KKN di Desa Penari Versi Lain: Racikan Kopi Ireng untuk Memanggil Lelembut (10)

SESEKALI memang Mbah Buyut terlihat menatap Widya, terkesan mencuri pandang. Hanya mencuri pandang saja, tidak lebih. Dengan suara serak, Mbah Buyut pergi ke dalam rumah.

Beliau kembali dengan 5 gelas kopi yang di hidangkan di depan mereka. “Monggo.” (silakan) kata beliau. Matanya memandang Widya. Melihat itu, Widya menolak, mengatakan dirinya tidak pernah meminum kopi.

Read More

Senyuman ganjil Mbah Buyut membuat Widya sungkan, yang akhirnya berbuntut ia meneguk kopi itu meski hanya satu tegukan. Kopinya manis, ada aroma melati di dalamnya.

Yang awalnya Widya hanya mencoba-coba tanpa sadar, gelas kopi itu sudah kosong. Tidak hanya Widya, semua orang ditegur agar mencicipi kopi buatan beliau, katanya “tidak baik menolak pemberian tuan rumah.” Semua akhirnya mencoba.

Berikutnya, Wahyu dan Ayu kaget setengah mati, sampai harus menyemburkan kopi yang ia teguk. Mimik wajahnya bingung, karena rasa kopinya tidak hanya pahit, tapi sangat pahit, sampai tidak bisa ditolerir masuk ke tenggorokan. Anehnya, Pak Prabu meneguk kopi itu biasa saja.

“Begini” kata mbah Buyut. Beliau menggunakan bahasa Jawa halus sekali, sampai ucapanya kadang tidak bisa dipahami semua anak. Ada kalimat, penari dan penunggu, yang lainya tidak dapat dicerna.

Ia menunjuk Widya, tepat di depan wajahnya. Mimik wajahnya sangat serius. Pak Prabu mendengarkan dengan seksama, lalu berpamitan pulang. Sebelum mereka pulang, Mbah Buyut memberi kunir, tepat di dahi Widya.

Katanya untuk menjaga Widya saja. Kunjungan itu sama sekali tidak diketahui tujuanya. Selama perjalanan, Pak Prabu bercerita, tentang kopi.

Kopi yang di hidangkan Mbah Buyut, adalah Kopi ireng yang diracik khusus untuk memanggil lelembut, demit dan sejenisnya. Bukan kopi untuk manusia. Mereka yang belum pernah mencobanya, pasti akan memuntahkanya.

Bagi lelembut dan sebangsanya, kopi itu manis sekali. Semua anak memandang Widya. Pak Prabu segera mengatakan hal lain. “Sepurane sing akeh nduk, sampeyan onok sing ngetut’i” (mohon maaf ya nak, kamu, ada yang mengikuti).

Selain mengatakan itu, Pak Prabu mengatakan tidak perlu takut, karena Widya tidak akan serta merta diapa-apakan. Hanya diikuti saja, yang lebih penting, Widya tidak boleh dibiarkan sendirian.

Harus selalu ada yang menemaninya, untuk itu, Pak Prabu punya gagasan. Mulai malam ini, mereka akan tinggal dalam satu rumah, hanya dipisahkan oleh sekat dari bambu anyam. Pak Prabu hanya meminta satu hal, jangan melanggar etika dan norma saja.

Pertemuan itu juga diminta untuk tidak diceritakan ke siapapun lagi, bahkan Nur, Anton dan Bima. Tempat tinggal mereka yang baru, tepat ada di ujung, cukup besar, dan bekas rumah keluarga yang merantau.

Hal itu sekaligus menjawab pertanyaan, kenapa jarang ditemui anak seumuran mereka di desa ini. Rupanya, kebanyakan anak-anak yang sudah akil balik, pasti pergi merantau. Di belakang rumah, ada watu item (batu kali) cukup besar, dengan beberapa pohon pisang, dan dikelilingi, daun tuntas.

Anton awalnya tidak setuju mereka pindah. Atmoser rumahnya yang memang tidak enak dan itu bisa terlihat dari luar, namun ini, perintah dari Pak Prabu. Setelah kejadian itu, Ayu sedikit menghindari Widya dan Widya paham akan hal itu.

Wahyu sebaliknya, ia mendekati Widya dan memberi semangat agar tidak mencerna mentah-mentah pesan orang tua itu. Di sini, Wahyu bercerita kejadian yang tidak ia ceritakan di malam kejadian itu.

“Wid, kancamu cah lanang iku, gak popo tah?” (Wid, temanmu yang cowok itu baik-baik saja kah?). “Maksud’e mas?” “Cah iku, ben bengi metu Wid, emboh nang ndi, trus biasane balik-balik nek isuk, opo garap proker tapi kok bengi?”

(temanmu itu, setiap larut malam keluar Wid, entah kemana, trus biasanya baru balik pagi, apa sedang mengerjakan prokernya tapi kok harus malam?)

“Ra paham aku mas” (gak ngerti aku mas). “Trus” kata Wahyu “Aku sering rungokno, cah iku ngomong dewe nang kamar” (aku sering denger anak itu ngomong sendirian di dalam kamar). “Ra mungkin tah mas” (gak mungkin lah mas).

“Sumpah!!” “Gak iku tok, kadang, cah iku koyok ngguyu-nggyu dewe, stress palingan” (gak cuma itu, kadang dia tertawa sendirian, gila kali anak itu). “Bima iku religius mas, ra mungkin aneh-aneh” (Bima itu religius, gak mungkin aneh-aneh).

Leave a Reply

Your email address will not be published.