KKN di Desa Penari Versi Lain: Belajar dari Kasus Cinta Lokasi Bima dan Ayu (21-Tamat)

MBAH Buyut akhirnya bercerita, siapa sebenarnya si Badarawuhi itu. “Badarawuhi iku ngunu ratune ulo. Bangsa lelembut sing titisan Aji Sapto. Balak’e ra isok ditolak opo maneh dimendalno. Mene isuk, tak coba’e ngomong apik-apik’an, wediku, koncomu ra isok balek urep-urep.”

(Badarawuhi itu ratunya ular, bangsa lelembut yang sudah tak terbendung, kutukanya, gak bisa di tolak apalagi sampai di buang, besok pagi, biar tak coba ngomong baik-baik, takutnya, temanmu tidak bisa kembali hidup-hidup).

Read More

Mbah Buyut pergi, Nur, Wahyu dan Anton melihat Widya sendirian di pawon, duduk, sembari termenung. “Goblok!! Bima karo Ayu asu!! kakean ngent*t!!” (bodoh!! Bima sama Ayu itu Anj*ng!! kebanyakan ngent*t).

Kalimat itu, yang mereka semua pikirkan malam itu. Meski yang di ucapkan Wahyu itu kasar, namun tidak ada yang keberatan dengan semua itu, terlebih, masalah ini sudah sampai ke pihak kampus, bahkan ke keluarga Bima dan Ayu.

Pak Prabu menceritakan bahwa kronologi kejadian ini sudah tidak bisa mereka bendung. KKN yang menjadi tanggung jawab beliau, harus sampai, ke semua orang yang terlibat. Awalnya Nur mencoba memohon agar masalah ini jangan sampai keluar dulu. Namun, hilangnya Widya, membuat Pak Prabu akhirnya menyerah dan memilih melaporkannya.

Lalu apa yang terjadi dengan Ayu dan Bima? Pagi itu, serombongan mobil datang. Mereka adalah keluarga sekaligus panitia KKN, yang sudah mendengar semua ceritanya dari Pak Prabu. Ayu masih terbaring, matanya melotot, namun tubuhnya masih seperti orang lumpuh. Bima, masih kejang-kejang.

Dan…. soal mobil, saya tidak paham. Intinya mereka dijemput paksa, KKN mereka dicoret, saya tidak bakal lanjutin akhir ceritanya saja ya, sama yang bersangkutan. Diselesaiin saja malam ini, biar saya bisa fokus kerja lagi.

Bima sama Ayu, cantik dan ganteng memang. karena itu saya berani gambarin fisiknya si Bima. Sebenarnya, proses penjemputan tidak semulus yang bakal saya tulis. Pihak keluarga Bima maupun Ayu, marah besar.

Mereka tidak terima anaknya dibikin seperti ini. Bahkan pihak kampus juga kena, karena kasusnya benar-benar hampir dibawa ke media nasional. Widya, Nur sampai harus mohon agar Ayu dan Bima dibiarkan tetap tinggal di sini, yang konon kata Mbah Buyut bisa saja balaknya diambil sewaktu-waktu.

Hanya saja, dari pihak keluarga Ayu dan Bima, tidak mau lagi. Mereka tetap membawa Ayu dan Bima. Hasilnya? Ayu hanya bisa tidur dengan mata terbuka terus menerus. Widya pernah diceritain oleh ibunya, bahwa kadang, ia melihat mata Ayu meneteskan air mata, tapi, setiap ditanya, dia hanya diam, tak menjawab.

Ayu akhirnya meninggal setelah 3 bulan dirawat. Abangnya, Ilham merasa bersalah, sampai hampir mau mengamuk di desa itu, namun, Pak Prabu pun sama, seharusnya sejak awal, saat Ayu memohon diizinkan KKN di sana, ia tegas menolak.

Alasanya, memang tempat itu tidak baik untuk di tinggali mereka yang masih bau kencur. Bima?? Bagaimana?? Meninggal juga, Malam sebelum dia meninggal, Bima berteriak minta tolong, tapi ketika ditanya, kenapa dan minta tolong apa?

Bima berteriak ular, ular, ular, ia meninggal lebih dulu dari Ayu, tubuhnya dikebumikan. Orang tuanya awalnya masih mau memperpanjang masalah ini dengan pihak kampus, tapi akhirnya di cabut, dengan catatan, KKN tidak lagi di adakan di timur Jawa lagi.

Sejak saat itu, kampus ini, hanya memperbolehkan KKN ke arah barat, tidak lagi timur, apalagi desa yang jauh. Ada hal yang bikin saya agak susah gambarin adalah, narasumber (Widya) disamarkan, setiap beliau bercerita, beliau hanya menceritakan intinya, dan saya harus ngatur ulang ceritanya agar nyambung.

Terlepas dari itu, saya inget, setiap dia cerita, tangannya gugup, seperti tidak mau mengulang peristiwa itu. Apapun itu, saya berharap cerita ini mengandung hikmah bagi kalian yang membacanya, untuk peserta KKN pun, sebenarnya bukan 6 orang, tapi 14 orang.

Saya perpendek untuk mempersingkat cerita beliau yang saling berkaitan satu sama lain untuk kesalahan, pengetikan, saya mohon maaf sebesar-besarnya. Memang benar, manusia itu merasa besar, padahal sesungguhnya ada kebesaran lain yang membuat manusia gak ada apa-apanya di balik kalimat kecil.

Di manapun kalian berada, junjung tata krama, saling menghormati, saling menjaga satu sama lain, dan senantiasa bersikap layaknya manusia yang beradab.

Sumber : SimpleMan (@SimpleM81378523)

Leave a Reply

Your email address will not be published.