KKN di Desa Penari Versi Lain: Hadiah Mengejutkan dari si Bapak Tua (15)

SEMUA orang telah menunggu kedatangan Widya dan Wahyu. “Tekan ndi seh?? kok suwe’ne” (darimana sih? kok lama sekali) kata Ayu. “Tekan Kota, belonjo keperluan kene” (dari kota, belanja keperluan kita).

Nur membuang muka melihat Widya, sudah biasa, kadang Nur memang seperti itu. Setelah dia menceritakan kejadian kemarin, ia tidak lagi mau membicarakan itu. Sekarang, dia sedikit menjauhi Widya, dan ia merasakan itu, sangat terasa.

Read More

Selagi suasana tegang itu, hanya Bima yang mencoba mencairkan suasana, “Wes ta lah, kok kaku ngene seh”(sudahlah, kok canggung gini). Bima menggandeng Widya, menyuruhnya masuk rumah, “Awakmu pegel kan” (kamu pasti capek kan).

Tidak beberapa lama, Wahyu sudah datang, ia masuk ke rumah, tanpa membuang-buang waktu, alih-alih ia istirahat, Wahyu dengan suara menggebu-gebu bercerita kalau baru saja mengalami kejadian tidak mengenakan atas insiden motor, sampai dibantu, orang kampung.

Tidak lupa, ia bercerita tentang penari yang ia temui, Kecantikanya, ia ceritakan semua. Bukan sambutan yang Wahyu dapat, tapi tatapan kebingunganlah yang pertama Wahyu lihat. “Ra onok deso maneh nang kene” (tidak ada desa lagi di sini) kata Bima.

Wahyu yang mendengar itu tidak terima. “Eroh teko ndi awakmu” (tau darimana kamu). “Aku wes sering nang kota yu,” (aku sudah sering ke Kota Yu).
“Prokerku onok hubungane ambek program hasil alam, dadi sering melu nang kota mabek wong-kene.”

(Prokerku berhubungan sama program hasil alam, jadi sering ikut ke kota sama orang sini) “sampe sak iki, aku rong eroh onok deso maneh nang kene” (sampai sekarang, aku belum nemuin satu lagi kampung di dekat sini).

“Ngomong opo, mbujuk” (bicara apa, nipu) kata Wahyu geram.
“Mas,” kata Nur, “Pancen ra onok deso maneh nang kene, kan wes tau di bahas” (Mas, memang gak ada lagi desa disini, kan sudah pernah di bahas dulu).

“Koen kabeh nek ra percoyo, tak dudui bukti, nek aku ketemu wong deso liane” (kalian kalau gak percaya tak kasih bukti kalau ada desa lain di sekitar sini).

Widya yang sedari tadi diam, tiba-tiba ditarik oleh Wahyu. “Takono ambek Widya nek ra percoyo” (tanya sama Widya kalau tidak percaya).

Widya masih diam, lama, sementara yang lain menunggu Widya berbicara, hal yang membuat Widya bingung adalah, kopi. Sadar atau tidak, Widya sempat merasakan aroma kopi yang manis itu di jajanan yang ia cicipi.

Rasanya sama persis. Karena tidak sabar, Wahyu membuka paksa tas Widya dan mengambil bingkisan itu, bukan koran lagi yang Wahyu temuin, namun, daun pisang yang terbungkus di jajanan pemberian bapak tua itu.

Tepat ketika Wahyu membuka bingkisan itu. Semua orang melihat isi di dalam bingkisan itu, berlendir, dan aromanya sangat amis. Tidak salah lagi, di dalam bingkisan itu adalah kepala monyet yang masih segar dengan darah di daun pisangnya.

Setelah kejadian malam itu. Wahyu mengurung diri dalam kamar, 3 hari lamanya. Kadang, ia masih tidak percaya dengan hal itu, tapi bila mengingat bagaimana kepala-kepala monyet itu jatuh dari tanganya, rasa mualnya akan kembali, membuat wahyu harus memuntahkan isi perutnya.

Widya hanya mengulang kalimat Mbah Buyut “jangan menolak pemberian tuan rumah” sejatinya, Wahyu dan Widya sudah benar, meski ia tahu semua itu ganjil. Mereka harus tetap mencicipinya, yang jadi masalahnya, hanya Widya yang sadar, bahwa yang menemani mereka bukanlah manusia.

Andai saja, Widya mengatakan keganjilan itu kepada Wahyu, menolak pertolongan mereka, menolak pemberian mereka, mungkin jalan cerita semua ini akan benar-benar berbeda.

Bisa saja, justru, penolakan seperti itu akan mendatangkan balak (bencana) bagi mereka. Apapun itu, Widya sudah mengerti satu hal, ada hubungan yang secara tidak langsung, tentang dirinya dan sang penari.

Malam itu, Widya baru selesai melihat prokernya yang dibantu beberapa warga desa. Ketika langit sudah gelap gulita, Widya menyusuri jalan setapak desa. Suara binatang malam mulai terdengar, ia terus berjalan sampai melihat rumah tempat mereka menginap.

Seharusnya yang lain sudah ada di rumah, entah mencicil laporan proker atau mungkin sejenak beristirahat. Anehnya, lampu petromaks yang seharusnya menyala di depan rumah, mati. membuat rumah itu terlihat lebih sunyi, kelam, dan mengerikan.

Seolah rumah itu memanggil namanya. “Wes biasa” batin Widya, memantapkan hatinya. Rumah ini memang masih terbilang baru bagi Widya dan yang lainya, namun, tempo hari, mendengar bahwa ada penunggu di belakang rumah.

Hal itu membuat Widya kadang tidak tenang, dan beberapa kejadian ganjil hampir pernah Widya alami. Hanya saja apa yang Widya alami, apakah juga mereka alami, hanya saja mereka menutupi dan lebih memilih diam.

Leave a Reply

Your email address will not be published.