KKN di Desa Penari Versi Lain: Pemakaman Desa dengan Nisan Tertutup Kain Hitam (5)

CERITA tentang Nur dan Widya tentang suara gamelan di sepanjang perjalanan, baru awalnya saja. Ibarat sebuah kopi masih sampai rasa yang paling manis, belum sampai pahitnya.

Widya memang percaya dengan hal-hal gaib. Itu ada di dalam ajaran agamanya, namun baru kali ini ia merasakan langsung pengalaman itu, meski sekadar suara. Berbeda dengan Nur, temannya, yang mengaku melihat, yang tidak seharusnya ia lihat.

Read More

Mungkin Nur lebih sensitif. Memang, sejak awal, Nur yang paling berbeda di antara yang lain. Hanya dia seorang yang mengenakan jilbab, dibandingkan dengan Ayu dan dirinya sendiri.

Nur paling religius, karena setahu Widya sendiri, Nur jebolan pondok pesantren ternama di Kota “J”. (Terlepas dari itu semua, pengalaman KKN ini, tidak akan pernah dilupakan oleh semua rombongan ini).

“Nur,” kata Widya masih menenangkan. “Nur bisa ndak, cerita ini ojok sampe nyebar. Kan gak enak, nek sampe krungu ambi warga deso. Opo maneh kita di sini iku tamu, insyaallah, kabeh lancar, nggih.”

Nur, bisa gak cerita ini jangan sampai menyebar ke teman-teman. Kan jadi gak enak, kalau sampai warga desa dengar, apalagi kita disini itu sebagai tamu, insyaallah, semua akan baik-baik saja). Nur mengangguk, meski enggan menjawab kalimat Widya.

Malam itu, tanpa terasa dilewati begitu saja. Keesokan harinya, rombongan sudah berkumpul. Sesuai janji Pak Prabu, jadwalnya keliling desa, melihat semua proker (program kerja) yang sudah diajukan oleh Ayu tempo hari, sekaligus, meminta saran untuk proker individu yang harus dikerjakan sendiri-sendiri.

“Ngene iki, walaun saya tinggal nang kene, aku yo pernah kuliah loh dek, sarjana lagi,” kata Pak Prabu. Bahasanya medok, campur-campur antara bahasa Jawa dan bahasa Indonesia.

Mendengar itu, Wahyu menimpali. “Iku lo, rungokno bapak’e, walaupun wong deso, gak lali kuliah.” (Dengarkan bapaknya, walaupun rumahnya di desa, tidak lupa kuliah).

Wahyu melanjutkan. “Bapake ambil apa dulu? Perhutanan ya?”
“Bukan,” kata beliau santai. “Pertanian.”
“Lah, ra onok sawah nang kene, piye toh pak.”

(Di sini gak ada sawah, gimana sih pak?). “Ya, memangnya sampean pikir, hanya karena ambil pertanian harus terjun ke sawah.”

Jawaban Pak Prabu sontak membuat tawa pecah. Widya melirik Nur, dia sudah bisa ceria lagi, melupakan sejenak kejadian semalam. Sampailah, mereka di pemberhentian pertama. Sebuah pemakaman desa.

Aneh. Itu yang pertama kali di pikirkan Widya, atau mungkin serombongan orang. di setiap nisan, di tutup oleh kain hitam. Di sekeliling pemakaman, ada pohon beringin, dan di setiap pohon beringin, ada batu besar di sampingnya.

Di sana, ada lengkap, sesajen di depannya. Nur yang tadi ikut tertawa, tiba-tiba menjadi diam. Ia menundukkan kepalanya, seolah tidak mau melihat sesuatu. Pagi itu tiba-tiba terasa gelap di dalam pikiran Widya.

“Ngapunten pak, niki nopo nggih kok” (mohon maaf pak, ini apa ya). Belum selesai Widya bicara, Pak Prabu memotongnya. “Saya tau, apa yang adik mau katakan, pasti mau tanya, kok patek (nisan) nya, ditutupi pakai kain, gitu to?”

Widya mengangguk. rombongan menatap serius pak Prabu, terkecuali Wahyu dan Anton, terdengar mereka sayup tertawa kecil.

Leave a Reply

Your email address will not be published.