KKN di Desa Penari Versi Lain: Warga Desa Melihat Penari Perempuan Tanpa Muka di Rumah KKN (12)

RASA takut menyelimuti diri Widya. Selang beberapa menit, bapak itu pergi meninggalkan tempat itu. Rasa lega, bapak itu pergi, Widya berniat kembali ke kamar, di sana ia melihat Anton, baru saja masuk rumah.

Mereka berpapasan, bodohnya, Widya tidak menceritakan hal itu kepada Anton dan anak lain, karena keesokan harinya, peristiwa yang sama itu, kembali terulang.

Read More

Di awali suara keras yang sama, Widya kembali mengintip. Kali ini, bapak itu lebih berani, ia melihat ke sana kemari, mendekati penginapan dan beberapa kali berusaha mengintip.

Dari gerak-geriknya, tampaknya bapak itu berniat buruk. Apa yang ingin dia cari di sini. Memikirkan hal itu, Widya tiba-tiba seperti baru ingat, ia hanya di rumah ini sendirian, seorang wanita. Sendirian di dalam rumah, dan seorang pria asing, mendekati rumah itu.

Apalagi kalau bukan….sesaat, ketika si bapak sudah berdiri di depan pintu pawon, suara itu mengejutkanya. Suara keras itu rupanya dari batu di belakang pawon. Keras sekali sampai membuat si bapak lari tunggang langgang.

Widya menyaksikanya sendiri, ada yang melempar batu cukup besar, tepat di Watu Item (batu kali) di belakang rumah, sehingga si bapak panik dan pergi. Widya ikut pergi. Widya melaporkanya pada Pak Prabu, yang ikut kaget mendengarnya.

Dicarilah si bapak itu, dan ketemu. Rupanya dia adalah warga desa sana. Ketika ditanya apa yang dia lakukan di rumah anak-anak KKN, bapak itu mengatakan sesuatu, yang entah benar atau tidak.

Ia melihat wanita dan wanita yang dilihat si bapak ini, mengenakan pakaian seperti dayang (penari), dan masuk rumah KKN itu. Karena beliau takut disangka melakukan hal-hal tidak baik, ia memeriksanya diam-diam, tapi, di hari di mana ia lari tunggang langgang.

Ia melihat sesuatu di pawon rumah, wanita sedang menari dengan anggun. Sesaat sebelum melihat wajahnya, si bapak kaget setengah mati, karena di balik gurat wajah wanita, yang di sangka terlihat jelita itu, rupanya polos.

Rata tak ada bentuk. Apa yang diucapkan si bapak memang tidak dapat dipercaya, namun Pak Prabu tidak punya bukti lebih jauh, maka hanya menegur agar tidak melakukan hal itu lagi. Si bapak pun pergi,

Tapi Pak Prabu mengatakan hal lain yang membuat Widya begidik ngeri, “Onok sing nyoba ngabari sampeyan mbak” (ada yang mencoba memberi pesan sama kamu mbak). “Sinten pak?” (siapa pak?).

“Mbah-mbah sing nunggu nang Watu Item” (kakek-kakek penjaga batu kali itu). Setelah kejadian itu, Widya diminta ke rumah Pak Prabu bila masih sakit.

Ada kejadian lagi, yang Widya alami, kali ini melibatkan Nur. Waktu itu, siang hari, Widya sedang mengerjakan prokernya yang sudah tertunda beberapa hari. Wahyu mendekati Widya, ia menawarkan kesempatan untuk keluar desa sementara karena harus membeli perlengkapan untuk progress kerjanya yang harus di beli di kota.

“Melu mboten?” (ikut gak?). “Adoh gak?” (jauh gak?)
“2 jam” kata Wahyu, “Aku wes izin Pak Prabu, oleh nyilih motor’e” (aku sudah ijin pak Prabu, boleh pinjem motornya). “Nggih pon, melu” (ya sudah, ikut).

Wahyu melihat jam di tanganya, pukul 11 lewat. Ia harus cepat menyelesaikan urusanya di kota, karena sesaat sebelum meminta izin, Pak Prabu sudah mewanti-wanti untuk sudah kembali sebelum hari petang.

Saat Wahyu menanyakan kenapa harus seperti itu, toh ada jalan setapak yang gampang ditelusuri untuk masuk ke hutan ini. Dengan wajah tidak tertebak, Pak Prabu, mengatakan : “Gak onok sing ngerti opo sing onok gok jero’ne Alas le” (tidak ada yang pernah tau apa yang tinggal di dalam hutan nak).

Mereka berangkat, menembus jalan setapak, lalu sampai di jalan raya besar, menyusurinya, jauh, sangat jauh. Sampai akhirnya mereka tiba di kota B. Di sana mereka berhenti di sebuah pasar, Wahyu dan Widya mulai mencari segala keperluan mereka.

Kurang lebih setelah 2 jam, mencari kesana kemari dan setelah mendapatkanya, mereka langsung cepat kembali. Wahyu berhenti di pom bensin, ia harus mengembalikan motornya dalam keadaan bensin full, etika ketika meminjam barang orang lain.

Jam sudah menunjukkan pukul 4, sudah terlalu sore, sejenak ia melihat Widya dari jauh. Ia berhenti tepat di samping penjual cilok, ketika Wahyu sampai di sana, ia membeli beberapa cilok, untuk Widya dan dirinya sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published.