KKN di Desa Penari Versi Lain: Widya Merinding Melihat Tapak Tilas (6)

PAK Prabu menjelaskan. “Ini eh itu namanya, Sangkarso. Kepercayaan orang sini. jadi biar tahu. Kalau ini loh pemakaman,” terang pak Prabu, yang jawabanya sama sekali tidak membuat serombongan anak puas.

Sampai-sampai Wahyu dan Anton walau pelan sengaja menyindir. Tapi Pak Prabu bisa mendengarnya. “Wong pekok yo isok mbedakno kuburan karo lapangan Pak.” (orang bodoh juga bisa membedakan kuburan dan lapangan bola pak).

Read More

Pak Prabu yang awalnya tersenyum penuh dengan candaan, tiba-tiba diam. Raut wajahnya berubah dan tak tertebak. “Semoga saja, kalian tahu yang diomongkan ya.”

Kalimat Pak Prabu seperti penekanan yang mengancam, setidaknya itu yang Widya rasakan. Sontak, Bima merespons dengan meminta maaf, namun Wahyu dan Anton memilih diam setelah mendengar tanggapan Pak Prabu.

“Monggo pak, bisa lanjut ke tempat selanjutnya.” Tempat berikutnya, adalah Sinden (kolam), tempat air keluar dari tanah.

Pak Prabu mengatakan, Sinden ini bisa dijadikan proker paling menjanjikan, karena tidak jauh dari sana ada sungai. Pak Prabu ingin, Sinden dan sungai bisa terhubung, jadi semacam jalan air.

Tanpa terasa, hari sudah siang. Ayu dan Widya sudah memetakan semua yang Pak Prabu tunjukkan, memberinya sampel warna merah sampai biru, dari yang paling diutamakan sampai yang paling akhir dikerjakan.

Namun, tetap saja. selama perjalanan, Widya banyak menemukan keganjilan. Yang paling mencolok adalah, tidak satu atau dua kali, namun berkali-kali, ia melihat banyak sesajen yang diletakkan di atas tempeh (tampah).

Lengkap dengan bunga dan makanan, ditambah bau kemenyan, membuat Widya tidak tenang. Setiap kali mau bertanya, hati kecilnya selalu mengatakan, itu bukan hal yang bagus.

Nur, setelah dari Sinden, ia izin kembali ke rumah, karena badannya tidak enak. Dengan sukarela Bima mengantarkanya. Jadi, observasi hanya dilakukan oleh 4 orang saja.

Kemudian, sampailah di titik paling menakutkan: Tapak Tilas. Kalau kata Pak Prabu. sebuah batas di mana rombongan anak-anak dilarang keras melintasi sebuah setapak jalan yang dibuat serampangan.

Di kiri kanan, ada kain merah lengkap terikat janur kuning layaknya pernikahan. “Kenapa tidak boleh, Pak?” tanya Ayu penasaran. Pak Prabu diam lama, seperti sudah mempersiapkan jawaban namun ia enggan mengatakanya.

“Iku ngunu Alas D****** , gak onok opo-opo’ne, wedine, nek sampeyan niki nekat, kalau hilang, lalu tersesat bagaimana?”

(Itu adalah hutan belantara, gak ada apa-apanya, hanya mempertimbangkan, takutnya kalau kalian kesana, hilang, tersesat, lalu bagaimana?)

Sekali lagi, jawaban itu cukup membuat Widya yakin itu bukan yang sebenarnya. Tapi, perasaan merinding melihat jalanan setapak itu, nyata. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published.