KKN di Desa Penari Versi Lain: Melihat Hajatan di Tanah Lapang (14)

WIDYA menghentikan langkah kakinya, Wahyu yang melihat itu, tiba-tiba merasa ada sesuatu yang salah. Pasti. “Nek sampek awakmu kesurupan, bener-bener parah awakmu, gak isok ndelok sikonku nyurung montor ket mau.”

(kalau sampai kamu kesurupan, bener-bener keterlaluan kamu, apa gak bisa lihat kondisiku dari tadi sudah capek dorong motor dari tadi). Widya melihat Wahyu, mata mereka saling memandang satu sama lain.

Read More

“Yu, krungu ora? suara mantenan?” (Yu, dengar tidak? ada suara hajatan??). Bukan mau mengatakan Widya sinting, tapi, Wahyu juga mendengarnya, dan suara itu tidak jauh dari tempat mereka.

“Wid, eleng gak, jare wong dodol cilok, nek onok opo-opo lanjut ae” (Wid, inget gak kata penjual cilok, jangan berhenti walau ada apapun, kita lanjut saja). Seperti kata Wahyu, Widya melanjutkan perjalanan.

Semakin mereka berjalan, semakin keras suara itu, dan semakin lama, diiringi suara tertawa dari orang-orang yang sedang melangsungkan hajatan. Sampai, dilihatnya, janur kuning melengkung.

Widya melihat sebuah pesta, tepat di sebuah tanah lapang, samping jalan raya. Seperti sebuah area perkampungan, lengkap dengan orang-orangnya, juga panggung tempat musik didendangkan.

Wahyu dan Widya, terdiam cukup lama, seperti termenung memastikan bahwa yang mereka lihat, manusia. Tidak ada angin, tidak ada hujan, Wahyu dan Widya, tercekat saat ada orang tua bungkuk bertanya tiba-tiba tepat di samping mereka.

“Nopo le” (ada apa nak?) Suaranya halus sekali, sangat halus, “Sepeda’e mblodok?” (motornya mogok?). Wahyu dan Widya hanya mengangguk, pasrah.

Si orang tua memanggil anak-anak yang lebih muda, kemudian menuntun sepeda, menepi dari jalan raya. Tak lupa, si orang tua mempersilakan Wahyu dan Widya istirahat sebentar, sembari menunggu motornya dibetulkan.

Suasananya ramai. Semua orang sibuk dengan urusanya sendiri-sendiri. Ada yang bercanda, ada yang mengobrol satu sama lain, ada yang menikmati alunan gamelan yang di tabuh seirama, lengkap dengan si pengantin yang terlihat jauh dari tempat Wahyu dan Widya duduk.

“Aku ra eroh nek onok kampung nang kene?” (aku tidak tau ada kampung di sini?). Widya hanya diam saja, matanya fokus pada panggung, di depan penabuh gamelan masih ada ruang.

Acara apa yang akan mereka adakan dengan ruang seluas itu. Rupanya, pertanyaan Widya segera terjawab, dari jauh, tiba-tiba tercium aroma melati. Aroma yang familiar bagi Widya.

Diikuti serombongan orang, di hadapanya ada seorang penari. Ia dituntun naik ke atas panggung, kemudian, semua orang memandang pada satu titik, tempat penari mulai berlenggak lenggok di atas panggung.

Semua mata, seperti terhipnotis melihatnya. “Ayu’ne curr!!”(cantik sekali anj*ng!!) kata Wahyu. Bingung, apakah hanya perasaan saja, mata si penari beberapa kali mencuri pandang kepada Widya.

Ia seperti mengenal penari itu, tapi, tidak ada yang tau siapa si penari, sampai si bapak tua kembali, menawarkan makanan pada mereka. Wahyu yang mungkin lapar, melahap habis, mulai dari lemper sampai apem di hadapanya sembari bercakap-cakap sama si bapak tua.

Widya lebih suka melihat si penari, ia mampu membuat semua orang tertuju melihatnya, menatapnya dengan tatapan yang menghipnotis. Setelah si penari turun dari panggung, si bapak mengatakan, motor mereka sudah selesai, bisa dinaikin lagi, benar saja.

Motor mereka sudah bisa di pakai lagi, sebelum pergi, Wahyu dan Widya berpamitan. Mereka berterimakasih sudah mau menolong mereka yang kesusahan. Si bapak mengangguk, mengatakan mereka harus hati-hati.

Tidak lupa si bapak memberi bingkisan, menunjukkan isinya pada Wahyu dan Widya, itu adalah jajanan yang dihidangkan tadi, membungkusnya dengan koran. Widya menerimanya, mengucap terimakasih lagi, lalu lanjut pergi.

Tidak ada yang seheboh Wahyu, yang terus berbicara tentang cantiknya paras si penari. Kisaran usianya mungkin lebih tua dari mereka, namun, cara dia berdandan, bisa menutupi usianya sehingga dari jauh, kecantikanya terlihat begitu sulit di gambarkan.

Widya, lebih tertarik dengan kampung itu. demi apapun, sewaktu perjalanan, tidak ditemui satu kampungpun, jangankan kampung, warung saja tidak ada sama sekali. Namun, motor Wahyu benar-benar mereka betulkan.

Mereka tulus membantu tanpa meminta apapun, jadi, apa mungkin, hantu bisa membetulkan motor. Satu yang coba Widya yakini, mungkin, mereka tidak melihat kampung tadi saja, yang terpenting, di jalan setapak ini, Desa KKN mereka sudah semakin dekat.

Sesampainya di kampung, Wahyu pergi mengembalikan motor, sedangkan Widya sudah ditunggu oleh semua anak, mereka khawatir, berdiri menunggu di teras rumah.

Leave a Reply

Your email address will not be published.