut dan langsung menuding Nur sudah ngomong yang tidak-tidak. “Nur, ra usah ngomong aneh-aneh, awakmu yo melok observasi nang kene ambek aku. Mosok gorong sedino wes ngomong ra masuk akal ngunu.”

(Nur, jangan ngomong sembarangan kamu, bukanya kamu ikut observasi di kampung ini sama aku, belum sehari kamu sudah ngomong yang gak masuk akal).

Ayu pergi, meninggalkan Widya dengan Nur. Saat itu, Nur mengatakan. “Mbak, aku yo krungu suara gamelan iku.” (Mbak, aku juga dengar suara gamelan itu).

“Masalahe mbak, aku yo ndelok onok penari’ne nang dalan mau.” (masalahnya, aku juga melihat ada yang menari di jalan tadi).

“Astaghfirullah” kata Widya tidak percaya. Nur menatap nanar Widya, air matanya sudah seperti memaksa keluar, Widya hanya memeluk dan mencoba menenangkanya. Benar kata ibunya tempo hari.

Ada pepatah : banyu semilir mlayu nang etan (air selalu mengalir ke arah timur), yang memiliki makna, timur itu adalah tempat di mana semua di kumpulkan menjadi satu, antara yang buruk dan yang paling buruk, dan kini, Widya harus tinggal di hutan paling timur.

Leave a Reply

Your email address will not be published.