KKN di Desa Penari Versi Lain: Dijemput 6 Lelaki dengan Motor Butut (2)

DI sinilah, cerita di mulai. Sesuai yang Nur katakan, mobil berhenti di jalur masuk hutan D, menempuh perjalanan 4 sampai 5 jam dari Kota S. Tanpa terasa, hari sudah mulai petang, ditambah area dekat dengan hutan, membuat pandangan mata terbatas. Belum sampai di sana, gerimis turun.

Setelah menunggu hampir setengah jam, terlihat dari jauh, cahaya mendekat. Nur dan Ayu langsung mengatakan, mereka yang akan mengantar. Rupanya, ada 6 lelaki setengah baya, mengendarai motor butut.

Read More

“Cuk, sepedaan tah,” kata Wahyu, spontan, karena merasa saat itu ada yang aneh. Entah disengaja atau tidak, ucapan yang dianggap biasa di Kota S, di tanggapi lain oleh lelaki-lelaki itu.

Raut wajahnya mengernyit, tanda tidak tidak suka, dan sinis tajam melihat ke arah Wahyu. Hanya saja, yang memperhatikan semua sedetail itu, hanyalah Widya seorang. Apapun itu, semoga bukan hal yang buruk.

Di tengah gerimis, jalanan berlumpur, pohon di kanan kiri, mereka menempuh dengan suara motor yang seperti sudah mau ngadat saja. Belum lagi, medan tanah naik turun, membuat Widya berpikir kembali.

Sudah hampir satu jam lebih, motor berjalan lebih jauh ke dalam hutan. Khawatir yang dimaksud Ayu, setengah jam lewat 15 menit, bagaikan setengah hari, Widya mulai berharap semua ini cepat selesai.

Di tengah perjalanan, tidak satupun dari pengendara motor yang mengajak bicara. Aneh. apa semua warga di sana pendiam semua. Malam semakin gelap, dan hutan semakin sunyi sepi, namun, kata orang, di mana sunyi dan sepi di temui, di sana, rahasia dijaga rapat-rapat.

Rasa menyesal muncul di benak Widya. Apakah ia siap, menghabiskan 6 minggu ke depan, di sebuah desa, jauh di dalam hutan. Ketika suara motor memecah suara rintik gerimis, dari jauh, sayup-sayup, terdengar sebuah suara.

Suara itu begitu familiar, tabuhan kendang dan gong, diikuti suara kenong, kompyang, membaur menjadi alunan suara gamelan. Apa ada yang sedang mengadakan hajatan di dekat sini. Sayup-sayup suara itu perlahan menghilang, lalu terlihat gapura kayu, menyambut mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published.