KKN di Desa Penari Versi Lain: Seekor Anjing Hitam Menyelamatkan Widya (19)

SEPERTI menangkap angin, ada suara tangisan, namun tak ada wujud di manapun Widya mencari, tetapi, tempat sesunyi dan sesepi itu, masih terasa ramai bagi Widya, seperti ia di tatap dari berbagai sudut.

Widya melihat dari jauh, di bawah sanggar, ada sebuah gubuk, berpintu. Widya mendekatinya, namun enggan membukanya, ia mengelilingi gubuk itu. Dari dalam gubuk, terdengar suara Bima, diikuti suara perempuan mendesah.

Read More

Sangat jelas, namun Widya tidak bisa melihat apa yang ada di dalam sana. Leher Widya perlahan semakin berat, dan berat. Saat Widya masih bersusah payah mencari cara untuk melihat, nasib baik, Widya menemukan beberapa celah kecil untuk mengintip.

Widya menyaksikanya langsung, Bima, sedang berendam di Sinden (Kolam) di sekitarnya, ia di kelilingi banyak sekali ular besar. Melihat itu Widya kaget, dan parahnya, Bima menatap lurus ke tempat Widya mengintip. Semua ularnya sama, seperti yang Widya rasakan, mereka tahu, ada tamu tak diundang.

Melihat reaksi seperti itu, Widya berbalik dan lari pergi. Saat lari itulah, suara tabuhan gong diikuti suara kendang, terdengar lagi. Suara gamelan itu, terdengar keras, lengkap dengan suara tertawa yang bersahut-sahutan.

Widya melihat Sanggar kosong itu, dipenuhi semua yang tidak Widya lihat saat tiba di tempat ini. Dari ujung ke ujung, penuh sesak, banyak sekali yang dilihat Widya, ada yang melotot, dari yang wajahnya setengah, sampai yang tidak punya wajah.

Dari yang pendek, sampai yang tingginya setinggi pohon beringin. Mereka memenuhi Sanggar dan sekitarnya, Widya mulai menangis. Suara yang nyaris memenuhi telinga Widya dan hampir membuatnya gila itu tiba-tiba berhenti.

Widya melihat, di depannya, ada yang sedang menari. Tariannya hampir membuat semua yang ada di sana melihatnya. Di sana, Widya menyadari, yang menari itu Ayu, matanya Ayu sembab, seperti sudah menangis lama, tapi gelagat ekspresi wajahnya seperti menyuruh Widya lari, lari.

Tanpa tahu apa yang terjadi, Widya langsung lari, melewati kerumunan yang sedang melihat Ayu menari di sanggar. Widya memanjat tempat itu, menangis sejadi-jadinya. Sampai di jalan setapak, Widya mendengar anjing menggonggong.

Tidak beberapa lama, muncul anjing hitam keluar dari semak belukar. Setelah melihat Widya, anjing itu lari, Widya mengikuti anjing itu. Widya keluar dari jalan setapak itu. Ketika Subuh, terlihat dari langit yang kebiruan. Tapi rupanya, Widya salah.

Seorang warga desa, kaget bukan main melihat Widya, dia langsung lari sambil berteriak memanggil warga kampung. “Widya nang kene, iki Widya wes balik.” (Widya disini, anaknya sudah kembali). Bingung, hampir semua warga berhamburan memeluk Widya.

“Mrene ndok, mrene, awakmu sing sabar yo, awakmu kudu siap yo ambek berita iki” (ke sini nak, kesini, kamu yang sabar ya, kamu harus siap sama berita yang nanti kamu dengar).

Seorang ibu, memeluk Widya, di matanya ia seperti menahan nangis, Widya hanya gaguk, diam, tidak mengerti. Si ibu menggandeng Widya, Widya masih diam, seperti orang linglung, di jalan ramai warga desa yang mengikuti Widya.

Widya mencuri dengar dari mereka yang bicara di belakang. “Wes digoleki sampe Alas D**, jebule, Maghrib kaet ketemu arek iki, aku wes mikir elek” (sudah di cari sampai ujung *** gak taunya baru ketemu Maghrib anak ini, aku sudah mikir buruk).

Sehari semalam, Widya rupanya sudah menghilang. Saat Widya melihat rumah penginapan mereka, Widya melihat banyak sekali orang berkumpul dan saat mata mereka melihat Widya, semuanya hampir tercengang tidak habis pikir.

Mereka seperti melihat hantu, lalu, terlihat dari dalam, Pak Prabu keluar, wajahnya, mengeras melihat Widya. Mata Pak Prabu mendelik, melihat Widya. “Teko ndi ndok?” (dari mana kamu nak).

Widya tidak menjawab apa yang Pak Prabu tanyakan. Si ibu menenangkan Pak Prabu, sembari menggiring Widya masuk rumah. Widya mendengar Nur menjerit, menangis, seperti kesetanan.

Saat Widya masuk dan melihat apa yang terjadi. Widya melihat ruangan itu dipenuhi orang yang duduk bersila. Mereka mengelilingi 2 orang yang terbujur. Tubuhnya ditutup selendang, diikat dengan tali putih, menyerupai kafan.

Wahyu dan Anto menatap kaget saat Widya masuk. “Wid, teko ndi awakmu?” (darimana kamu Wid?) ucap Nur yang langsung memeluk Widya. “Onok opo iki Nur?” (ada Apa ini Nur).

Nur menutup mulutnya, tidak tau harus memulai dari mana, sampai Wahyu berdiri,”Ayu Wid, Nur lihat Ayu, tiba-tiba terbujur kaku, matanya tidak bisa ditutup”. Widya mendekati Ayu, di sampingnya ada Bima.

Bima terus menerus menendang-nendang dalam posisi terikat itu, layaknya seseorang yang terserang epilepsi. Matanya kosong melihat langit-langit. Keduanya terbaring tidak berdaya. Sontak Widya ikut menjerit. Sebelum ada yang menenangkan, dari pawon Mbah Buyut keluar.

Leave a Reply

Your email address will not be published.