KKN di Desa Penari Versi Lain: Berkenalan dengan Pak Prabu Teman Kakak Ayu (3)

TIBALAH mereka di Desa W****, tempat mereka akan mengabdikan diri selama 6 minggu. “Monggo.” (permisi), kata salah satu dari enam lelaki itu, sebelum meninggalkan Widya dengan motornya.

“Mrene, rek (he ke sini),” teriak Ayu. Di sampingnya berdiri seorang pria, berwajah tenang, dengan kumis tebal. Ia mengenakan kemeja batik khas ketimuran, berdiri seolah sudah menunggu sedari tadi.

Read More

“Kenalno, niki Pak Prabu. Kepala desanya. Koncone masku. Pak Prabu, niki rencang kulo, yang dari Kota S, mau melaksanakan kegiatan KKN di kampung panjenengan.”

(Kenalkan, ini Pak Prabu, kepala desa, teman kakakku. Pak Prabu, ini teman-teman saya yang dari kota S, yang rencananya mau KKN).

Pak Prabu memperkenalkan diri, bercerita tentang sejarah desanya. Di tengah cerita, Widya bertanya kenapa desanya harus sepelosok ini, dengan tawa sumringah, Pak Prabu menjawab.

“Pelosok, yok nopo toh mbak. Jarak ke dalan gede, cuma setengah jam kok.”
(Pelosok bagaimana, maksudnya mbak ini. Bukannya jarak ke jalan besar hanya 30 menit).

Tatapan bingung Widya, disambut tatapan bertanya oleh semua temannya, seolah pertanyaanya sendiri kok membingungkan. “Mbak’e, paling pegel, wes, tak anter nang panggonan sampean tinggal.” (Mbaknya mungkin capek, jadi, mari, tak-antar ke tempat dimana nanti kalian tinggal).

Di tengah kebingungan itu, Ayu menegur Widya. “Maksudmu opo to Wid, takon koyok ngunu? Nggarai sungkan ae.” (Maksudnya bagaimana Wid, kok kamu tanya seperti itu, bikin saya sungkan). Di situ, Widya menyadari, ada yang salah.

Leave a Reply

Your email address will not be published.